Penumpang Udara NTT Naik 33 Persen, Mawatu Dibangun di Batu Cermin
Jumlah penumpang angkutan udara di Nusa Tenggara Timur pada Maret 2026 naik 33,40 persen secara tahunan menjadi 223.302 orang.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Labuan Bajo — Jumlah penumpang angkutan udara di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Maret 2026 tercatat 223.302 orang, naik 33,40 persen dibandingkan Maret 2025 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) NTT.
Peningkatan mobilitas itu terjadi di berbagai bandara di NTT, dengan Bandara Eltari Kupang sebagai penyumbang terbesar dan Bandara Komodo di Labuan Bajo menyumbang 23,93 persen dari total penerbangan.
Pertumbuhan penumpang dan konektivitas udara menjadi salah satu dasar pengembangan kawasan baru di sekitar Labuan Bajo, termasuk proyek terpadu Mawatu di Pantai Batu Cermin yang digarap Vasanta Group.
Lonjakan penumpang dan wisatawan
BPS NTT mencatat jumlah penumpang angkutan udara di provinsi itu pada Maret 2026 sebanyak 223.302 orang.
Data tersebut menunjukkan kenaikan 38,10 persen dibandingkan Februari 2026 dan 33,40 persen dibandingkan Maret 2025.
Dalam periode yang sama, Bandara Eltari Kupang menyumbang 36,87 persen penerbangan, disusul Bandara Komodo Labuan Bajo dengan 23,93 persen.
Media dan pengembang properti merujuk data BPS NTT itu sebagai indikator meningkatnya mobilitas dan pariwisata menuju NTT, termasuk ke Labuan Bajo.
Secara terpisah, laporan mengenai kunjungan wisatawan mancanegara ke NTT pada Maret 2026 juga menunjukkan tren kenaikan, meski angka rinci ke masing-masing pintu masuk tidak dipaparkan dalam sumber yang digunakan.
Mawatu di Pantai Batu Cermin
Di tengah pertumbuhan pariwisata dan transportasi udara, kawasan Mawatu di Pantai Batu Cermin dikembangkan sebagai pusat kota baru dan destinasi gaya hidup di Labuan Bajo.
Vasanta Group memperkenalkan Mawatu sebagai proyek mix-use tourism development yang memadukan pariwisata, komersial, kuliner, hiburan, budaya, dan ruang komunitas dalam satu kawasan terpadu.
Berbagai laporan menyebut Mawatu berlokasi di tepi Pantai Batu Cermin, sekitar 10 menit dari Bandara Internasional Komodo, dan dikembangkan di atas lahan sekitar 12 hektare sebagai pusat kota baru Labuan Bajo.
Konsep kawasan ini dirumuskan dalam delapan pilar pengembangan, yakni hospitality, lifestyle, culture, culinary, creative, maritime, nature, dan community.
Vasanta Group menempatkan Mawatu sebagai kawasan destinasi wisata terpadu dan one-stop integrated tourism township yang dikelola secara privat.
Fasilitas dan pelibatan komunitas lokal
Di sektor gaya hidup dan komersial, Mawatu dirancang menghadirkan area ritel, kuliner, dan hiburan, termasuk bioskop Cinema XXI yang disebut sebagai bioskop modern pertama di Pulau Flores.
Fasilitas lain yang direncanakan antara lain hotel berbintang, vila tematik, beach club, restoran apung, dermaga kapal, alun-alun untuk kegiatan seni dan musik, serta area UMKM.
Sejumlah laporan menekankan rencana pelibatan pengrajin tenun dan komunitas kreatif lokal dalam kegiatan di kawasan Mawatu, sejalan dengan visi mendukung ekonomi kreatif Labuan Bajo.
Pengembangan kawasan ini berlangsung bertahap sejak sebelum 2023, dengan fase pertama difokuskan pada pembangunan commercial village dan fasilitas pendukung lain.
Dampak bagi Labuan Bajo
Peningkatan penumpang angkutan udara dan pengembangan kawasan terpadu seperti Mawatu dinilai pengembang sebagai respons terhadap kebutuhan fasilitas pendukung pariwisata, mulai dari akomodasi, ruang publik, hingga hiburan.
Menurut Vasanta Group, kehadiran Mawatu diharapkan menjadi ikon baru kota dan pusat gaya hidup yang mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, pelestarian lingkungan, dan penguatan komunitas.
Sejumlah warga dan pelaku usaha lokal yang dikutip media berharap pengembangan kawasan baru di Pantai Batu Cermin membuka peluang kerja dan usaha, sekaligus menghadirkan ruang pertemuan bagi masyarakat dan wisatawan.
Sejauh ini, data resmi yang tersedia lebih banyak menggambarkan tren kenaikan penumpang udara dan profil kawasan Mawatu, sementara dampak rinci terhadap lapangan kerja, pendapatan warga, serta layanan publik di Labuan Bajo belum dipaparkan dalam detail kuantitatif.
Sumber
Berita berikutnya

KPPOD Soroti Tekanan Fiskal Manggarai Barat Akibat Turunnya Transfer Pusat
KPPOD menilai penurunan Transfer ke Daerah (TKD) beberapa tahun terakhir menekan fiskal banyak daerah.

