Flores: Pemulihan Pendidikan Anak Pascagempa Masih Bergantung pada Tenda
Pemulihan pendidikan pascagempa di Flores masih bergantung pada tenda, ruang belajar sementara, dan pendampingan psikososial. Ribuan satuan pendidikan belum sepenuhnya kembali ke kelas normal.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Pemulihan pendidikan pascagempa di Flores tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan sekolah. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan ribuan satuan pendidikan masih belajar dalam moda darurat, sementara dukungan psikososial juga menjadi bagian dari pemulihan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyebut 1.960 satuan pendidikan di wilayah terdampak gempa Flores masih melaksanakan pembelajaran di tenda, ruang terbuka, atau ruang kelas sementara. Lembaga itu juga mencatat 487 satuan pendidikan lain sudah kembali belajar tatap muka secara normal setelah bangunannya dinyatakan aman.
Dalam penanganan awal, kementerian telah mendistribusikan 100 tenda kelas darurat ke tujuh kabupaten terdampak. Tahap berikutnya mencakup penyediaan 672 ruang kelas sementara, yang menurut kementerian dirancang lebih tahan cuaca dan dapat digunakan selama masa pemulihan sekolah permanen.
Ruang belajar dan pemulihan psikologis
Pelaksana tugas yang menangani pemulihan pendidikan di Flores menilai ruang belajar darurat penting untuk menjaga kegiatan belajar tetap berjalan. Sejumlah media lokal juga melaporkan bahwa pembelajaran darurat berlangsung di tenda, ruang terbuka, dan kelas sementara, dengan tujuan menjaga hak anak untuk tetap belajar setelah gempa.
Di saat yang sama, pemulihan pendidikan juga diarahkan pada kebutuhan psikososial warga sekolah. Kementerian mencatat 857 satuan pendidikan dengan 101.888 peserta didik membutuhkan pendampingan psikososial. Dukungan itu sudah diberikan di 75 sekolah bersama berbagai mitra.
Pendampingan tersebut ditujukan agar murid dan guru bisa kembali mengikuti kegiatan belajar dengan lebih stabil setelah mengalami guncangan bencana. Pemerintah provinsi juga disebut mengalokasikan dana untuk program psikososial bagi guru dan tenaga kependidikan.
Tantangan masa darurat
Dalam praktiknya, ruang belajar darurat bukan hanya soal mendirikan tenda. Kementerian menekankan kebutuhan ruang yang lebih layak, tahan hujan, dan bisa dipakai konsisten selama masa transisi menuju sekolah permanen.
Sejumlah sekolah dan masyarakat juga membangun ruang belajar sementara secara swadaya menggunakan bahan lokal. Langkah itu menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan di daerah terdampak bergantung pada kecepatan bantuan, kesiapan guru, dan ketersediaan fasilitas belajar yang memadai.
Karena itu, tenda belajar dipahami sebagai jembatan, bukan tujuan akhir. Saat bangunan sekolah belum sepenuhnya pulih, keberlanjutan pembelajaran tetap menentukan apakah anak-anak dapat kembali ke ritme belajar dan merasa aman di lingkungan sekolah.
Esai Flores Pos yang terbit pada 12 September 2026 menempatkan rumah, tenda, dan sekolah sebagai satu rangkaian pemulihan bagi anak setelah gempa. Kerangka itu sejalan dengan kebijakan pemulihan pendidikan yang menempatkan ruang belajar darurat dan pendampingan psikososial sebagai dua unsur yang saling melengkapi.
Dengan demikian, pemulihan pascagempa di Flores tidak selesai pada perbaikan fisik semata. Anak-anak tetap membutuhkan guru, ruang belajar yang aman, perlengkapan belajar, serta dukungan psikologis agar pendidikan mereka tidak terputus oleh bencana.
Sumber
Berita berikutnya

Tiga Batas Jurnalisme Pascagempa Flores Menurut Walburgus Abulat
Dua tulisan opini di Flores Pos awal September 2026 mengajak media menilai ulang cara meliput gempa tektonik Flores.
Baca juga


