Bandara Komodo Ditinjau Pascagempa NTT untuk Dukung Pemulihan
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara meninjau Bandara Komodo pada 29 Agustus 2026 untuk mempercepat pemulihan pascagempa NTT. Bandara di Labuan Bajo itu tetap beroperasi dengan pembatasan di area terdampak.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 2 menit baca
Labuan Bajo — Direktorat Jenderal Perhubungan Udara meninjau Bandara Komodo pada Sabtu, 29 Agustus 2026, dalam rangka percepatan pemulihan infrastruktur dan fasilitas penerbangan pascagempa di Nusa Tenggara Timur. Bandara di Labuan Bajo itu menjadi salah satu titik awal peninjauan sebelum rombongan melanjutkan kunjungan ke bandara lain di Flores.
Dalam keterangan resmi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, rombongan dipimpin Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa dan menyambangi sejumlah bandar udara terdampak, termasuk Komodo, Maumere, Ende, Bajawa, dan Ruteng. Otoritas penerbangan menyebut peninjauan dilakukan untuk memastikan kondisi infrastruktur dan fasilitas penerbangan serta mempercepat pemulihan pascagempa.
Di Bandara Komodo, pemerintah menempatkan bandara sebagai simpul konektivitas untuk mendukung penanganan bencana. Keterangan resmi itu menyebut dukungan penerbangan dibutuhkan untuk mobilisasi personel, logistik, layanan kesehatan, dan tenaga ahli menuju wilayah terdampak.
Operasional Bandara Komodo sendiri tetap berjalan dengan pembatasan setelah gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyebut runway dan apron masih dapat digunakan, sementara pemeriksaan menemukan retakan pada salah satu area taxiway dan kerusakan pada sejumlah fasilitas bangunan.
Media lokal dan nasional juga melaporkan bahwa bandara tetap melayani penerbangan dengan penyesuaian, meski sejumlah area perlu diperiksa lebih lanjut. Pada tahap awal penanganan, Kementerian Perhubungan menyampaikan bahwa seluruh bandara di Flores dan sekitarnya tetap beroperasi normal untuk mendukung mobilisasi masyarakat, bantuan kemanusiaan, logistik, dan kebutuhan penanganan pascabencana.
Peninjauan 29 Agustus itu memperlihatkan fungsi Bandara Komodo tidak hanya sebagai pintu masuk penumpang, tetapi juga sebagai titik dukungan operasi kemanusiaan. Dalam keterangan yang sama, otoritas penerbangan menekankan pentingnya koordinasi antarpersonel dan antarinstansi agar pelayanan penerbangan tetap berjalan di tengah upaya pemulihan.
Fungsi Bandara Komodo dalam respons bencana
Bandara Komodo dipakai sebagai simpul udara untuk mengalirkan kebutuhan darurat ke wilayah Flores dan sekitarnya. Peran itu mencakup pengiriman personel, alat kesehatan, bantuan logistik, dan dukungan teknis lain yang diperlukan dalam penanganan pascagempa.
Kementerian Perhubungan sebelumnya juga menyampaikan bahwa tidak ada penutupan operasional bandara akibat gempa 15 Agustus 2026. Di Bandara Komodo, operasi penerbangan tetap berlangsung sambil menjalani pembatasan di area yang terdampak kerusakan.
Dengan demikian, peninjauan 29 Agustus menjadi bagian dari pengawasan lanjutan atas pemulihan bandara-bandara di Flores. Fokus pemerintah saat itu adalah menjaga keselamatan penerbangan sekaligus memastikan akses udara tetap terbuka bagi masyarakat dan penanganan bencana.
Sumber
Berita berikutnya

KSOP Labuan Bajo Periksa Kesiapan Kapal Wisata dan Sosialisasikan Keselamatan
KSOP Kelas III Labuan Bajo memeriksa kesiapan kapal wisata dan menyosialisasikan keselamatan pelayaran di perairan Manggarai Barat. KLM Ratana disebut…
Baca juga




