Dua Bandara di NTT Ditutup Imbas Erupsi Ili Lewotolok
Bandara Wunopito di Lewoleba dan Bandara Gewayantana Larantuka ditutup sementara pada 10 September 2026 akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Ili Lewotolok yang mengganggu ruang udara penerbangan dan memaksa penumpang mencari jalur…
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Dua bandara di Nusa Tenggara Timur, yakni Bandara Wunopito di Lewoleba, Kabupaten Lembata, dan Bandara Gewayantana di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, ditutup sementara pada Kamis, 10 September 2026, akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Ili Lewotolok yang mengganggu ruang udara penerbangan.
Penutupan kedua bandara didasarkan pada pemberitahuan keselamatan penerbangan atau Notice to Airmen (NOTAM) yang diterbitkan otoritas navigasi penerbangan untuk menjaga keselamatan operasi pesawat.
Kepala Bandara Wunopito Lewoleba, Sudarmana, menyatakan operasional penerbangan di bandara tersebut sudah ditutup sementara sejak Selasa, 1 September 2026, karena abu vulkanik dari erupsi Ili Lewotolok mulai mengarah langsung ke kawasan bandara.
Menurut pemberitaan media nasional, penutupan Wunopito awalnya dilakukan melalui NOTAM yang menyatakan bandara berstatus closed pada 8–9 September 2026 dan kemudian diperpanjang hingga 10 September 2026 mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan pembaruan NOTAM.
Sementara itu, Kepala Kantor UPBU Kelas III Gewayantana Larantuka, Puguh Lukito, menjelaskan bahwa penutupan Bandara Gewayantana dilakukan karena sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Ili Lewotolok telah menutupi ruang udara di sekitar bandara sehingga membahayakan penerbangan.
Penutupan Bandara Gewayantana berdampak pada puluhan penumpang yang seharusnya terbang pada rute Larantuka–Kupang maupun sebaliknya. Sebagian penumpang memilih mencari jalur alternatif melalui bandara lain di Flores, seperti Maumere dan Ende.
Aktivitas erupsi dan zona bahaya
Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata pada 10 September 2026 tercatat mengalami beberapa kali erupsi dengan kolom abu yang menjulang ratusan meter di atas puncak kawah.
Dalam keterangan petugas Pos Pengamatan Gunung Api, erupsi pada tanggal tersebut melontarkan abu setinggi sekitar 400 hingga 600 meter di atas puncak, dengan aktivitas kegempaan letusan yang meningkat signifikan.
Status gunung api Ili Lewotolok pada periode itu berada pada Level II atau Waspada, sehingga otoritas kebencanaan meminta warga mematuhi jarak aman dari kawah dan memperhatikan potensi sebaran abu ke permukiman dan jalur transportasi.
Dengan mempertimbangkan arah angin dan intensitas erupsi, sebaran abu vulkanik tidak hanya dirasakan di desa-desa sekitar lereng, tetapi juga mempengaruhi jalur penerbangan di Lembata dan Flores Timur.
Dampak terhadap penerbangan
Penutupan Bandara Wunopito dan Bandara Gewayantana menunjukkan dampak langsung aktivitas Ili Lewotolok terhadap konektivitas udara di wilayah Lembata dan Flores Timur.
Keputusan penutupan diambil untuk menghindari gangguan jarak pandang dan risiko kerusakan mesin pesawat jika menghisap partikel abu yang melayang di udara.
Otoritas bandara dan navigasi udara menyatakan penilaian terhadap kondisi abu vulkanik serta pembaruan NOTAM dilakukan secara berkala. Pembukaan kembali operasional bandara akan menyesuaikan hasil pemantauan sebaran abu dan rekomendasi keselamatan penerbangan.
Bagi masyarakat di Lembata dan Flores Timur, penutupan sementara ini berdampak pada akses transportasi udara, namun menjadi bagian dari langkah mitigasi risiko di tengah peningkatan aktivitas erupsi Ili Lewotolok.
Sumber
Berita berikutnya

DPRD Manggarai Timur Minta Dana BTT Rp20 Miliar Dioptimalkan
DPRD Manggarai Timur meminta pemerintah kabupaten mempercepat pendataan rumah rusak dan mengoptimalkan dana BTT Rp20 miliar untuk mendukung pemulihan…
Baca juga


