Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Flores Back-Arc Thrust dan Risiko Gempa M7,7 bagi Wisatawan

Gempa M7,7 di utara Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, oleh BMKG diklasifikasikan sebagai gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan Bajo — Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, dan menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) gempa dangkal ini dipicu aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust.

BMKG menyebut episenter gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer, sehingga guncangan dirasakan luas di daratan Flores dan memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah pesisir.

Informasi mengenai sumber gempa penting bagi pelaku wisata untuk memperkuat komunikasi risiko kepada wisatawan. Tingkat bahaya di tiap destinasi bergantung pada jarak dari sumber gempa, kondisi tanah, kualitas bangunan, serta potensi bahaya ikutan seperti tsunami dan longsor.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan gempa M7,7 Flores merupakan gempa bumi dangkal dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) pada zona Flores Back-Arc Thrust. Zona sesar aktif ini, menurut penjelasan BMKG dan sejumlah laporan media, memiliki potensi gempa kuat hingga sekitar magnitudo 7,8.

Data utama

  • Waktu kejadian: Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 04.58 WIB.
  • Kekuatan gempa utama: magnitudo 7,7.
  • Lokasi: laut di utara Flores, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
  • Mekanisme sumber menurut BMKG: sesar naik busur belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust), gempa bumi dangkal sekitar 15 kilometer.
  • Konteks historis: BMKG mengaitkan karakter gempa ini dengan peristiwa gempa dan tsunami 1992 yang juga berhubungan dengan Flores Back-Arc Thrust.

Mengenal Flores Back-Arc Thrust

Flores Back-Arc Thrust merupakan patahan naik aktif di belakang busur vulkanik Flores, yang memanjang di dasar laut dari utara Pulau Flores hingga Laut Utara Lombok. Struktur sesar ini menjadi salah satu sumber utama gempa tektonik kuat di kawasan Nusa Tenggara.

Sesar naik adalah mekanisme ketika satu blok kerak bumi bergerak naik relatif terhadap blok lainnya akibat tekanan tektonik. Pergerakan tiba-tiba pada bidang sesar menghasilkan gempa bumi, dan bila terjadi di bawah laut, guncangan dapat memicu tsunami bila terjadi deformasi dasar laut yang cukup besar.

Sejumlah pakar kebencanaan dan BMKG mengingatkan bahwa aktivitas Flores Back-Arc Thrust berkaitan dengan catatan gempa kuat di masa lalu. Gempa dan tsunami 1992 di Flores, yang menimbulkan kerusakan luas dan korban jiwa besar, disebut memiliki kemiripan mekanisme sumber dengan gempa M7,7 pada 15 Agustus 2026.

Implikasi bagi keselamatan wisata

Gempa kuat seperti M7,7 Flores dapat mengganggu perjalanan darat, pelayaran, komunikasi, dan layanan akomodasi di kawasan wisata. Kerusakan jalur jalan, jembatan, pelabuhan, serta bangunan penginapan berpotensi berdampak pada mobilitas wisatawan dan operasional usaha wisata.

Bagi wisatawan, hal utama adalah memahami bahwa Flores dan perairan di sekitarnya berada di kawasan aktif gempa. Wisatawan disarankan mengikuti informasi resmi dari BMKG, pemerintah daerah, dan otoritas kebencanaan sebelum dan sesudah gempa, termasuk pengumuman terkait status tsunami, kondisi jalan, pelabuhan, dan bandara.

Pelaku usaha wisata perlu menyiapkan komunikasi risiko yang jelas tanpa menimbulkan kepanikan. Informasi dapat difokuskan pada lokasi titik kumpul, jalur evakuasi, prosedur perlindungan diri saat gempa, serta langkah pemeriksaan bangunan setelah guncangan sebelum tamu kembali menggunakan fasilitas.

Jika gempa terjadi saat wisatawan berada di dalam bangunan, mereka perlu mengikuti prosedur keselamatan setempat, melindungi kepala dan tubuh dari benda jatuh, dan menghindari penggunaan lift. Setelah guncangan berhenti, wisatawan sebaiknya menunggu penilaian keamanan dari pihak berwenang sebelum kembali ke bangunan atau menaiki kapal.

Untuk wisata bahari dan kawasan pulau, operator kapal dan pengelola destinasi di pesisir perlu memperhatikan instruksi resmi terkait kondisi laut, pembatasan pelayaran, serta kemungkinan bahaya tsunami. Informasi perjalanan dan keselamatan sebaiknya diperbarui melalui BMKG, pemerintah daerah, pengelola destinasi, serta operator transportasi sebelum wisatawan beraktivitas kembali.

Konteks dan pemantauan susulan

BMKG melaporkan ratusan hingga ribuan gempa susulan setelah peristiwa utama M7,7 Flores. Pemantauan susulan dilakukan untuk menilai evolusi aktivitas sesar, potensi guncangan ulang yang signifikan, dan untuk mendukung pemulihan serta rekonstruksi di wilayah terdampak.

Dalam sejumlah keterangan, BMKG bersama pemerintah pusat dan daerah menekankan pentingnya evaluasi bangunan, terutama di wilayah yang mengalami kerusakan sedang hingga berat. Kawasan wisata seperti di Flores bagian barat, termasuk Manggarai Barat, disebut sebagai salah satu wilayah terdampak dengan tingkat kerusakan yang bervariasi, sehingga pemeriksaan keamanan infrastruktur menjadi prasyarat sebelum aktivitas wisata kembali normal.

Bagi pelaku wisata di Labuan Bajo dan Flores bagian barat, pemahaman atas karakter sesar Flores Back-Arc Thrust serta prosedur resmi kebencanaan dapat membantu menyusun rencana kontinjensi, latihan evakuasi, dan informasi yang jernih bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah rawan gempa.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.