Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Persaingan Air Wae Mese, Krisis Lama Labuan Bajo Muncul Lagi

Perumda Air Minum Wae Mbeliling dan petani sama-sama bergantung pada Sungai Wae Mese untuk pasokan air di Desa Watu Nggelek, Komodo.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Labuan Bajo — Perumda Air Minum Wae Mbeliling dan petani memanfaatkan air Sungai Wae Mese di Desa Watu Nggelek, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, pada awal musim kemarau 2026, di tengah penurunan debit sungai yang berdampak pada pasokan air bersih ke Labuan Bajo.

Menurut laporan detikBali, Sungai Wae Mese menjadi sumber baku utama pelayanan air bersih di Labuan Bajo, sementara petani menggunakan air yang sama untuk irigasi lahan pertanian. Dalam kondisi debit yang terbatas akibat kemarau berkepanjangan, dua kebutuhan pokok ini bergantung pada satu sumber air.

Direktur Perumda Air Minum Wae Mbeliling, Ponsianus Mato, menyatakan bahwa Wae Mese merupakan sumber daya air penting bagi masyarakat, baik untuk kebutuhan air bersih maupun pertanian. Ia menegaskan, saat debit terbatas, terjadi persaingan pemanfaatan air antara kepentingan pelayanan air perpipaan dan irigasi.

Ponsianus mengungkapkan terdapat temuan penutupan bendungan yang mengalirkan air dari Sungai Wae Mese ke penampungan air baku milik Perumda. Penutupan ini mempengaruhi aliran menuju instalasi pengolahan air yang memasok Labuan Bajo. Dalam laporan tersebut belum dimuat penjelasan dari pihak petani terkait situasi ini.

Tekanan pada sistem pasokan air Wae Mese

Perumda Wae Mbeliling memanfaatkan instalasi pengolahan air Wae Mese I dan Wae Mese II untuk melayani Labuan Bajo dan sekitarnya. Menurut kajian akademik yang merujuk data Perumda, kapasitas terpasang kedua instalasi itu mencapai sekitar 140 liter per detik, dengan Wae Mese I berkapasitas sekitar 40 liter per detik dan Wae Mese II sekitar 100 liter per detik.

Dalam wawancara terpisah, Ponsianus sebelumnya menyoroti berkurangnya debit Sungai Wae Mese pada periode kunjungan wisatawan tertinggi, sementara sungai yang sama juga melayani irigasi. Ia menggambarkan hubungan Perumda dengan sistem irigasi sebagai “kucing-kucingan” dalam mengambil air Sungai Wae Mese. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya tekanan berulang pada sistem pelayanan air bersih ketika kebutuhan irigasi dan wisata meningkat secara bersamaan.

Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah NTT Kementerian PUPR, Herman Tobo, pernah menjelaskan bahwa kapasitas air yang dihasilkan Instalasi Pengolahan Air Wae Mese dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan Labuan Bajo dan sekitarnya pada saat itu. Namun, ia juga mencatat bahwa 11 reservoir di sekitar Labuan Bajo hanya memasok sekitar 40 liter per detik untuk sekitar 5.000 pelanggan, sementara kebutuhan ideal ketika itu diperkirakan mencapai 60 liter per detik. Data tersebut menggambarkan bahwa ketercukupan air baku di hulu belum otomatis berarti kecukupan layanan di jaringan distribusi.

Krisis lama dan persoalan distribusi

Krisis air bersih di Labuan Bajo telah dilaporkan jauh sebelum munculnya persaingan pemanfaatan Wae Mese pada 2026. Pada 2018, Floresa menulis bahwa air dari keran PDAM hanya mengalir dua hingga tiga kali seminggu bagi sebagian warga. Laporan itu mengutip penelitian yang menyebut hanya sekitar 24 persen dari populasi 52.000 jiwa terhubung ke jaringan perpipaan, dan air umumnya hanya mengalir dua kali seminggu selama beberapa jam.

Floresa juga menggambarkan persoalan jaringan dan infrastruktur. Pada kunjungan ke mata air Wae Mbaru dan Wae Kaca, sumber air PDAM yang diamati pada 31 Juli 2018, air tampak mengalir, sementara pipa di sejumlah ruas jalan berada di atas badan jalan dan sebagian rusak. Aktivis dan warga yang dikutip menilai krisis bukan semata karena tidak adanya sumber air, tetapi karena sistem distribusi yang belum memadai.

Beritasatu pada 2019 melaporkan keluhan warga Labuan Bajo yang hanya menerima aliran air perpipaan dua kali sepekan dan harus membeli air galon atau air tangki untuk kebutuhan harian. Laporan tersebut juga memuat perbedaan keterangan mengenai dugaan prioritas pasokan untuk hotel dan restoran; dugaan itu dibantah oleh direktur PDAM yang menyatakan layanan tidak didesain khusus untuk sektor pariwisata.

Sejumlah kajian teknis menempatkan Wae Mese sebagai salah satu sumber air baku utama Perumda Wae Mbeliling, bersama mata air lain seperti Wae Mbaru dan Wae Kaca. Kajian debit andalan menyimpulkan bahwa ketersediaan air dari Sungai Wae Mese masih mampu mencukupi kebutuhan air bersih untuk daerah pelayanan Labuan Bajo hingga setidaknya 2031, dengan asumsi tertentu mengenai pertumbuhan kebutuhan.

Dengan latar belakang tersebut, perebutan air di Wae Mese pada 2026 bukan hanya soal konflik antara Perumda dan petani, melainkan mencerminkan persoalan tata kelola sumber daya bersama dan kapasitas infrastruktur distribusi. Pernyataan pejabat teknis dan aktivis menunjukkan bahwa kesinambungan layanan bergantung pada pengelolaan debit sungai, kapasitas instalasi pengolahan, reservoir, jaringan pipa, serta pola distribusi ke berbagai kelompok pengguna.

Pemerintah daerah dan Perumda Wae Mbeliling didorong untuk menata pembagian air Wae Mese secara adil antara kebutuhan rumah tangga, irigasi, dan sektor pariwisata, sekaligus memperbaiki sistem distribusi agar krisis yang berulang tidak hanya direspons pada saat konflik terbuka antara pelaku usaha air dan petani.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.