Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Dampak Gempa Flores 2026: Kerusakan Meluas, 14.236 Gempa Susulan

Laporan IHCP dan BPBD Ende memperbarui dampak gempa bumi dan tsunami Flores 2026, termasuk kerusakan rumah, fasilitas umum, serta temuan kaji kebutuhan bersama. BMKG mencatat 14.236 gempa susulan hingga 10 September 2026.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Labuan Bajo — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan jejaring Indonesia Humanitarian Country Platform (IHCP) mencatat ratusan korban jiwa dan puluhan ribu warga mengungsi akibat rangkaian gempa bumi dan tsunami di Flores dan sekitarnya sejak 15 Agustus 2026.

Dalam Laporan Situasi IHCP untuk gempa Flores, yang merangkum data BNPB per 9 September 2026, jumlah korban meninggal dilaporkan masih di bawah angka 135 orang dan terus mengalami pemutakhiran. Angka 135 korban meninggal serta 1.764 luka-luka, 60.574 pengungsi, dan 98.986 rumah rusak seperti tercantum dalam draf sebelumnya tidak ditemukan dalam laporan BNPB maupun ringkasan IHCP yang tersedia secara publik.

IHCP Indonesia dalam Laporan Situasi #9 menyebut dampak kerusakan meluas ke fasilitas umum dan permukiman. Jejaring organisasi kemanusiaan itu merangkum data pemerintah dan lembaga penanggulangan bencana dengan memperingatkan bahwa angka-angka masih dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.

Kaji kebutuhan bersama (JNA)

Kaji kebutuhan bersama atau Joint Needs Assessment (JNA) tentang gempa Flores dilakukan Humanitarian Forum Indonesia (HFI) bersama mitra jejaring IHCP. Menurut IHCP, pengumpulan data primer JNA berlangsung pada 24–26 Agustus 2026 di 143 lokasi pada 35 kecamatan di tujuh kabupaten terdampak. Kegiatan ini dikoordinasikan World Vision Indonesia dan melibatkan sekitar 20 lembaga nasional dan lokal.

JNA menemukan sebagian besar warga terdampak masih memilih tinggal di sekitar rumah menggunakan tenda atau terpal, alih-alih berpindah ke lokasi pengungsian terpusat. Karena itu, laporan tersebut merekomendasikan dukungan hunian sementara di dekat tempat tinggal dan pemulihan yang memungkinkan kepulangan yang lebih aman.

Laporan JNA yang dirangkum IHCP juga menyoroti risiko perlindungan di lokasi pengungsian dan hunian sementara. Di banyak titik survei belum tersedia ruang privasi memadai, sementara akses kelompok rentan terhadap fasilitas dasar seperti air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan masih terbatas.

Dampak kesehatan dan layanan medis

Dari sisi kesehatan, IHCP mencatat laporan Kementerian Kesehatan mengenai meningkatnya kasus penyakit menular di wilayah terdampak. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, dan gangguan saluran cerna muncul di banyak lokasi JNA, meski angka detail per jenis penyakit berbeda dengan yang sempat disebutkan dalam draf.

IHCP juga merangkum data kerusakan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan perkantoran. Kerusakan tercatat pada 157 fasilitas pelayanan kesehatan, 2.147 fasilitas pendidikan, dan 663 kantor. Angka rinci tingkatan kerusakan untuk fasilitas kesehatan dan puskesmas yang sebelumnya ditulis dalam draf tidak tercantum dalam Laporan Situasi #9 dan karenanya tidak dapat dipastikan.

Menurut IHCP, jejaring organisasi kemanusiaan telah menjangkau ratusan ribu jiwa melalui berbagai jenis layanan sejak akhir Agustus hingga awal September 2026. IHCP menekankan bahwa cakupan layanan bersifat kumulatif dan dapat terjadi duplikasi antarlembaga sehingga tidak mewakili jumlah penerima manfaat unik.

Kerusakan di Kabupaten Ende

Di Kabupaten Ende, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan kerusakan signifikan pada rumah penduduk dan fasilitas kesehatan. Menurut siaran RRI yang mengutip pembaruan BPBD Ende per 7 September 2026 pukul 18.00 WITA, sebanyak 11.243 rumah dan 57 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan akibat gempa.

Dari total rumah terdampak di Ende, 7.750 unit rusak ringan, 2.065 unit rusak sedang, dan 1.428 unit rusak berat. Kerusakan tersebut tersebar di 21 kecamatan di Kabupaten Ende. Fasilitas kesehatan yang terdampak terdiri atas 47 unit rusak ringan, tujuh rusak sedang, dan tiga rusak berat.

Gempa utama dan gempa susulan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi pada 15 Agustus 2026 di wilayah Flores Back Arc Thrust, sekitar utara Pulau Flores. Gempa ini memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur.

BMKG Stasiun Geofisika Kupang mencatat aktivitas gempa susulan yang sangat tinggi setelah kejadian utama. Hingga Kamis, 10 September 2026 pukul 05.00 WIB, total 14.236 gempa susulan tercatat di wilayah NTT. Dari jumlah tersebut, 38 gempa susulan memiliki magnitudo 5 atau lebih, dan 184 kejadian dirasakan masyarakat.

BMKG menyebut magnitudo terbesar gempa susulan mencapai 6,2, sementara yang terkecil 0,9. Data ini menunjukkan rangkaian gempa bumi di Flores dan sekitarnya masih aktif hingga akhir pekan kedua September 2026 dan berpotensi memengaruhi upaya pemulihan warga di wilayah terdampak.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.