Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Unipa Maumere Dorong Pusat Riset Kebencanaan Pascagempa Flores

Universitas Nusa Nipa Maumere mendorong pembentukan pusat riset kebencanaan setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores dan memicu kolaborasi dengan Universitas Padjadjaran dalam penanganan dampak bencana.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: The taxis used in Flores, Guatemala.
Foto arsip: The taxis used in Flores, Guatemala. · Foto: ryanacandee / Wikimedia Commons, CC BY 2.0

Labuan Bajo — Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere mendorong pembentukan pusat riset kebencanaan untuk mengkaji risiko bencana di Flores dan menghasilkan langkah praktis bagi masyarakat setelah gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah itu pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Gagasan tersebut disampaikan Rektor Unipa, Dr. Jonas K.G.D. Gobang, dalam program Flores Bicara bertajuk “Membangun Ketangguhan Pascagempa Flores: Kolaborasi UNIPA–UNPAD untuk Bangkit dan Pulih” di studio TribunFlores.com, Sabtu, 12 September 2026.

Pusat riset kebencanaan yang didorong Unipa diharapkan dapat mengkaji berbagai risiko bencana di Flores dan menerjemahkan hasil kajian menjadi rekomendasi serta tindakan yang dapat diterapkan masyarakat.

Menurut laporan TribunFlores.com, gagasan tersebut muncul setelah Unipa berkolaborasi dengan Universitas Padjadjaran (Unpad) dalam penanganan gempa Flores.

Belajar dari pengalaman Unpad

Rektor Unipa menjelaskan bahwa pengalaman Unpad menjadi salah satu rujukan karena perguruan tinggi tersebut telah memiliki pusat riset kebencanaan.

Ia menilai Unipa perlu membangun lembaga serupa agar perguruan tinggi di Flores dapat memperkuat perannya dalam menghadapi risiko bencana.

Dalam program Flores Bicara, Gobang menekankan bahwa pusat riset tidak cukup hanya menghasilkan kajian akademik.

Hasil penelitian juga perlu melahirkan rekomendasi dan tindakan praktis yang membantu masyarakat beradaptasi dengan kondisi wilayah yang memiliki berbagai potensi bencana.

Flores menghadapi lebih dari satu jenis ancaman bencana.

TribunFlores.com mencatat bahwa dalam diskusi tersebut dibahas risiko gempa bumi, letusan gunung api, dan tanah longsor yang dapat mengancam masyarakat di berbagai wilayah Flores.

Gempa Flores 2026 sebagai momentum

Gempa tektonik bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer.

BMKG melaporkan gempa ini memicu tsunami dan menimbulkan kerusakan di sejumlah wilayah, antara lain Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Sikka, termasuk Maumere.

Dalam beberapa publikasi, BMKG dan media nasional menyebut gempa Flores 2026 sebagai salah satu gempa terbesar yang pernah tercatat di kawasan Flores dan menggarisbawahi pentingnya pemetaan risiko serta mitigasi bencana.

Bagi Unipa Maumere, peristiwa ini menjadi momentum untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.

Menghubungkan riset dan ketangguhan masyarakat

Dalam diskusi Flores Bicara, narasumber dari Unpad menekankan bahwa ketangguhan masyarakat tidak dibangun setelah bencana terjadi, melainkan melalui pengetahuan, latihan, dan kesiapsiagaan sejak sebelum bencana.

Contoh yang diangkat adalah praktik di Jepang, di mana latihan kebencanaan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan anak-anak sekolah serta orang tua memahami langkah yang harus diambil saat dan setelah gempa.

Pendekatan serupa dinilai dapat diadaptasi di Indonesia melalui penguatan pendidikan kebencanaan, termasuk pemanfaatan kegiatan seperti pramuka untuk mengajarkan keterampilan bertahan hidup.

Pusat riset kebencanaan yang didorong Unipa berpotensi menjadi penghubung antara penelitian kampus dan pendidikan serta latihan di tingkat masyarakat.

Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi lain dan lembaga seperti BMKG, pusat riset dapat mendukung pemetaan risiko, penyusunan rekomendasi mitigasi, dan pengembangan program yang memperkuat kesiapsiagaan warga di wilayah rawan bencana di Flores.

Rektor Unipa menegaskan bahwa tujuan pembentukan pusat riset kebencanaan adalah agar hasil kajian tidak berhenti di ruang akademik, melainkan nyata membantu masyarakat beradaptasi dan pulih setelah bencana.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.