Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Frater Leonardus Wafat Usai Lompat Saat Gempa M 7,7 Flores

Frater Leonardus Noprianto Waku, calon imam asal Labuan Bajo, meninggal di RSUD TC Hillers Maumere pada Rabu, 19 Agustus 2026, setelah cedera berat akibat melompat dari lantai atas asrama Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret saat gempa M…

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Labuan BajoFrater Leonardus Noprianto Waku, calon imam asal Labuan Bajo, meninggal dunia di RSUD TC Hillers Maumere pada Rabu malam, 19 Agustus 2026, setelah menjalani perawatan intensif akibat cedera berat ketika melompat dari lantai atas asrama Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Kabupaten Sikka, saat gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Menurut laporan media nasional yang mengutip keterangan keluarga dan pihak seminari, Frater Leonardus melompat dari lantai tiga rusunawa seminari ketika panik merasakan guncangan kuat gempa pada Sabtu pagi. Ia jatuh dan mengalami luka berat sehingga segera dibawa ke RSUD TC Hillers Maumere untuk mendapatkan perawatan intensif.

Media yang sama menyebut Frater Leonardus mengembuskan napas terakhir pada Rabu, 19 Agustus 2026, sekitar pukul 20.33 WITA. Dengan meninggalnya frater muda ini, jumlah korban jiwa akibat gempa di Kabupaten Sikka bertambah; laporan radio publik pada 20 Agustus 2026 mencatat total enam warga Sikka meninggal terkait gempa Flores, termasuk Frater Leonardus yang disebut sebagai warga Kecamatan Nita.

Gempa M 7,7 Guncang Flores

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memutakhirkan kekuatan gempa Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menjadi magnitudo 7,7. Gempa terjadi sekitar pukul 05.58 WITA dengan pusat di laut dekat Nagekeo pada kedalaman dangkal sekitar 15 kilometer.

BMKG mencatat gempa dirasakan kuat di sejumlah wilayah, termasuk Maumere dan Labuan Bajo. Siaran pers BMKG 19 Agustus 2026 menjelaskan, gempa utama M 7,7 memicu tsunami yang terdeteksi di 16 lokasi di empat provinsi dan menyebabkan kerusakan pada bangunan di beberapa kabupaten, antara lain Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Sikka.

Data sementara BMKG yang dikutip media ekonomi nasional menyebut gempa Flores mengakibatkan sedikitnya 69 korban jiwa dan 331 orang luka-luka di berbagai daerah. Media lokal NTT pada 15 Agustus 2026 sebelumnya melaporkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang masih diverifikasi, dengan 14 korban meninggal di NTT, termasuk tiga orang di Kabupaten Sikka.

Korban di Seminari Ritapiret

Laporan radio publik pada 20 Agustus 2026 menyebut Frater Leonardus Noprianto Waku, berusia sekitar 20 tahun, sebagai salah satu korban meninggal di Kabupaten Sikka. Ia disebut sebagai warga Kecamatan Nita yang mengalami luka parah setelah melompat dari lantai atas Asrama Seminari Ritapiret ketika kepanikan terjadi saat gempa.

Artikel media daring nasional yang terbit 20 Agustus 2026 merinci bahwa Frater Leonardus baru beberapa hari berada di Maumere untuk mengikuti pembinaan di seminari dan pendidikan filsafat, sebelum peristiwa gempa terjadi. Media tersebut menyebut ia menjalani perawatan intensif beberapa hari di RSUD TC Hillers Maumere sebelum akhirnya meninggal.

BMKG dalam siaran persnya menekankan agar masyarakat di wilayah terdampak gempa tetap waspada terhadap gempa susulan dan mematuhi rekomendasi pemerintah daerah terkait zona aman dan prosedur evakuasi. Namun, perincian mengenai pemeriksaan struktur bangunan asrama seminari di Ritapiret setelah gempa, maupun evaluasi keselamatan gedung dan prosedur evakuasi di lingkungan seminari, belum diuraikan dalam laporan yang tersedia.

Konteks Labuan Bajo dan Flores Barat

Gempa Flores M 7,7 pada 15 Agustus 2026 dirasakan kuat hingga Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat. BMKG mencatat intensitas guncangan di wilayah ini pada skala sekitar IV–V MMI, yang berarti gempa dirasakan oleh banyak orang dan dapat menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan.

Siaran pers BMKG dan laporan media menyebut Manggarai Barat sebagai salah satu wilayah dengan kerusakan bangunan akibat gempa dan tsunami, bersama Manggarai, Manggarai Timur, dan Sikka. Warga di sejumlah daerah pesisir Flores barat melakukan evakuasi mengikuti peringatan dini tsunami yang dikeluarkan setelah pemutakhiran kekuatan gempa.

Dalam konteks ini, wafatnya Frater Leonardus Noprianto Waku, calon imam asal Labuan Bajo yang sedang menempuh formasi di Maumere, menjadi bagian dari duka yang dialami komunitas gereja dan masyarakat Flores barat setelah gempa besar yang mengguncang wilayah tersebut.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.