Pesta Kampung Edisi Keempat Usung Tema “Rindo” di Labuan Bajo
Komunitas Videoge Arts and Society menggelar Pesta Kampung edisi keempat pada 14–15 September 2026 di Labuan Bajo dengan tema “Rindo”, menyanyi dalam bahasa Manggarai dialek Kempo, untuk memajukan musik lokal di tengah perkembangan…
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Labuan Bajo — Komunitas Videoge Arts and Society menggelar Pesta Kampung edisi keempat pada 14–15 September 2026 di Jalan Kembang Sepatu, area Kantor Camat Komodo, Labuan Bajo. Festival budaya tahun ini mengangkat tema “Rindo”, istilah dalam bahasa Manggarai dialek Kempo yang berarti menyanyi, untuk mendorong pemajuan musik lokal dalam sektor pariwisata.
Menurut laporan Floresa, rangkaian acara terpusat di Jalan Kembang Sepatu dan mencakup pertunjukan musik dan seni, lokakarya tematik, diskusi, peluncuran buku, serta pameran produk lokal Manggarai. Kegiatan ini melibatkan kaum muda, seniman, musisi, budayawan, dan komunitas dari Labuan Bajo maupun wilayah lain di Indonesia.
Floresa menulis, Videoge Arts and Society memposisikan Pesta Kampung sebagai ruang untuk membaca kota lewat suara warganya, menghubungkan warisan budaya dengan produksi karya baru, mendorong karya orisinal, serta membuka ruang belajar dan kolaborasi antara kampung, kota, komunitas, dan industri.
Musik lokal di tengah pariwisata
Dalam konferensi pers 13 September 2026, koordinator Videoge Aden Firman menyatakan keresahan atas menyempitnya ruang bagi musik daerah Manggarai di Labuan Bajo. Ia menyoroti menjamurnya grup band di kafe dan ruang hiburan di kota pariwisata itu, sementara musik tradisi dan karya orisinal warga lokal terpinggirkan.
Floresa mencatat, menurut Aden, tahun 2026 menjadi edisi keempat Pesta Kampung sejak pertama kali digelar pada 2022. Festival ini dikembangkan sebagai proses berkarya yang berkelanjutan, sejalan dengan kerja kolektif Videoge dalam mengarsipkan perkembangan musik di Labuan Bajo dan mengupayakan nilai ekonomi budaya secara berkelanjutan.
Manajer Program Pesta Kampung, Berry Unggas, menambahkan bahwa penyelenggara menemukan banyak grup band tampil di kafe dan lokasi hiburan di Labuan Bajo, tetapi kelompok yang membawakan musik khas daerah Manggarai atau memproduksi lagu sendiri jumlahnya masih terbatas.
Sejumlah grup musik lokal kemudian dikurasi untuk tampil dalam festival, dengan penekanan pada karya orisinal. Karya-karya tersebut dihimpun dalam album Rindo Volume 1 sebagai bagian dari upaya pengarsipan dan pemajuan musik lokal.
Floresa melaporkan, komunitas seni dari Liang Dara, desa wisata di Kecamatan Mbeliling sekitar 20 kilometer di sebelah timur Labuan Bajo, turut mengisi acara dengan praktik rindo dan pementasan tari tradisional Caci. Kehadiran mereka menegaskan posisi menyanyi dan tari tradisi sebagai bagian dari keseharian masyarakat Manggarai.
Rangkaian program “Rindo”
Program “Rindo” tidak hanya berlangsung pada agenda puncak 14–15 September. Floresa mencatat, siklus kegiatan dimulai Januari–Maret 2026 melalui program “Nyanyian Sebelum Pesta”, yang berisi penelusuran, perekaman, eksplorasi, eksperimen, dan panggilan terbuka bagi seniman lokal untuk penyusunan album kompilasi. Pada periode yang sama, Videoge mengelola siniar “Semacam Radio” sebagai ruang percakapan tentang seni, anak muda, dan kota.
Pada April–Agustus 2026, program “Musik dalam Kota” diisi dengan lokakarya dan penulisan buku “20 Tahun Musik di Labuan Bajo”. Menurut Floresa, buku ini menjadi salah satu upaya penting mengarsipkan dinamika musik di kota yang tumbuh sebagai destinasi pariwisata super prioritas.
Agenda puncak 14–15 September 2026 mencakup peluncuran buku, diskusi mengenai aktivisme dan industri, penciptaan pasar karya di Flores, seni pertunjukan, serta pembahasan festival sebagai ekosistem yang bertanggung jawab. Diskusi menghadirkan sejumlah sosok, antara lain Upi atau Tuan Tigabelas, Aden Firman, Iwan dari Soulroots, Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca, Muhammad Hilmi dari Whiteboard Journal, Ney Dinan dari Rumah Tenun Baku Peduli, serta perwakilan komunitas kebudayaan dan lingkungan.
Tanggung jawab lingkungan
Floresa melaporkan, penyelenggara Pesta Kampung memasukkan pengelolaan lingkungan dalam desain festival. Pengunjung diminta tidak membawa botol air berbahan plastik. Panitia menyiapkan fasilitas isi ulang air minum dan bekerja sama dengan Yayasan Lentera serta mahasiswa Program Studi Ekowisata Politeknik El Bajo untuk mendukung pengelolaan sampah sebelum dan sesudah acara.
Melalui pendekatan tersebut, Pesta Kampung edisi “Rindo” berupaya memadukan pemajuan musik lokal, penguatan komunitas, dan praktik ramah lingkungan di tengah perubahan pesat Labuan Bajo sebagai kota pariwisata.
Sumber
Berita berikutnya

HPI NTT: Pemulihan Pariwisata Flores Terganjal Trauma Warga
Victor Pance dari HPI NTT menilai pemulihan pariwisata Flores pascagempa 15 Agustus 2026 tidak cukup dengan membuka kembali destinasi.

