Kabar Labuan Bajo

Rabu, 21 Oktober 2026

Mengapa Akses Internet Flores Tidak Merata dari Mabar hingga Flores Timur?

Peliputan Trans Flores menemukan mutu internet yang timpang dari Manggarai Barat hingga Flores Timur. Di Blepanawa, pengukuran 26 September mencatat unduh 399,4 kbit/s.

Oleh

· Peristiwa: · 2 menit baca

Labuan Bajo — Ketimpangan akses internet membentang di jalur Trans Flores, dari Manggarai Barat hingga Flores Timur. Peliputan Floresa pada 18 September hingga awal Oktober 2026 menemukan kampung tanpa layanan telekomunikasi dasar, wilayah yang baru memperoleh jaringan, titik bertanda 4G dengan koneksi lemah atau tidak stabil, serta pusat kota dengan layanan lebih memadai.

Di Desa Blepanawa, Flores Timur, pengukuran OONI Probe pada 26 September mencatat kecepatan unduh 399,4 kbit/s dan unggah 15,8 Mbit/s. Pengujian juga menemukan peringatan pada jalur permintaan HTTP, yang menandakan koneksi tidak stabil meski perangkat terhubung ke jaringan.

Sebagai pembanding, pengukuran dengan aplikasi yang sama di Labuan Bajo mencatat kecepatan unduh 22,1 Mbps, unggah 9,87 Mbps, dan latensi 55,3 ms. Kinerja itu dinilai memadai untuk komunikasi, pekerjaan daring, konferensi video, dan pemutaran video hingga resolusi 2160p.

Kesenjangan jaringan memengaruhi komunikasi warga Flores

Perbedaan mutu jaringan penting bagi pembaca di Labuan Bajo karena koneksi yang tampak tersedia belum tentu cukup untuk mengirim laporan, mengikuti rapat daring, mengakses layanan publik, atau menyampaikan informasi saat terjadi konflik dan keadaan darurat. Masalahnya bukan hanya ada atau tidaknya sinyal, melainkan juga kestabilan dan kemampuan jaringan membawa data.

Floresa juga melaporkan kondisi serupa di Desa Pululera, Flores Timur, yang berada dekat Gunung Lewotobi Laki-Laki. Dari jalur peliputan tersebut, ketersediaan internet disebut berbeda antar-kampung dan belum merata untuk kebutuhan sehari-hari maupun penyampaian informasi.

Laporan lain mengenai Flores Timur menyebut tantangan geografis berupa pegunungan dan perbukitan vulkanik menghambat pemerataan konektivitas. Pemerintah daerah juga melaporkan jumlah desa yang mengalami blank spot kembali bertambah menjadi 12 desa setelah penghentian layanan pada sejumlah menara pemancar BAKTI dan perangkat operator telekomunikasi seluler.

Temuan ini menunjukkan bahwa ukuran pemerataan internet perlu mencakup mutu koneksi, bukan hanya pembangunan infrastruktur atau tanda jaringan pada perangkat. Bagi warga yang melintas di Trans Flores, perbedaan tersebut berarti kebutuhan untuk menyiapkan jalur komunikasi cadangan ketika meninggalkan pusat kota.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Flores Raya

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.