Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Terminal Labuan Bajo Berkapasitas 100.000 TEUs dan Siap Dioperasikan

Memo investor Pelindo menyatakan pembangunan Terminal Multipurpose Labuan Bajo di Wae Kelambu telah selesai dengan kapasitas 100.000 TEUs dan lapangan peti kemas seluas 2 hektare.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan Bajo — Terminal Multipurpose Labuan Bajo di Wae Kelambu disebut memiliki kapasitas hingga 100.000 TEUs dengan dukungan lapangan peti kemas seluas 2 hektare, menurut memo investor PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang memuat proyek strategis perusahaan pada 2025–2026.

Dalam dokumen tersebut, Pelindo menyatakan bahwa pembangunan Terminal Multipurpose Labuan Bajo telah selesai dengan kapasitas 100.000 TEUs yang didukung lapangan peti kemas seluas 2 hektare. TEUs atau twenty-foot equivalent units adalah satuan ekuivalen peti kemas berukuran 20 kaki yang lazim digunakan untuk mengukur kapasitas dan arus peti kemas.

Penjelasan mengenai target kapasitas 100.000 TEUs pernah disampaikan manajemen Pelindo sebelum terminal dibangun. Dalam majalah internal Pelindo, Direktur Utama saat itu, Doso Agung, memprediksi kapasitas pelabuhan dapat meningkat dari awalnya 4.000 TEUs hingga mencapai 100.000 TEUs per tahun seiring perkembangan fasilitas.

Konstruksi dan kapasitas terminal

Terminal Multipurpose Labuan Bajo dibangun di kawasan Wae Kelambu, Kabupaten Manggarai Barat, sebagai pelabuhan logistik untuk kargo dan peti kemas yang terpisah dari dermaga penumpang di pusat kota. Pembangunan terminal ini merupakan penugasan Kementerian Perhubungan kepada Pelindo 3 (sekarang bagian dari Pelindo) untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Labuan Bajo.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi pada 2020 menyebut proyek yang sama dengan nama Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu di Labuan Bajo. Setelah selesai, pelabuhan ini direncanakan memiliki dermaga sepanjang 120 meter yang dapat disandari kapal berkapasitas 25.000 DWT serta kapasitas peti kemas hingga 100.000 TEUs dan fasilitas curah cair hingga 1,5 juta ton per tahun.

Dalam pemberitaan lain, pelabuhan multipurpose di Labuan Bajo disebut sebagai pelabuhan logistik pertama di wilayah tersebut, dengan dua dermaga utama dan lapangan penumpukan sisi laut yang direncanakan mencapai beberapa hektare, termasuk area peti kemas. Angka kapasitas 100.000 TEUs dalam berbagai dokumen dan pernyataan ini menggambarkan target kemampuan penanganan peti kemas tahunan yang dirancang untuk terminal.

Status kesiapan dan operasi

Menurut keterangan Pelindo pada 2021, terminal multipurpose di Labuan Bajo dinyatakan siap dioperasikan setelah beberapa fasilitas pendukung selesai dan uji coba pelayanan dilakukan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa terminal telah memasuki tahap kesiapan operasi dan mulai melayani kegiatan bongkar muat, meski detail arus peti kemas aktual tidak dijabarkan dalam pemberitaan itu.

Dalam kajian rencana induk pelabuhan yang memuat proyeksi kegiatan di Terminal Multipurpose Labuan Bajo, diperkirakan volume barang kargo dan peti kemas akan tumbuh bertahap, dengan proyeksi puluhan ribu TEUs dalam beberapa tahun ke depan. Proyeksi tersebut merupakan perhitungan teknis perencana dan bukan laporan realisasi, sehingga pembaca perlu membedakan antara kapasitas terpasang, target proyeksi, dan volume aktual yang terlayani.

Digitalisasi dan sistem PTOS-M

Pelindo mengembangkan sistem operasi terminal multipurpose terintegrasi bernama PTOS-M (Pelindo Terminal Operating System Multipurposeplanning dan controlling dan dirancang untuk digunakan di terminal multipurpose di berbagai cabang Pelindo.

Menurut Pelindo, PTOS-M telah digunakan di 16 cabang pelabuhan dan akan diterapkan secara bertahap di terminal lain di Indonesia. Dengan demikian, Terminal Multipurpose Labuan Bajo termasuk dalam jaringan terminal yang menjadi sasaran standardisasi dan digitalisasi layanan pelabuhan, meski detail penerapan per terminal tidak dirinci dalam memo investor.

Dampak bagi logistik Manggarai Barat

Terminal Multipurpose Labuan Bajo dirancang sebagai simpul distribusi barang untuk mendukung aktivitas ekonomi di Labuan Bajo dan Manggarai Barat. Dengan kapasitas yang direncanakan mencapai 100.000 TEUs dan fasilitas kargo lain, terminal ini diproyeksikan melayani kebutuhan logistik komoditas umum, barang konsumsi, dan pasokan untuk sektor pariwisata di kawasan tersebut.

Kajian rencana induk pelabuhan menyebut pengembangan konektivitas dan integrasi hinterland sebagai bagian dari strategi pemanfaatan terminal. Kinerja dan manfaat nyata bagi pelaku usaha akan bergantung pada keterhubungan antara pelabuhan, jadwal kapal, akses jalan, dan fasilitas penunjang seperti gudang dan layanan digital yang disiapkan Pelindo.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.