Konversi Minyak Tanah ke LPG di NTT Terkendala Fasilitas dan Kebijakan
Pemerintah pusat menugaskan Pertamina membangun Terminal LPG Tenau Kupang dengan kapasitas 2 x 500 MT untuk mendukung konversi minyak tanah ke LPG di NTT.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Konversi minyak tanah ke LPG di Nusa Tenggara Timur (NTT) belum berjalan penuh meski pemerintah pusat sudah menugaskan Pertamina membangun infrastruktur terminal LPG di Kupang sebagai bagian proyek strategis nasional sejak 2017.
Penugasan pembangunan terminal LPG di wilayah timur, termasuk Kupang, tercantum dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2157 K/10/MEM/2017 yang memberi mandat kepada Pertamina membangun terminal di Kupang, Bima, Ambon, dan Jayapura.
Menurut laporan kumparan pada 1 April 2019, pembangunan terminal LPG di kawasan Terminal BBM Tenau Kupang resmi dimulai melalui peletakan batu pertama oleh Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat bersama jajaran Pertamina dan pemerintah pusat.
Terminal LPG Kupang dirancang dengan kapasitas 2 x 500 metrik ton (MT). Infrastruktur ini disiapkan untuk memperkuat distribusi LPG di wilayah timur Indonesia dan mendukung program pemerintah agar masyarakat beralih dari minyak tanah ke LPG.
Kesiapan Terminal Tenau dan Konversi LPG
Dalam penjelasan kepada Floresa pada Desember 2024, Area Manager Communication, Relation dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara menjelaskan bahwa konversi minyak tanah ke LPG di wilayah NTT belum dilakukan karena terkendala sarana dan prasarana.
Ia menambahkan, kebijakan transisi energi ke LPG di NTT perlu dirumuskan bersama lintas kementerian. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebut Flores belum termasuk wilayah yang berpotensi dilaksanakan konversi minyak tanah ke LPG karena mempertimbangkan ketersediaan fasilitas, infrastruktur, dan moda transportasi.
Floresa mencatat bahwa hingga 2023 pembangunan Terminal LPG Tenau Kupang baru mencapai sekitar 62 persen. Kondisi itu menunjukkan infrastruktur belum sepenuhnya siap untuk mengalihkan konsumsi energi rumah tangga dari minyak tanah ke LPG di seluruh NTT.
Kapasitas dan Peran Terminal LPG Kupang
Rancangan kapasitas 2 x 500 MT untuk terminal LPG Kupang merupakan bagian dari jaringan empat terminal LPG di kawasan timur Indonesia. Terminal di Bima dirancang berkapasitas 1 x 1.000 MT, sementara Ambon dan Jayapura masing-masing 2 x 1.000 MT.
Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur Pertamina saat groundbreaking 2019 menyatakan infrastruktur hilir ini diharapkan memperkuat distribusi LPG di wilayah timur dan mendukung program pemerintah mengalihkan konsumsi dari minyak tanah ke LPG.
Namun, menurut data dan keterangan yang dihimpun Floresa, di NTT mayoritas rumah tangga masih menggunakan kayu bakar dan minyak tanah. Konversi ke LPG belum berjalan merata karena aspek sarana, prasarana, dan transportasi antarpulau belum memadai.
Distribusi dan Ketersediaan LPG 3 Kilogram
Pemerintah pusat dan Pertamina menjadikan tabung LPG 3 kilogram sebagai instrumen utama kebijakan konversi minyak tanah ke LPG untuk rumah tangga berpendapatan rendah dan usaha mikro. Secara nasional, paket LPG 3 kilogram, kompor, regulator, dan selang dibagikan sebagai bagian program konversi.
Di NTT, menurut Floresa, alokasi kuota minyak tanah pada 2024 masih mencapai lebih dari 110 ribu kiloliter. Hal ini menandakan bahan bakar minyak tanah tetap dipertahankan, sementara distribusi LPG belum menggantikan peran minyak tanah secara menyeluruh.
Kementerian ESDM menilai pelaksanaan konversi di Flores dan wilayah sekitarnya membutuhkan kesiapan jaringan fasilitas penyimpanan LPG, pangkalan, serta moda transportasi yang mampu menjangkau wilayah kepulauan.
Operasi Pasar dan Permintaan LPG
Secara nasional, Pertamina beberapa kali melaksanakan operasi pasar LPG 3 kilogram untuk merespons peningkatan permintaan, terutama pada periode Iduladha dan libur panjang. Direksi Pertamina menjelaskan bahwa kenaikan konsumsi pada periode tersebut dapat menimbulkan kelangkaan di sejumlah daerah.
Penjelasan Pertamina antara lain memuat komitmen bekerja sama dengan pemerintah daerah menggelar operasi pasar di lokasi yang mengalami gangguan pasokan dan memastikan stok LPG 3 kilogram tetap tersedia.
Di wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus juga menambah jutaan tabung LPG 3 kilogram menjelang Iduladha untuk menjaga ketersediaan pasokan di wilayah operasi mereka.
Meski demikian, untuk NTT, pelaksanaan penuh konversi minyak tanah ke LPG dan distribusi LPG 3 kilogram sebagai pengganti utama minyak tanah masih bergantung pada keputusan kebijakan energi lintas kementerian serta penyelesaian pembangunan dan pengoperasian penuh Terminal LPG Tenau Kupang.
Sumber
Berita berikutnya

Farmer’s Share Sapi Bali Manggarai Barat Tercatat 63,55 Persen
Penelitian Jurnal Penelitian Inovatif mencatat farmer’s share sapi Bali di Manggarai Barat sebesar 63,55 persen, dengan biaya dan keuntungan tertinggi…
Baca juga



