Air dan Es Tenaga Surya untuk Nelayan Papagarang
Keterbatasan air bersih dan fasilitas pendingin mendorong nelayan Papagarang mengandalkan pasokan air dan es dari usaha Komodo Water serta mitra desalinasi tenaga surya untuk menjaga mutu ikan dan mengurangi sampah plastik.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Keterbatasan air bersih dan es masih mempengaruhi posisi tawar nelayan di Pulau Papagarang dan pulau-pulau kecil di sekitar Taman Nasional Komodo. Komunitas usaha air Komodo Water dan sejumlah mitra membangun solusi desalinasi berbasis tenaga surya untuk memasok air minum dan es balok bagi warga dan nelayan setempat.
Dokumen Swiss Re Foundation mengenai program fresh water supply for Indonesian fishing communities mencatat bahwa Komodo Water, yang dijalankan PT Tinamitra Mandiri, menawarkan pasokan air bersih dan es balok bagi komunitas nelayan di Pulau Papagarang dan pulau-pulau kecil di kawasan Taman Nasional Komodo. Komodo Water memanfaatkan sistem tenaga surya untuk mengolah air asin atau payau menjadi air minum dan memproduksi es balok.
Dalam materi yang dipublikasikan Swiss Re Foundation, nilai tawar nelayan disebut tertekan karena keterbatasan rantai dingin. Nelayan sulit menyimpan ikan dalam waktu lama sehingga sebagian tangkapan harus dijual lebih cepat dengan harga lebih rendah. Materi itu menyebut keterbatasan air tawar dan energi sebagai penghambat utama kepemilikan sistem pendingin di komunitas nelayan.
Rantai dingin dan akses air di Papagarang
Sejumlah sumber menggambarkan Papagarang sebagai pulau kecil di dalam kawasan Taman Nasional Komodo yang bergantung pada pasokan air dari luar pulau. Sebelum fasilitas desalinasi dan usaha air lokal berkembang, kebutuhan air bersih warga dipenuhi melalui pengiriman air dari daratan utama di Labuan Bajo dan sekitarnya dengan kapal. Biaya pengangkutan membuat harga air bersih relatif mahal bagi warga Papagarang.
Artikel Nazava dan dokumen teknis dari pengembang teknologi OSMOSUN menyebut proyek desalinasi tenaga surya pertama di Indonesia dibangun di Pulau Papagarang. Instalasi itu memanfaatkan energi surya untuk mengolah air laut atau payau menjadi air minum, dengan kapasitas produksi sekitar 5 meter kubik per hari dan menyasar sekitar 500 sampai 1.500 penduduk sesuai tahapan pengembangan. Sistem tersebut dirancang tanpa baterai agar biaya operasi lebih rendah.
Komodo Water, melalui Tinamitra Mandiri, menjalankan usaha air yang memasok air olahan kepada warga dan sebagai bahan baku es balok. Pendiri Tinamitra Mandiri, Shana Fatina, menyebut dalam sebuah forum bahwa penyulingan air di Pulau Papagarang telah berjalan sejak 2010 dengan produksi harian lebih dari 1.135 liter. Usaha itu lahir dari mahalnya harga air bersih di pulau tersebut.
Es balok untuk nelayan dan pengurangan plastik
Profil Komodo Water yang diterbitkan lembaga internasional menyebut perusahaan sosial ini memproduksi dan menjual air minum serta es balok kepada nelayan, pedagang ikan, dan kapal wisata dengan memanfaatkan teknologi reverse osmosis dan mesin es berbasis tenaga surya. Es balok dirancang lebih tahan lama dibanding es konvensional dan memungkinkan nelayan melaut lebih jauh sambil menjaga kesegaran ikan.
Dokumen penghargaan B20 Sustainability 4.0 mencatat program Komodo Water di Papagarang yang memasang mesin es tenaga surya tanpa kemasan plastik. Program berjudul Promoting Sustainable Fishery and Tourism by Decreasing Plastic Waste in Small Islands and Coastal Community itu menghasilkan sekitar 200 kilogram es per hari tanpa bungkus plastik serta mengolah 120 kilogram sampah plastik jenis HDPE menjadi produk daur ulang. Es tanpa kemasan plastik disebut membantu mengurangi sampah plastik di lingkungan pesisir.
Komodo Water juga mengembangkan model usaha yang melibatkan warga sebagai pemilik dan pengelola fasilitas air, termasuk melalui badan usaha milik desa di Papagarang. Model ini bertujuan memastikan harga air dan es lebih terjangkau, mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar pulau, dan menjaga manfaat ekonomi tetap berada di tingkat komunitas.
Dampak lebih luas bagi nelayan dan pariwisata
Sejumlah laporan tentang Komodo Water menyebut ketersediaan air bersih dan es balok berkontribusi pada pengurangan pemborosan ikan serta mendorong praktik penangkapan yang lebih berkelanjutan. Dengan es yang lebih mudah diakses, nelayan dapat memperpanjang masa simpan ikan dan mengurangi tangkapan yang harus dijual cepat dengan harga murah.
Komodo Water dan mitranya juga menautkan pengembangan fasilitas air dan es dengan upaya mengurangi penggunaan generator diesel, konsumsi bahan bakar fosil, serta emisi gas buang di pulau-pulau kecil. Penggunaan energi surya untuk desalinasi dan produksi es diposisikan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan bagi ekosistem Taman Nasional Komodo.
Menurut berbagai laporan lembaga pembangunan dan filantropi internasional, jaringan fasilitas Komodo Water telah berkembang ke beberapa lokasi pesisir di Nusa Tenggara Timur dan menjangkau puluhan ribu penerima manfaat. Papagarang menjadi salah satu lokasi awal pengembangan model usaha air dan es berbasis masyarakat bagi komunitas nelayan di kawasan tersebut.
Sumber
- Swiss Re Foundation – Tinamitra Mandiri: Fresh water supply for Indonesian fishing communities
- Journal of Indonesian Tourism and Policy Studies Vol. 7 No. 1 2022 – artikel tentang Papagarang
- Komodo Water – Mencari Solusi Sampah Plastik Bagi Nelayan Papagarang
- Nazava – First Solar Desalination Project in Indonesia (Papagarang)
- SEED – Komodo Water enterprise profile
- UNDP Multi-Partner Trust Fund – Expanding access to clean water to empower local communities in Indonesia
- B20 Sustainability 4.0 Awards Book – PT Tinamitra Mandiri (Komodo Water)
- Reciprocity Fund – Who we fund: Komodo Water
Berita berikutnya

Nanas Kampung Ndole Mulai Pasok Pasar Labuan Bajo
Nanas dari Kampung Ndole, Desa Golo Damu di Kecamatan Mbeliling, mulai memasok pasar Labuan Bajo melalui pedagang pengumpul.
Baca juga


