PMKRI Sikka Desak Transparansi Bantuan Gempa dan Kasus Dokter Hewan
Sekitar 20 mahasiswa PMKRI Cabang Maumere menggelar aksi mimbar bebas di depan Stadion Gelora Samador, Maumere, menyoroti transparansi bantuan pascagempa di Kabupaten Sikka dan mendesak pengungkapan kasus penembakan atau pembunuhan dokter…
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Sekitar 20 mahasiswa DPC PMKRI Cabang Maumere Santo Thomas Morus menggelar aksi mimbar bebas di depan Stadion Gelora Samador, Maumere, Selasa, 15 September 2026. Mereka menyoroti transparansi bantuan pascagempa di Kabupaten Sikka serta mendesak pengungkapan kasus penembakan atau pembunuhan seorang dokter hewan asal Sikka.
Menurut laporan RRI, massa berangkat dari Sekretariat PMKRI Cabang Maumere sekitar pukul 15.45 WITA. Mereka melakukan long march melalui Jalan Diponegoro, Jalan Mgr. Soegyo Pranoto, Jalan Nong Meak, dan Jalan Gajah Mada sebelum tiba di kawasan stadion sekitar pukul 16.00 WITA.
Setibanya di lokasi aksi, mahasiswa menggunakan pengeras suara dan membawa bendera organisasi untuk menyampaikan aspirasi. Aksi berlangsung lebih dari dua jam dengan fokus pada pengawalan bantuan bencana, keterbukaan distribusi, dan penanganan perkara kematian dokter hewan tersebut.
Desakan transparansi bantuan
Dalam orasi, PMKRI menilai persoalan bantuan pascagempa tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan logistik bagi warga terdampak. Mereka menekankan pentingnya distribusi bantuan yang transparan, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Mahasiswa menyebut aksi mimbar bebas sebagai bentuk kontrol sosial terhadap negara. Menurut mereka, kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara perlu dibangun melalui keterbukaan informasi dan penanganan masalah publik secara serius, termasuk tata kelola bantuan bencana.
Selain soal bantuan, PMKRI mendesak negara menunjukkan keseriusan dalam mengungkap dan menangani kasus penembakan atau pembunuhan dokter hewan asal Kabupaten Sikka. Mereka berharap proses hukum berjalan profesional, memberikan kepastian hukum, dan menjawab tuntutan keadilan masyarakat.
Pengamanan aksi
Aksi tersebut mendapat pengamanan dari Polres Sikka. Menurut keterangan Humas Polres Sikka, aparat kepolisian hadir untuk mengawal jalannya mimbar bebas PMKRI Maumere agar tetap aman dan kondusif.
Polisi menerapkan pendekatan preventif dan humanis selama kegiatan. Pengamanan difokuskan pada kelancaran arus lalu lintas di sekitar Stadion Gelora Samador dan antisipasi potensi gangguan keamanan.
Aksi berakhir sekitar pukul 18.15 WITA. Setelah menyampaikan orasi, massa membubarkan diri dan kembali ke Sekretariat PMKRI. Kegiatan dilaporkan berlangsung aman tanpa gangguan menonjol.
Konteks bantuan gempa
Aksi PMKRI berlangsung di tengah rangkaian penyaluran bantuan pascagempa di Kabupaten Sikka. Sebelumnya, Polres Sikka mengawal distribusi bantuan logistik gempa melalui jalur laut dan darat, termasuk pengamanan di Pelabuhan Laurentius Say, Pelabuhan Feri Kewapante, gudang Cosik, dan Bandara Frans Seda.
Berbagai institusi, termasuk pengadilan negeri dan organisasi sosial, juga menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak gempa di Sikka dan Pulau Palue. Dalam konteks ini, PMKRI mendorong agar seluruh proses penyaluran bantuan dibuka kepada publik dan dikawal secara kritis.
Melalui aksi mimbar bebas di Maumere, PMKRI Cabang Maumere Santo Thomas Morus menempatkan transparansi bantuan gempa dan pengungkapan kasus kematian dokter hewan asal Sikka sebagai bagian dari tuntutan akuntabilitas aparat penegak hukum dan pemerintah.
Sumber
Berita berikutnya
Rumah Kontrol PLTS Lopijo Heawea Terbakar, Listrik Desa Padam
Rumah kontrol daya PLTS di Kampung Lopijo, Desa Heawea, Kecamatan Aimere, Ngada, terbakar Selasa, 15 September 2026, sekitar pukul 11.00 Wita.
Baca juga


