IESR Dorong Energi Terbarukan Jadi Penggerak Ekonomi NTT
IESR mendorong energi terbarukan di NTT sebagai penggerak ekonomi lokal lewat listrik bersih untuk usaha, air bersih, dan layanan publik. Program ini mencakup tiga jalur kerja, termasuk penggantian PLTD dan proyek percontohan PLTS.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Institute for Essential Services Reform (IESR) mendorong pemanfaatan energi terbarukan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai penggerak ekonomi lokal, sekaligus upaya menekan kemiskinan dan memperluas manfaat listrik bersih bagi masyarakat. Dorongan itu disampaikan IESR dalam keterangan pada 19 Agustus 2026.
Dalam keterangan yang sama, IESR menyebut pemerintah provinsi dan lembaga itu akan menjalankan tiga jalur kerja selama dua tahun ke depan. Jalur pertama adalah mempercepat transisi energi dengan mengganti pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) menggunakan pembangkit listrik tenaga surya dan baterai.
Jalur kedua ialah membangun ekonomi lokal berbasis energi terbarukan. Menurut IESR, listrik bersih akan dipakai untuk mendukung kegiatan produktif yang dapat meningkatkan pendapatan dan memberi manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat.
Jalur ketiga adalah menyiapkan pusat pengembangan hidrogen hijau agar NTT dapat berkembang sebagai pemasok energi bersih bagi Indonesia dan kawasan. IESR juga menyebut program ini akan berjalan di tingkat provinsi dan kabupaten hingga 2027.
Proyek percontohan
IESR menjabarkan tiga jenis proyek percontohan. Pertama, pemasangan sistem PLTS untuk kebutuhan energi produktif pada satu lokasi dengan kapasitas sekitar 100–250 kWp. Listriknya dapat dipakai untuk pengeringan, pengolahan pascapanen, dan aktivitas produktif lain.
Kedua, pemasangan PLTS di sekitar 15 lokasi, termasuk fasilitas kesehatan, sekolah, sistem air bersih, dan kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah. Ketiga, revitalisasi sistem PLTS yang sudah ada serta pengembangan teknologi desalinasi untuk membantu mengatasi persoalan air di NTT.
Dalam keterangan itu, IESR menegaskan bahwa NTT memiliki potensi energi surya yang besar. IESR juga menyebut energi terbarukan dapat membantu menurunkan ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar diesel, yang selama ini mahal dan rentan gangguan pasokan di pulau-pulau kecil.
Konteks Flores
Bagi Flores, gagasan ini relevan karena IESR menempatkan energi terbarukan bukan sekadar sebagai sumber listrik, melainkan sebagai penopang kegiatan ekonomi seperti pertanian, perikanan, air bersih, usaha kecil, dan pariwisata. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam forum Indonesia Solar Summit 2026, juga menyatakan bahwa pengembangan PLTS dan penyimpanan energi dapat mendukung aktivitas produktif di daerah-daerah kecil sekaligus membantu ekonomi regional.
IESR tidak merinci kabupaten atau desa prioritas dalam keterangan tersebut. Namun, lembaga itu menyebut Rote dan Sabu berpeluang mencapai sistem kelistrikan berbasis 100 persen energi terbarukan dalam lima tahun, sementara proyek berjalan paralel di tingkat provinsi dan kabupaten.
Selain mendorong akses energi, IESR mengaitkan transisi energi dengan penurunan kemiskinan. Dalam penjelasan resminya, lembaga itu menilai listrik bersih dapat memberi manfaat ekonomi langsung lewat pengurangan biaya energi dan peningkatan kegiatan produktif masyarakat.
Keterangan IESR juga menunjukkan bahwa proyek ini belum berdiri sebagai satu paket bantuan tunggal. Ia lebih tepat dibaca sebagai arah kebijakan dan rancangan program yang menghubungkan transisi energi, kegiatan usaha, dan pengembangan teknologi bersih di NTT.
Sumber
Berita berikutnya

Nanas Kampung Ndole Mulai Pasok Pasar Labuan Bajo
Nanas dari Kampung Ndole, Desa Golo Damu di Kecamatan Mbeliling, mulai memasok pasar Labuan Bajo melalui pedagang pengumpul.

