Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Ekonomi NTT Tumbuh 5,01 Persen pada Triwulan II 2026

Ekonomi Nusa Tenggara Timur tumbuh 5,01 persen secara tahunan dan 7,11 persen secara kuartalan pada triwulan II 2026.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan Bajo — Perekonomian Nusa Tenggara Timur (NTT) pada triwulan II 2026 tumbuh 5,01 persen secara tahunan dan 7,11 persen secara kuartalan dibandingkan triwulan I 2026, menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dan dikutip sejumlah lembaga pemerintah dan media nasional.

Pertumbuhan tahunan tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan I 2026 yang tercatat 5,32 persen. Namun, secara kuartalan ekonomi NTT berbalik dari kontraksi pada triwulan I menjadi ekspansi pada triwulan II.

Struktur dan sumber pertumbuhan ekonomi NTT

Menurut laporan media lokal yang merujuk data BPS, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026 sekitar Rp 41,13 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sekitar Rp 21,87 triliun.

Lembaga pemerintah pusat yang mengawasi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di NTT menyebut pertumbuhan ekonomi 5,01 persen tersebut lebih tinggi dari rata-rata nasional triwulan II 2026. Lembaga yang sama mencatat pertumbuhan kuartalan 7,11 persen dan menegaskan bahwa sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 18,38 persen secara tahunan.

Struktur ekonomi NTT masih didominasi sektor primer. Media lokal yang mengutip BPS menyatakan pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 29,40 persen terhadap perekonomian NTT pada triwulan II 2026.

Dari sisi pengeluaran, lembaga pengelola fiskal pusat mencatat pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh 12,23 persen secara tahunan pada triwulan II 2026 dan memberikan kontribusi lebih dari seperlima terhadap PDRB NTT. Komponen ini menjadi salah satu pendorong utama penguatan ekonomi daerah bersama konsumsi rumah tangga dan investasi.

Akomodasi dan makan minum serta kaitannya dengan pariwisata

Pertumbuhan 18,38 persen pada lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mengindikasikan menguatnya aktivitas konsumsi dan layanan yang berkaitan dengan perjalanan dan jasa konsumsi.

Namun, baik laporan media lokal maupun siaran pers lembaga fiskal pusat tidak merinci pemisahan antara subsektor akomodasi dan usaha makan minum, serta tidak menyebut kontribusi spesifik kabupaten atau kota di NTT, termasuk wilayah Flores dan Labuan Bajo.

Tanpa data per kabupaten, tingkat hunian, kunjungan wisatawan, lama tinggal, dan belanja wisatawan, angka pertumbuhan kategori akomodasi dan makan minum belum dapat langsung disamakan dengan laju pertumbuhan pariwisata di Labuan Bajo atau daerah lain di Flores.

Perbandingan dengan triwulan I 2026

Sebelumnya, lembaga fiskal pusat mencatat perekonomian NTT pada triwulan I 2026 tumbuh 5,32 persen secara tahunan dengan nilai PDRB atas dasar harga berlaku sekitar Rp 37,88 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 sekitar Rp 20,42 triliun.

Dibandingkan angka tersebut, laju tahunan pada triwulan II 2026 lebih rendah sekitar 0,31 poin persentase. Meski demikian, dari sisi kuartalan, ekonomi NTT berbalik dari penurunan pada triwulan I menjadi pertumbuhan positif 7,11 persen pada triwulan II.

Laporan-laporan resmi menekankan bahwa pola musiman, terutama di sektor pertanian dan kegiatan berbasis cuaca, mempengaruhi pergerakan kuartalan perekonomian NTT. Karena itu, angka pertumbuhan kuartalan perlu dibaca sebagai bagian dari pola tahunan, bukan semata-mata sebagai perubahan struktural jangka panjang.

Posisi NTT dalam kawasan Bali dan Nusa Tenggara

Di tingkat regional, Bank Indonesia mencatat bahwa kawasan Bali dan Nusa Tenggara (Balinusra) menjadi wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia pada triwulan II 2026.

Kontribusi NTT terhadap perekonomian Balinusra dalam rilis-rilis resmi terkait triwulan II 2026 tidak dirinci hingga tingkat provinsi. Namun, siaran pers pemerintah pusat mengenai perekonomian nasional menyebut bahwa wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan sekitar 6,10 persen, didukung terutama sektor pertambangan.

Bagi Labuan Bajo dan kabupaten-kabupaten di Flores bagian barat, angka-angka makro provinsi NTT memberi konteks umum mengenai arah perekonomian. Pemerintah daerah dan pelaku usaha masih membutuhkan data sektoral dan spasial yang lebih rinci untuk menilai seberapa besar penguatan sektor akomodasi dan makan minum benar-benar dirasakan oleh hotel, usaha makan minum, transportasi, dan rantai pasok lokal di destinasi wisata.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.