Nelayan Riung Mulai Kembali Melaut Pascagempa Flores M7,7
Nelayan di pesisir Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, mulai kembali melaut secara bertahap setelah dua pekan menghentikan aktivitas akibat gempa Flores M7,7 dan peringatan dini tsunami.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Nelayan di pesisir Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, mulai kembali melaut secara bertahap setelah dua pekan menghentikan aktivitas akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir tetap harus disertai kewaspadaan terhadap informasi cuaca dan kondisi perairan.
Media Indonesia melaporkan, Direktur Pengelolaan Logistik dan Peralatan BNPB Bambang Surya Putra meninjau langsung wilayah pesisir Riung dan berdialog dengan para nelayan serta warga pada Rabu, 2 September 2026. Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Bambang, peringatan dini tsunami akibat gempa telah dinyatakan berakhir oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sehingga masyarakat pesisir, termasuk nelayan, dapat kembali beraktivitas secara bertahap dengan tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah.
BMKG dalam sejumlah siaran pers menjelaskan bahwa gempa bumi tektonik M7,7 terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB dengan kedalaman sekitar 15 kilometer dan episenter di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, Flores. Lembaga itu mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada pagi yang sama setelah pemantauan muka air laut menunjukkan tidak ada kenaikan signifikan yang membahayakan masyarakat di pesisir terdampak.
Pemulihan mata pencaharian nelayan
Dalam kunjungan ke Riung, Bambang Surya Putra menyampaikan bahwa situasi di laut telah dinilai relatif aman untuk kembali beraktivitas, namun nelayan diminta menjaga kewaspadaan dan terus memantau informasi resmi mengenai cuaca, kondisi perairan, dan potensi gempa susulan. Menurut dia, kepastian informasi dari lembaga berwenang diperlukan agar masyarakat tidak terus berada dalam ketakutan, sekaligus mendorong pemulihan mata pencaharian.
BNPB menilai kembalinya aktivitas ekonomi warga pesisir, termasuk kegiatan melaut, merupakan bagian penting dari penanganan pascabencana. Pemulihan tidak hanya menyangkut perbaikan infrastruktur dan bangunan yang rusak, tetapi juga keberlangsungan penghidupan sehari-hari masyarakat yang bergantung pada sektor perikanan tangkap.
BMKG dalam laporan intensitas guncangan mencatat bahwa Riung di Kabupaten Ngada termasuk wilayah dengan guncangan kuat saat gempa utama, sehingga perlu pemantauan terhadap bangunan dan fasilitas yang terdampak. Lembaga itu menyebut aktivitas gempa susulan memasuki fase peluruhan, tetapi tetap mengimbau masyarakat waspada terhadap bangunan rusak yang berpotensi membahayakan.
Peran pemerintah daerah dan tokoh masyarakat
Pemerintah daerah Ngada bersama BNPB mendorong kolaborasi dengan tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk mendukung proses pemulihan di wilayah pesisir Riung. Mereka diharapkan membantu menyampaikan informasi resmi terkait kebencanaan, menguatkan komunikasi dengan warga, dan menyerap masukan mengenai kebutuhan masyarakat setelah gempa dan tsunami.
BNPB menekankan pentingnya kesiapsiagaan berbasis komunitas di wilayah pesisir yang rentan bencana. Pemerintah pusat dan daerah didorong memperkuat sistem peringatan dini, jalur evakuasi, serta pendidikan kebencanaan agar nelayan dan warga pesisir dapat merespons cepat bila terjadi guncangan atau peringatan tsunami di masa mendatang.
Konteks gempa Flores M7,7
Menurut BMKG, gempa Flores M7,7 pada 15 Agustus 2026 memicu tsunami yang terpantau di sejumlah lokasi di Nusa Tenggara Timur dan beberapa provinsi lain, dengan ketinggian gelombang bervariasi. Peta intensitas guncangan menunjukkan dampak signifikan di wilayah Flores, termasuk Kabupaten Ngada dan daerah sekitarnya.
BMKG bersama kementerian dan pemerintah daerah menggunakan hasil survei lapangan dan pemantauan gempa susulan sebagai dasar perencanaan mitigasi dan rekonstruksi. Data tersebut menjadi rujukan bagi pemerintah dan BNPB dalam merancang langkah pemulihan, termasuk pemulihan mata pencaharian nelayan di Riung yang kini mulai kembali melaut dengan tetap mengutamakan keselamatan.
Sumber
Berita berikutnya
KemenPPPA Dampingi Anak Korban Dugaan Kekerasan Seksual di Pengungsian Gempa NTT
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memastikan seorang anak perempuan pengungsi gempa di Nusa Tenggara Timur yang diduga mengalam…
Baca juga




