Survei Geolistrik dan Opsi Desalinasi Atasi Krisis Air di Pulau Palue
Kementerian Pekerjaan Umum menyiapkan survei geolistrik dan kajian teknologi desalinasi bersama BRIN untuk mengatasi krisis air bersih pascagempa di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Kementerian Pekerjaan Umum menyiapkan survei geolistrik di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, untuk memetakan potensi sumber air tanah sebagai bagian dari pemulihan pasokan air bersih pascagempa Flores 15 Agustus 2026.
Langkah ini diambil di tengah krisis air bersih yang dialami warga Palue setelah kerusakan luas pada prasarana penampungan air hujan dan jaringan air bersih.
CNBC Indonesia menayangkan laporan video berjudul “Krisis Air Bersih Palue: PU Cari Sumber Air Tanah” pada 25 Agustus 2026 yang merangkum rencana kementerian melakukan survei geolistrik dan menyiapkan sumur bor serta filtrasi jika sumber air tanah memadai.
Survei geolistrik dan rencana sumur bor
Menurut keterangan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II menyiapkan survei geolistrik untuk memetakan potensi air tanah dan menentukan lokasi pengembangan sumber air baru tambahan bagi sekitar 7.000 warga di delapan desa Kabupaten Sikka, termasuk Kecamatan Palue.
Survei ini menjadi dasar penentuan titik sumur bor dan kapasitas sumber air yang dapat dikembangkan, agar pasokan air tidak lagi hanya bergantung pada tandon penampung air hujan yang banyak rusak akibat gempa.
Dalam laporan lain, Kementerian PU menyebut survei geolistrik akan digunakan untuk memilih lokasi potensial pengembangan sumber air baru di Pulau Palue dan memastikan cadangan air tanah sebelum pembangunan sumur bor.
CNBC Indonesia merangkum bahwa jika pengukuran menunjukkan sumber air tanah yang memadai, pemerintah akan memanfaatkan sumur bor dan proses filtrasi untuk memasok air bersih ke warga.
Desalinasi sebagai opsi tambahan
Selain mencari sumber air tanah, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyatakan kementerian menjajaki pemanfaatan teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar dengan bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Dalam rapat koordinasi dengan pemerintah daerah NTT dan Kabupaten Sikka, Dody menyebut sudah menghubungi Kepala BRIN untuk mencari teknologi yang dapat mengonversi air laut menjadi air tawar bagi masyarakat Pulau Palue.
Keterangan resmi pemerintah pusat menyebut teknologi reverse osmosis dipertimbangkan sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan air bersih di Palue, seiring upaya memperbaiki penampungan air hujan yang rusak.
Presiden Prabowo Subianto kemudian menginstruksikan BRIN, TNI, Universitas Pertahanan, dan fakultas teknik untuk mengembangkan teknologi desalinasi yang dapat dibangun di dalam negeri dan dikirim ke daerah krisis air di NTT, termasuk Palue.
Krisis air bersih pascagempa di Palue
Laporan media lokal dari Maumere dan organisasi masyarakat sipil menggambarkan krisis air minum bersih di Pulau Palue setelah gempa Flores, ketika bak penampung air hujan pengungsi kering dan warga terpaksa mengonsumsi air payau serta membeli air sumur dengan harga tinggi.
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air mencatat 495 prasarana air bersih terdampak gempa di Kabupaten Sikka, dengan 481 unit mengalami kerusakan berat, terutama bak penampung air hujan milik warga di Kecamatan Palue.
Untuk tanggap darurat, Ditjen Sumber Daya Air melaporkan distribusi tandon air berkapasitas 1.200 liter ke Kecamatan Palue dan pendistribusian air bersih, sambil menyiapkan survei geolistrik sebagai langkah menghadirkan sumber air baru.
Dalam beberapa hari setelah gempa, kementerian menyatakan pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi bagi warga terdampak di Pulau Palue menjadi prioritas, dengan kombinasi distribusi air darurat, perbaikan penampungan air, dan kajian sumber air tanah serta teknologi desalinasi.
Tahapan kebijakan air di Palue
Dari berbagai keterangan pemerintah dan pemberitaan, kebijakan air di Palue mencakup beberapa jalur: survei geolistrik untuk mengidentifikasi sumber air tanah, pembangunan sumur bor dan filtrasi jika sumber memadai, perbaikan infrastruktur penampungan air hujan, distribusi air bersih darurat, serta kajian teknologi desalinasi dengan BRIN.
Pelaksanaan survei geolistrik menjadi tahap awal untuk memastikan kelayakan pemanfaatan air tanah, sementara keputusan pembangunan fasilitas desalinasi bergantung pada hasil kajian teknis, kebutuhan air, dan kapasitas pembiayaan.
Dalam konteks krisis air bersih di Pulau Palue, kombinasi langkah jangka pendek berupa distribusi air dan perbaikan infrastruktur dengan langkah jangka menengah berupa survei geolistrik dan kajian desalinasi menjadi bagian dari strategi pemulihan layanan air bagi warga.
Sumber
Berita berikutnya

Dua Nelayan Sikka Hilang Kontak Saat Berlayar ke Pulau Karumpa
Dua nelayan asal Sikka, Ahmad Junaidi dan Jiar Junaidi Mendome, dilaporkan hilang kontak saat berlayar menuju Pulau Karumpa sejak 18 September 2026. T…
Baca juga


