Warga Kesokoja Palue Masih Suling Air dari Uap Panas Bumi
Warga Desa Kesokoja, Kecamatan Palue, masih memanfaatkan penyulingan air dari uap panas bumi untuk kebutuhan sehari-hari. Dokumen daerah dan laporan RRI mencatat metode ini sudah lama dipakai, meski mutu air perlu verifikasi terbaru.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Warga Desa Kesokoja, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih memanfaatkan penyulingan air dari uap panas bumi untuk kebutuhan air bersih sehari-hari. Laporan lokal dan dokumen teknis pemerintah daerah menyebut metode itu sudah lama dipakai warga di Desa Kesokoja dan menghasilkan air yang dapat langsung diminum menurut pengukuran yang pernah dicatat.
RRI pada 9 September 2026 melaporkan penyulingan air Poa Nua Kaju di Dusun Edo, Desa Kesokoja, masih bertahan pascagempa. Laporan itu menyebut warga memanfaatkan sumber uap panas bumi sebagai cara memperoleh air minum di tengah keterbatasan air bersih di Palue.
Temuan serupa tercantum dalam dokumen Review RISPAM 2024-2044 milik Bapelitbang Kabupaten Sikka. Dokumen itu mencatat di Kesokoja ada titik pengambilan air hasil kondensasi uap panas dengan debit sekitar 15-20 liter per 12 jam dan keterangan bahwa air tersebut dapat langsung diminum, meski hasil pengukuran belum memenuhi standar air minum menurut Permenkes No 2 Tahun 2023.
Tradisi lama untuk menutup kekurangan air
Dalam dokumen akademik dan laporan daerah yang dirujuk pemerintah, sumber air bersih di Kecamatan Palue memang terbatas. Air dari uap panas bumi menjadi salah satu penopang penting ketika cadangan air hujan menipis, terutama pada musim kemarau.
Sejumlah catatan juga menunjukkan bahwa metode itu bukan barang baru. Di Kesokoja, warga telah lama menggunakan bambu untuk menyalurkan uap panas yang mengembun menjadi tetes air, lalu menadahnya sebagai air minum. Pola ini digambarkan dalam laporan media lokal dan kajian yang menginventarisasi sumber air di Palue.
Dokumen Bapelitbang menyebut air hasil kondensasi uap panas memiliki suhu sekitar 35,5 sampai 37,2 derajat Celsius, pH 9 sampai 9,4, TDS 8 sampai 11 ppm, dan DHL 34 sampai 38 mikrosiemens. Pada tabel inventarisasi, debitnya dicatat 15-20 liter per 12 jam untuk titik di Kesokoja.
Masih perlu verifikasi mutu air
Meski dapat langsung diminum menurut keterangan dalam dokumen tersebut, pengukuran yang dicatat juga menunjukkan air itu belum memenuhi standar air minum sesuai Permenkes No 2 Tahun 2023. Karena itu, pemanfaatannya lebih tepat dibaca sebagai solusi praktis masyarakat, bukan pengganti sistem air bersih yang teruji dan permanen.
Laporan RRI dan dokumen teknis daerah sama-sama tidak merinci ada tidaknya pengujian laboratorium terbaru, lembaga penguji, atau kontrol kualitas berkala atas air yang ditadah warga. Keduanya juga tidak menjelaskan kapasitas penyulingan untuk seluruh rumah tangga di Kesokoja.
Dalam publikasi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR pada Agustus 2026, pemerintah menyebut menyalurkan empat tandon air berkapasitas masing-masing 1.200 liter di Kecamatan Palue untuk warga terdampak gempa Flores. Informasi itu menunjukkan ada bantuan air bersih darurat, meski tidak menjelaskan apakah bantuan tersebut terhubung langsung dengan penyulingan uap panas bumi di Kesokoja.
Dengan demikian, yang dapat dipastikan dari sumber yang diperoleh ialah warga Kesokoja masih mengandalkan penyulingan air dari uap panas bumi sebagai cara memperoleh air minum, sementara data tentang kualitas air terbaru, kapasitas layanan, dan kesinambungan dukungan jangka panjang belum terurai rinci dalam sumber-sumber itu.
Sumber
Berita berikutnya
Ratusan Warga Nioniba Masih Tinggal di Tenda Pascagempa Flores
Sekitar 158 kepala keluarga dari Dusun Nioniba, Ende, masih tinggal di tenda pengungsian mandiri pada hari ke-23 setelah gempa Flores.

