Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Warga Pulau Kukusan Masih Beli Air Bersih dari Luar Pulau

Warga Pulau Kukusan di Kabupaten Manggarai Barat masih bergantung pada pembelian air bersih dari luar pulau.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Labuan Bajo — Warga Pulau Kukusan, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, masih harus membeli air bersih dari luar pulau untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga seperti minum, memasak, mandi, dan mencuci. Kondisi ini mencerminkan persoalan akses air bersih yang dialami sejumlah pulau kecil di kawasan barat Flores.

Sebuah kajian tentang status Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat, masyarakat di Pulau Kukusan harus membeli air bersih sebanyak tiga jeriken dengan harga sekitar Rp5.000 untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Kajian yang sama menyebut bahwa keterbatasan air bersih di pulau-pulau kecil NTT mendorong masyarakat bergantung pada pasokan air dari luar pulau.

Situasi serupa terjadi di pulau-pulau lain di Kabupaten Manggarai Barat. Victory News Manggarai Barat memberitakan, masyarakat di Pulau Papagarang dalam kawasan Taman Nasional Komodo membeli air isi ulang dan air tawar yang didatangkan dari Labuan Bajo, dengan harga sekitar Rp35.000 per drum. Menurut laporan itu, hasil tangkapan ikan nelayan sebagian besar digunakan untuk membiayai kebutuhan air bersih.

Akses Air Bersih di Pulau-Pulau Kecil

Kajian tentang pelayanan air bersih di NTT menyebutkan bahwa pemerintah daerah di Manggarai Barat baru mampu menyediakan layanan perahu tangki air untuk masyarakat di Pulau Komodo, Pulau Papagarang, dan Pulau Rinca. Layanan tersebut beroperasi setiap hari untuk memasok kebutuhan air minum warga di pulau-pulau tersebut.

Bagi pulau-pulau lain yang belum terlayani perahu tangki, seperti Pulau Kukusan, akses air bersih masih bergantung pada pembelian dan pasokan dari luar pulau. Dalam banyak kasus, warga menggunakan kapal motor atau perahu nelayan untuk membawa air dari Labuan Bajo atau sumber lain di daratan utama.

Model akses seperti ini membuat biaya air bersih tidak hanya mencakup harga air per jeriken atau drum, tetapi juga ongkos transportasi laut. Kajian air bersih di Manggarai Barat menyebut bahwa kebutuhan air bersih penduduk pulau-pulau kecil umumnya dipasok melalui Labuan Bajo dan didistribusikan dengan kapal. Biaya pengangkutan air dengan satu tangki air dapat mencapai sekitar Rp85.000 per perjalanan.

Dampak terhadap Rumah Tangga

Praktik membeli air bersih dan menanggung biaya angkutan laut menjadi beban tambahan bagi ekonomi rumah tangga di pulau-pulau kecil. Di Pulau Papagarang, menurut Victory News, harga air sekitar Rp35.000 per drum membuat pengeluaran untuk air menjadi salah satu pos biaya terbesar bagi keluarga nelayan.

Kajian tentang keterbatasan layanan dasar di pulau-pulau NTT menilai bahwa kondisi seperti di Pulau Kukusan menunjukkan kerentanan masyarakat terhadap perubahan musim dan cuaca, karena sumber air lokal sangat terbatas dan mudah terdampak kemarau. Ketika pasokan dari luar terganggu, kebutuhan air bersih rumah tangga terancam.

Di beberapa wilayah lain di sekitar Labuan Bajo, media lokal Katong NTT melaporkan warga dusun di pulau kecil harus menggunakan perahu motor untuk membeli air galon di Labuan Bajo, dengan harga sekitar Rp15.000 per galon dan Rp7.000 per jeriken 20 liter untuk air tawar yang mengandung kapur. Praktik ini menggambarkan pola pengeluaran serupa: sebagian pendapatan rumah tangga dialokasikan untuk membeli dan mengangkut air bersih.

Upaya dan Program Penyediaan Air

Sejumlah lembaga mulai mengembangkan program penyediaan air bersih yang lebih permanen bagi masyarakat pulau. Insan Bumi Mandiri bersama Paragon Corp, misalnya, membangun akses air bersih di sebuah pulau kecil di NTT dengan sumur bor baru dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Sebelum program itu, warga di pulau tersebut mengandalkan pasokan dari luar pulau, termasuk dari Labuan Bajo, dengan biaya Rp25.000 hingga Rp40.000 per galon dan ongkos kapal yang bisa mencapai Rp500.000 hingga Rp1.000.000 per perjalanan.

Di Manggarai Barat, JICA mencatat Pulau Messah sebagai salah satu pulau yang belum memiliki sistem penyediaan air domestik dan telah lama bergantung pada pembelian air bersih dari Labuan Bajo. Melalui kerja sama teknis akar rumput, proyek dukungan kapasitas pemeliharaan dan pengelolaan sistem filtrasi membran reverse osmosis (RO) sedang dikembangkan di pulau tersebut.

Berbagai contoh ini menunjukkan bahwa persoalan air bersih di Pulau Kukusan dan pulau-pulau kecil lain di Manggarai Barat tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari masalah yang lebih luas terkait layanan dasar dan infrastruktur di kawasan kepulauan NTT.

Sumber

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.