Mengapa Ramainya Kapal Wisata Belum Merata Menggerakkan Ekonomi Labuan Bajo?
Kenaikan kapal wisata dan hunian hotel menunjukkan aktivitas pariwisata Labuan Bajo tumbuh. Namun BPOLBF menilai manfaat ekonomi di darat belum maksimal karena banyak wisatawan tinggal dan beraktivitas di kapal.
Oleh Mukmin John
· 3 menit baca
Pariwisata Labuan Bajo belum otomatis memberi dampak ekonomi besar bagi usaha dan warga di darat hanya karena jumlah kapal wisata meningkat. Data menunjukkan keberangkatan kapal wisata naik dari 8 ribu pada 2021 menjadi 35 ribu pada 2024, tetapi BPOLBF menyebut lama tinggal masih banyak berlangsung di laut melalui kapal live on board.
Mengapa kenaikan kapal wisata belum sama dengan manfaat ekonomi di darat?
Kapal wisata membawa aktivitas, konsumsi, dan lama tinggal ke ruang laut. BPOLBF menyatakan kondisi itu membuat dampak ekonomi langsung bagi pelaku usaha dan masyarakat di darat belum maksimal, meski pergerakan kapal meningkat.
Catatan ini membedakan antara pertumbuhan aktivitas wisata dan persebaran manfaatnya. Jumlah keberangkatan kapal menunjukkan intensitas operasi, bukan nilai belanja yang diterima usaha lokal atau besarnya pendapatan pemerintah daerah.
Seberapa besar pertumbuhan keberangkatan kapal wisata?
KSOP Kelas III Labuan Bajo mencatat keberangkatan kapal wisata sebanyak 8 ribu pada 2021, 20 ribu pada 2022, 30 ribu pada 2023, dan 35 ribu pada 2024, menurut BPOLBF dalam forum stakeholder pada 2025.
KSOP juga menyebut rasio kecelakaan pelayaran di Labuan Bajo sebesar 0,03 persen, atau 3 kejadian kedaruratan setiap 100 ribu keberangkatan kapal. Pada 2023 dan 2024, kecelakaan pelayaran dicatat tanpa korban jiwa, menurut BPOLBF, 2025.
Berapa lama wisatawan tinggal di Labuan Bajo?
Survei BPOLBF pada sejumlah hotel di Labuan Bajo mencatat rata-rata lama tinggal 2,15 malam pada Maret 2025. Pada periode itu, tingkat hunian resort sebesar 43,5 persen, hotel bintang 5 sebesar 21,3 persen, dan hotel bintang 4 sebesar 30,4 persen, menurut BPOLBF, 2025.
Angka hotel tersebut tidak dapat dibaca sebagai ukuran penuh manfaat ekonomi kawasan karena sebagian wisatawan menghabiskan waktu tinggal di kapal. Lama tinggal perlu dibaca bersama lokasi konsumsi, keterlibatan pemasok lokal, dan kontribusi terhadap penerimaan daerah.
Apa yang menunjukkan aktivitas hotel di Manggarai Barat?
BPS mencatat tingkat penghunian kamar hotel berbintang di Kabupaten Manggarai Barat sebesar 73,53 persen pada Juli 2025, tertinggi di Nusa Tenggara Timur pada bulan itu. Jumlah tamu hotel berbintang di NTT mencapai 65.002 tamu dengan rata-rata lama menginap 1,64 malam, menurut BPS Provinsi NTT, 2025.
Data tersebut menunjukkan aktivitas akomodasi yang kuat di Manggarai Barat, tetapi belum menjelaskan sendiri berapa bagian pendapatan yang diterima pekerja, UMKM, nelayan, petani, atau penyedia jasa lokal. Untuk menjawab pertanyaan itu, data pariwisata perlu dihubungkan dengan PDRB, tenaga kerja, belanja wisatawan, dan rantai pasok.
Ukuran apa yang lebih tepat untuk menilai dampak?
BPOLBF mengidentifikasi tiga pekerjaan rumah: pengelolaan sampah, integrasi rantai pasok produk lokal dengan kebutuhan pariwisata, serta peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia. Ketiganya menentukan apakah pertumbuhan kunjungan berubah menjadi pendapatan yang tersebar di masyarakat.
- Jumlah wisatawan dan kapal mengukur volume kegiatan.
- TPK dan lama tinggal mengukur pemanfaatan akomodasi.
- PDRB, tenaga kerja, belanja lokal, dan rantai pasok mengukur persebaran manfaat ekonomi.
Kesimpulannya, pariwisata Labuan Bajo tumbuh dari sisi aktivitas kapal dan akomodasi, tetapi dampaknya bagi ekonomi lokal harus dinilai dari aliran belanja dan keterlibatan usaha di darat, bukan dari jumlah kunjungan saja.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi
Mengapa 85% Pasokan Pangan Labuan Bajo Masih dari Luar Daerah?
Sekitar 85% bahan pangan untuk pariwisata Labuan Bajo masih dipasok dari luar Manggarai Barat. Kemitraan petani, hotel, restoran, dan pemerintah diara…
Terbaru di Analisis

Berita utama hari ini

Baca juga





