135 Petani Flores Timur Belajar Pertanian Berkelanjutan di TTS
Sebanyak 135 petani Flores Timur mengikuti kunjungan belajar pertanian berkelanjutan ke Timor Tengah Selatan pada 8–21 Juni 2026. Program ini melibatkan Plan Indonesia, Bappenas, dan sejumlah mitra pembangunan.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 2 menit baca
Labuan Bajo — Sebanyak 135 petani dari Flores Timur mengikuti kunjungan belajar pertanian berkelanjutan di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, pada 8–21 Juni 2026. Program ini digelar untuk memperkuat praktik hortikultura, kelembagaan petani, akses pasar, dan ekonomi lokal berbasis pertanian.
Plan Indonesia menyebut kegiatan itu berlangsung selama dua pekan dan diikuti 135 peserta, terdiri atas 80 petani Flores Timur, 20 petani dampingan Plan Indonesia, serta 35 petani dampingan Caritas Indonesia. Kegiatan ini juga melibatkan Bappenas, Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, GIZ, Yayasan Krisna Galensya, dan Caritas Indonesia.
Dalam siaran persnya, Plan Indonesia menjelaskan bahwa para peserta akan mempelajari hortikultura berbasis Good Agricultural Practices (GAP), pertanian cerdas iklim, penguatan kelembagaan kelompok tani, kewirausahaan hijau, akses pasar, dan pengelolaan keuangan. Kegiatan penerimaan peserta dilakukan di Soe pada 10 Juni 2026.
Rincian peserta
Plan Indonesia juga menyebut program ini menjadi bagian dari penguatan model Youth-Led Agri-food (YLAF) di TTS. Lembaga itu menautkan pembelajaran lapangan dengan upaya mendorong keterlibatan pemuda dan perempuan dalam sektor pertanian berkelanjutan.
Dalam keterangan yang sama, Plan Indonesia menyebut kegiatan tersebut merupakan ruang pertukaran pengetahuan antara wilayah yang mengembangkan hortikultura di Flores Timur dan TTS. Informasi itu sejalan dengan laporan media lokal yang pada 8 Juni 2026 memberitakan keberangkatan petani Flores Timur ke Soe untuk pelatihan pengembangan hortikultura berbasis GAP.
Konteks program
Laporan media lokal pada 8 Juni 2026 menyebut sedikitnya 90 petani diberangkatkan dari Flores Timur ke Soe untuk mengikuti pelatihan hortikultura. Namun siaran pers Plan Indonesia pada 10 Juni 2026 menjelaskan bahwa total peserta kunjungan belajar berjumlah 135 orang, sehingga angka itu menjadi acuan yang digunakan dalam naskah ini.
Kegiatan tersebut diposisikan sebagai bagian dari penguatan rantai pasok pangan lokal, jejaring antarpelaku tani, dan pembelajaran antarwilayah di Nusa Tenggara Timur. Dengan pola itu, peserta diharapkan membawa pulang praktik budidaya dan pengelolaan usaha tani yang bisa diterapkan di Flores Timur.
Program ini berlangsung hingga 21 Juni 2026 dan ditutup dengan agenda pembelajaran lapangan di wilayah dampingan mitra pelaksana di TTS. Dalam siaran persnya, Plan Indonesia menegaskan bahwa fokus pembelajaran mencakup praktik budidaya, pasar, dan penguatan kelompok tani.
Sumber
Berita berikutnya

Farmer’s Share Sapi Bali Manggarai Barat Tercatat 63,55 Persen
Penelitian Jurnal Penelitian Inovatif mencatat farmer’s share sapi Bali di Manggarai Barat sebesar 63,55 persen, dengan biaya dan keuntungan tertinggi…
Baca juga


