Kunjungan ke Beo Mano Naik Hampir 50 Persen Pascagempa
Kunjungan wisatawan ke Beo Mano, Manggarai Timur, meningkat hingga hampir 50 persen pada Agustus–September 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, menurut Pokdarwis.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Labuan Bajo — Kunjungan wisatawan ke Beo Mano, Kelurahan Mandosawu, Kabupaten Manggarai Timur, meningkat hingga hampir 50 persen pada Agustus–September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Beo Mano, Denny, dalam wawancaranya yang dimuat RRI.
Dalam laporan tersebut, Denny menyebut kunjungan wisatawan ke Beo Mano tetap stabil saat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 dan periode pascagempa, lalu menunjukkan tren meningkat pada September dibandingkan tahun lalu.
Perbandingan yang disampaikan masih berupa persentase, yakni kenaikan volume kunjungan hingga hampir 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya, tanpa rincian jumlah wisatawan atau metode pencatatan kunjungan.
Destinasi alternatif pascagempa
Denny menilai Beo Mano menjadi salah satu destinasi alternatif bagi wisatawan setelah sejumlah objek wisata di Flores ditutup sementara untuk pemeriksaan keamanan pascagempa.
Menurut keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), beberapa destinasi unggulan Pulau Flores ditutup sementara untuk memastikan keselamatan wisatawan dan pemulihan kelayakan infrastruktur, antara lain Goa Rangko di Kabupaten Manggarai Barat, Kampung Adat Wae Rebo di Manggarai, dan Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende.
Dalam keterangan BNPB yang dikutip media, penutupan sementara dilakukan sebagai bagian dari langkah kehati-hatian sambil menunggu proses pemeriksaan dan verifikasi kondisi lapangan. Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menyebut sebagian destinasi di Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ende, dan Sikka masih menerapkan penutupan sementara, sementara aktivitas pariwisata di destinasi lain mulai berangsur pulih.
Menurut Denny, pemberitahuan penutupan di beberapa lokasi membuat wisatawan mencari tempat lain yang tetap dapat dikunjungi, dan Beo Mano menjadi salah satu pilihan dalam perjalanan wisata di Flores.
Karakter Beo Mano dan minat wisatawan
Beo Mano menawarkan kampung adat dengan kawasan compang yang dikelilingi rumah-rumah adat, lanskap alam, dan atraksi yang memadukan panorama dengan nilai budaya, menurut keterangan Pokdarwis yang dikutip RRI.
Denny menyebut sejumlah wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa, tertarik memperhatikan konstruksi rumah tradisional di kawasan tersebut, termasuk penggunaan fondasi, besi, kayu, dan bambu, dan membandingkannya dengan bangunan di negara asal mereka.
Pengalaman menghadapi gempa dan melihat bangunan tradisional yang dinilai adaptif terhadap kondisi setempat disebut menjadi bagian dari daya tarik kunjungan ke Beo Mano.
Pemulihan pariwisata dan UMKM
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores mencatat bahwa aktivitas pariwisata di Flores berangsur pulih pascagempa, namun sejumlah destinasi masih ditutup sementara untuk alasan keselamatan.
BPOLBF mengingatkan wisatawan untuk memeriksa status destinasi yang akan dikunjungi, memastikan akomodasi di wilayah terdampak, dan mengikuti arahan pengelola destinasi serta otoritas terkait selama berada di lokasi wisata.
Denny berharap peningkatan kunjungan ke Beo Mano dapat diikuti percepatan pemulihan dan dukungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang bergantung pada sektor pariwisata di Manggarai Timur, agar dampak ekonomi dirasakan langsung oleh warga.
BPOLBF membuka layanan informasi publik mengenai kondisi pariwisata pascagempa melalui kanal resmi, untuk membantu wisatawan dan masyarakat memperoleh informasi terkini tentang status destinasi dan perkembangan pemulihan sektor pariwisata di Labuan Bajo Flores.
Konteks gempa dan penutupan destinasi
Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 menyebabkan kerusakan rumah penduduk dan sejumlah daya tarik wisata, dengan Manggarai Timur tercatat sebagai salah satu wilayah yang paling terdampak menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur.
BNPB melaporkan sedikitnya delapan objek daya tarik wisata mengalami kerusakan ringan, dan beberapa destinasi unggulan Pulau Flores ditutup sementara, termasuk Taman Nasional Kelimutu yang menutup kegiatan wisata mulai 16 Agustus 2026 untuk mengantisipasi keselamatan wisatawan setelah terjadi longsor di salah satu tebing kawah.
Di tengah penutupan sementara sejumlah destinasi, laporan Pokdarwis dan BPOLBF menunjukkan bahwa sebagian destinasi lain tetap beroperasi dan mulai pulih, dengan Beo Mano muncul sebagai salah satu pilihan alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke Flores.
Sumber
- RRI Ende - "Jadi Destinasi Alternatif Pascagempa, Kunjungan Wisata ke Beo Mano Melonjak"
- MerahPutih - "Dampak Gempa di NTT, Kawasan Wisata di Flores Ditutup Sementara"
- Harian Jogja - "BNPB Tutup Sementara 3 Wisata Unggulan Flores Pascagempa M7,7"
- BPOLBF - "Aktivitas Pariwisata Flores Berangsur Pulih Pascagempa, Keselamatan Wisatawan Tetap Jadi Prioritas"
- Flores Inside - "Pascagempa Flores, Pariwisata Mulai Pulih, BPOLBF Ingatkan Wisatawan Utamakan Keselamatan"
- Vietnam.vn - "Indonesia mengaktifkan sembilan pusat medis darurat setelah gempa bumi di Flores"
- Disway.id - "Gempa NTT, Wisata Danau Kelimutu Ditutup Sementara Akibat Longsor Tebing Kawah"
Berita berikutnya

Dua Nelayan Sikka Hilang Kontak Saat Berlayar ke Pulau Karumpa
Dua nelayan asal Sikka, Ahmad Junaidi dan Jiar Junaidi Mendome, dilaporkan hilang kontak saat berlayar menuju Pulau Karumpa sejak 18 September 2026. T…
Baca juga


