Kemenhub Periksa Pelabuhan NTT Pascagempa dan Tsunami
Kementerian Perhubungan memeriksa infrastruktur pelabuhan di Nusa Tenggara Timur setelah gempa dan tsunami pada 15 Agustus 2026.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Kementerian Perhubungan memeriksa infrastruktur pelabuhan di Nusa Tenggara Timur setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Laut Flores dan memicu tsunami pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, seluruh Unit Pelaksana Teknis di wilayah terdampak diminta melakukan pemantauan intensif sekurang-kurangnya 24–48 jam setelah kejadian gempa.
Pemeriksaan mencakup struktur dermaga, trestle, apron, fender, bollard, terminal penumpang, instalasi listrik dan bahan bakar minyak, peralatan bongkar muat, alur pelayaran, serta akses menuju pelabuhan.
Dampak pada pelabuhan di NTT
Sejumlah pelabuhan di NTT dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda-beda.
Pelabuhan Laurentius Say di Maumere menjadi salah satu lokasi dengan kerusakan paling berat. Laporan Kementerian Perhubungan yang dikutip berbagai media menyebut bagian dermaga dan bangunan terminal penumpang di pelabuhan tersebut roboh akibat guncangan gempa saat kapal penumpang tengah bersandar.
Kerusakan juga terjadi di kawasan Pelabuhan Marina Labuan Bajo. Media nasional yang mengutip data Ditjen Perhubungan Laut memberitakan adanya keretakan pada tembok kantor, terminal penumpang, dan bagian dermaga di pelabuhan tersebut.
Di Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu, ditemukan keretakan pada tembok bangunan kantor dan gudang.
Pelabuhan Marapokot di Nagekeo dilaporkan mengalami penurunan elevasi pada causeway dan dermaga eksisting, disertai runtuhnya pagar pembatas di area pelabuhan.
Selain empat lokasi utama tersebut, kerusakan ringan hingga sedang juga tercatat di Pelabuhan Reo, Pelabuhan Ende, dan Pelabuhan Waingapu.
Dalam keterangan yang dikutip dari Kementerian Perhubungan, dermaga dan terminal penumpang di pelabuhan yang terdampak hanya dapat kembali digunakan setelah dinilai aman secara teknis.
Labuan Bajo dan konektivitas wisata
Labuan Bajo dan sekitarnya termasuk dalam pesisir utara Flores yang mendapat peringatan dini tsunami setelah gempa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melaporkan gelombang tsunami terdeteksi dengan ketinggian puluhan sentimeter di sejumlah titik pesisir, termasuk di sekitar Labuan Bajo.
Seusai pencabutan peringatan dini tsunami, Kementerian Perhubungan menyatakan pelabuhan-pelabuhan di NTT tetap diupayakan beroperasi untuk menjaga konektivitas, dengan penyesuaian operasi berdasarkan hasil pemeriksaan teknis di masing-masing pelabuhan.
Menurut pernyataan resmi yang dikutip media, pelabuhan Laurentius Say dan Reo mengalami dampak paling berat, sementara Pelabuhan Labuan Bajo, Marapokot, Ende, dan Waingapu mengalami kerusakan ringan hingga sedang namun tetap diarahkan untuk kembali melayani kapal perintis dan penumpang reguler setelah dinyatakan layak operasi.
Keselamatan sebagai dasar operasional
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menegaskan bahwa fasilitas pelabuhan yang menunjukkan keretakan, perubahan bentuk, atau indikasi kerusakan struktural tidak boleh digunakan sebelum dinyatakan aman melalui pemeriksaan teknis.
Kementerian Perhubungan menyebut hasil pemeriksaan lapangan menjadi dasar penentuan pengamanan, penanganan lanjutan, dan pola operasi pelabuhan di NTT.
Bagi pengguna jasa dan wisatawan, pemerintah mengimbau agar mengikuti arahan petugas di lapangan serta informasi resmi dari instansi terkait mengenai status layanan pelayaran di masing-masing pelabuhan.
Sumber
- RRI Nasional - Pascagempa NTT, Kemenhub Periksa Infrastruktur Pelabuhan
- Tempo - Dermaga Pelabuhan Laurentius Say Roboh Akibat Gempa NTT
- JawaPos - Pasca Gempa NTT: Dermaga Maumere Roboh, Kemenhub Uji Kelayakan Fasilitas
- Harian Jogja - Gempa NTT Rusak 6 Pelabuhan, Labuan Bajo Sempat Terdampak
- Investortrust - Menhub Sebut 5 Bandara dan Pelabuhan NTT Tetap Beroperasi Normal Pascagempa Bumi
- BMKG - Gempa Bumi M7,7 – 30 km Timur Laut Mbay Nagekeo NTT
Berita berikutnya
Flores Back-Arc Thrust dan Risiko Gempa M7,7 bagi Wisatawan
Gempa M7,7 di utara Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, oleh BMKG diklasifikasikan sebagai gempa dangkal akibat aktivitas Flores…
Baca juga




