Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Kasus Bunuh Diri Pelajar dan Jeritan Sunyi Lamaholot

Seorang siswi SMA berusia 17 tahun di Witihama, Adonara, meninggal dengan cara gantung diri pada Februari 2026.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan Bajo — Seorang siswi SMA berusia 17 tahun di Kecamatan Witihama, Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dilaporkan meninggal dengan cara gantung diri pada Februari 2026. Pemberitaan mengenai kasus ini dan sejumlah peristiwa lain di Lamaholot mengangkat kembali persoalan kesehatan mental remaja dan ketiadaan data terbuka mengenai bunuh diri di Flores Timur.

Liputan salah satu media nasional menyebut korban berinisial MABB, warga Desa Pledo, Witihama, yang ditemukan tewas tergantung di kamar tidur rumah pada Senin, 16 Februari 2026, menggunakan tali nilon berwarna putih, dengan keterangan kronologi dari kepolisian setempat.

Media tersebut juga mengutip keluarga yang menyatakan korban sering menyendiri sebelum kejadian, menjadi lebih pendiam, dan menjaga jarak dari pergaulan di sekitar rumah.

Remaja dan beban yang tidak tersampaikan

Tulisan opini di Flores Pos berjudul "Jeritan Sunyi di Tanah Lamaholot" menempatkan peristiwa di Witihama dalam rangkaian sejumlah kasus bunuh diri di Flores Timur antara 2021–2026. Menurut tulisan itu, kasus-kasus tersebut dibaca sebagai tanda kerentanan struktur sosial dan menyempitnya ruang aman bagi warga untuk menyampaikan beban yang mereka hadapi.

Flores Pos mengisahkan keluarga melihat perubahan perilaku pada korban di Witihama sebelum ditemukan meninggal di kamar tidurnya. Perubahan ini dikaitkan dengan pentingnya kewaspadaan terhadap tanda tekanan psikologis di lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas.

Opini lain mengenai Nusa Tenggara Timur menyoroti bahwa kasus bunuh diri anak dan remaja di wilayah ini kerap muncul tanpa diikuti percakapan yang cukup tentang layanan dukungan psikologis, akses konseling, dan mekanisme rujukan di tingkat lokal.

Dalam konteks Adonara dan Solor, Flores Pos menyebut sekurangnya dua peristiwa yang melibatkan pelajar: siswi SMP kelas IX di Solor Selatan pada Januari 2022 dan siswi SMA berusia 17 tahun di Witihama pada Februari 2026. Rangkaian ini dibingkai sebagai jeritan sunyi Lamaholot yang belum terjawab oleh kebijakan sosial.

Data publik dan tanggapan berwenang

Flores Pos mengacu pada catatan media dan laporan pihak berwenang yang menyebut adanya sejumlah kasus bunuh diri di Flores Timur dalam kurun 2021–2026. Namun tulisan itu tidak memuat angka rinci maupun tautan ke dokumen resmi yang merinci kasus per tahun, usia, kecamatan, dan jenis kelamin korban.

Dalam pemberitaan nasional tentang kasus MABB di Witihama, polisi lokal memberikan keterangan tentang kronologi dan tindakan awal, tetapi belum ada penjelasan yang lebih luas mengenai pola, faktor risiko, atau program pencegahan bunuh diri yang khusus menyasar pelajar di Flores Timur.

Di tingkat nasional, beberapa lembaga negara dan pakar menyerukan agar pemerintah memperkuat perlindungan sosial dan layanan kesehatan jiwa setelah muncul rangkaian kasus bunuh diri anak di NTT dan sejumlah daerah lain. Seruan ini menekankan perlunya ruang dialog di sekolah, layanan konseling yang mudah diakses, serta data agregat yang transparan untuk menyusun kebijakan.

Seruan tersebut relevan bagi Flores Timur dan wilayah Lamaholot. Keterbatasan data terpublikasi mengenai bunuh diri di kabupaten ini membuat skala persoalan sulit dibaca publik. Tanpa angka resmi dan pemetaan faktor risiko, peristiwa seperti di Witihama dan Solor berpotensi dipandang sebagai kejadian terpisah, bukan sebagai bagian dari masalah kesehatan mental yang memerlukan penanganan sistematis.

Konteks Lamaholot

Flores Pos menggarisbawahi bahwa deretan kasus bunuh diri di Lamaholot tidak dapat dilihat sebatas statistik. Tulisan itu mengaitkan kematian pelajar di Solor Selatan dan Witihama dengan tekanan sosial dan ekonomi di wilayah kepulauan, perubahan relasi keluarga, serta minimnya ruang aman bagi remaja untuk menyuarakan kesulitan.

Opini lain tentang kasus-kasus bunuh diri anak di NTT menyoroti faktor kemiskinan, tekanan biaya pendidikan, dan perundungan sebagai risiko yang muncul berulang, sekaligus menuntut kehadiran negara untuk menyediakan perlindungan dan layanan dukungan.

Meski demikian, bahan yang tersedia tidak menunjukkan adanya pernyataan resmi pemerintah daerah Flores Timur yang secara khusus menanggapi deretan kasus bunuh diri di Lamaholot. Informasi tentang program konseling di sekolah, layanan kesehatan jiwa di puskesmas, maupun mekanisme rujukan di tingkat desa belum tampak dalam pemberitaan yang dirujuk.

Tanggung jawab bersama

Kematian remaja di Witihama dan pelajar di Solor Selatan menandai perlunya perhatian lebih terhadap kesehatan mental di Flores Timur. Keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah daerah memegang peran penting untuk membaca tanda-tanda tekanan psikologis, membuka ruang percakapan yang aman, serta mendorong akses ke bantuan profesional.

Mengangkat kasus-kasus ini ke ruang publik bukan untuk mengeksploitasi duka, melainkan untuk memastikan bahwa remaja di wilayah kepulauan dan perdesaan tidak kehilangan akses terhadap perhatian, pendampingan, dan perlindungan. Tanpa itu, jeritan sunyi Lamaholot berisiko terus berulang dalam senyap.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.