KemenPPPA Salurkan Bantuan Perempuan dan Anak Korban Gempa NTT
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyalurkan puluhan ton bantuan kebutuhan spesifik bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan korban gempa di Nusa Tenggara Timur.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyalurkan bantuan logistik bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur pada akhir Agustus 2026. Bantuan ini merupakan bagian dari dukungan pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan pemulihan psikososial korban di sejumlah kabupaten di Pulau Flores.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi mengunjungi Labuan Bajo dan fasilitas kesehatan di Manggarai Barat untuk memastikan perempuan dan anak korban gempa mendapat layanan dan bantuan sesuai kebutuhan spesifik mereka. Dalam kunjungan itu, kementerian menyalurkan bantuan berupa nutrisi anak, pakaian, perlengkapan tidur, serta dukungan psikososial untuk pengungsi.
Menurut pemberitaan sejumlah media nasional, KemenPPPA bersama mitra pembangunan dan dunia usaha menghimpun bantuan dengan total sekitar 46,6 ton untuk perempuan dan anak korban gempa di NTT. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Jakarta sebelum didistribusikan ke wilayah terdampak di Flores. Angka 30 ton yang disebut dalam sebagian laporan merujuk pada salah satu kloter atau bagian dari total bantuan yang dihimpun.
Mekanisme penyaluran dan sasaran
Media yang mengutip keterangan resmi KemenPPPA menyebutkan bahwa bantuan ditujukan untuk tujuh kabupaten terdampak gempa di Pulau Flores, antara lain Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Penentuan jenis bantuan dilakukan setelah koordinasi kementerian dengan Dinas P3A Provinsi NTT dan dinas terkait di kabupaten-kabupaten tersebut untuk memetakan kebutuhan spesifik perempuan dan anak.
Bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan pangan, sanitasi, kesehatan, pakaian, dan perlengkapan tidur. Pemberitaan IDN Times dan Metro TV News, yang mengutip penjelasan Menteri Arifah, merinci bantuan berupa nutrisi balita dan anak, air minum dalam kemasan, makanan olahan dan siap saji, popok bayi, pembalut, sabun, pasta dan sikat gigi, losion antinyamuk, pakaian anak dan dewasa, mukena dan abaya, handuk, selimut, sarung, serta buku edukasi psikososial seperti buku cerita dan mewarnai.
Di Labuan Bajo dan sekitarnya, kementerian juga menyalurkan bantuan langsung kepada pengungsi di posko, antara lain nutrisi anak, makanan olahan, air minum, pakaian, selimut, perlengkapan tidur, buku edukasi, dan fasilitas sanitasi. Selain itu, diberikan alat bantu jalan kepada korban yang mengalami kesulitan berjalan serta mainan bagi anak-anak yang menjalani pemulihan luka berat. Bantuan ini diarahkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan harian dan mendukung pemulihan, terutama bagi kelompok rentan.
Peran BNPB dan dukungan transportasi
Distribusi bantuan ke NTT berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, yang mengoperasikan pos pendukung logistik nasional untuk pengiriman bantuan gempa NTT. BNPB melaporkan beberapa sorti penerbangan pesawat angkut TNI AU dari Jakarta menuju Labuan Bajo dan Maumere, menggunakan Airbus A400M dan pesawat lain, dengan muatan puluhan ton bantuan logistik berupa sembako, tenda pengungsi, pakaian, obat-obatan, dan kebutuhan lain.
Bantuan yang dihimpun KemenPPPA dan mitra pembangunan menjadi bagian dari arus logistik tersebut untuk kelompok perempuan, anak, lansia, ibu hamil dan menyusui, serta kelompok rentan lain di wilayah terdampak. Menteri Arifah menyatakan dukungan akan diberikan secara bertahap sesuai perkembangan kebutuhan di lapangan, dengan penekanan pada kesehatan reproduksi dan perlindungan perempuan dan anak selama masa tanggap darurat dan pemulihan.
Gabungan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, dan mitra pembangunan ini diharapkan dapat memperkuat layanan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan dan anak di NTT pascagempa, termasuk di Labuan Bajo dan kabupaten lain di Flores.
Sumber
Berita berikutnya
Rutan Ruteng Rusak Pascagempa, 52 Warga Binaan Dipindah ke Bajawa
Ditjen Pemasyarakatan menurunkan tim teknis ke Rutan Ruteng untuk menilai kerusakan pascagempa dan menyiapkan rehabilitasi fisik. Sebanyak 52 warga bi…
Baca juga


