Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Pemkab Manggarai Barat Soroti Stunting 11,6 Persen pada November 2024

Kasus stunting di Manggarai Barat kembali naik dan mencapai 11,6 persen atau 2.475 balita pada November 2024. Wakil Bupati Yulianus Weng menyerukan penguatan kolaborasi lintas sektor dalam publikasi data stunting kabupaten di Labuan Bajo.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Labuan Bajo — Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, menyerukan penguatan kolaborasi lintas sektor setelah kasus stunting di daerah itu kembali meningkat dan mencapai 11,6 persen atau sekitar 2.475 balita pada November 2024 berdasarkan data aplikasi e-PPGBM yang dipublikasikan di Labuan Bajo pada Rabu, 18 Desember 2024.

Kasus ini disampaikan Wakil Bupati Manggarai Barat Yulianus Weng dalam acara Publikasi Data Stunting Tahun 2024 Tingkat Kabupaten Manggarai Barat di Labuan Bajo, yang antara lain dilaporkan Detik Bali dan Pos-Kupang.

Menurut pemberitaan tersebut, prevalensi stunting di Manggarai Barat sepanjang 2024 cenderung fluktuatif dan kembali naik ke dua digit sejak Maret hingga November. Pada Januari 2024 tercatat 1.863 anak stunting atau 9,9 persen, sedangkan pada November naik menjadi 2.475 anak atau 11,6 persen berdasarkan pengukuran di aplikasi elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).

Data stunting jadi bahan evaluasi

Dalam paparannya, Yulianus Weng menyebut perubahan angka tersebut sebagai alarm bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain untuk menelaah persoalan mendasar yang memengaruhi status gizi balita.

Ia menegaskan bahwa publikasi data stunting di tingkat kabupaten diperlukan sebagai dasar evaluasi dan perencanaan intervensi. Data berkala dari e-PPGBM dinilai membantu pemerintah melihat tren, mengukur capaian, dan memastikan penanganan stunting berjalan terarah dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain persoalan pertumbuhan fisik anak, pemberitaan mengenai acara ini menyoroti bahwa stunting berpotensi berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, risiko penyakit jangka panjang, serta produktivitas pada masa dewasa. Pemerintah daerah diminta lebih serius memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi, layanan kesehatan ibu dan anak, serta perbaikan lingkungan hidup.

Tren kasus dan ajakan kolaborasi

Data yang disampaikan dalam publikasi stunting 2024 menunjukkan tren sebagai berikut:

  • Januari 2024: 1.863 anak stunting atau 9,9 persen.
  • Februari 2024: 1.976 anak atau 8,8 persen.
  • Maret 2024: 2.096 anak atau 10,3 persen.
  • April 2024: 2.487 anak atau 12,4 persen.
  • Mei 2024: 2.187 anak atau 11,01 persen.
  • Juni 2024: 2.608 anak atau 11,8 persen.
  • Juli 2024: 2.708 anak atau 12,4 persen.
  • Agustus 2024: 2.589 anak atau 11,9 persen.
  • September 2024: 2.750 anak atau 12,7 persen.
  • Oktober 2024: 2.627 anak atau 12,22 persen.
  • November 2024: 2.475 anak atau 11,6 persen.
  • Sumber pengukuran: e-PPGBM.

Menurut laporan Pos-Kupang, sejak Maret 2024 angka stunting di Manggarai Barat bertahan pada kisaran dua digit dan baru turun sedikit pada November, meski belum kembali ke satu digit.

Dalam kegiatan publikasi data stunting itu, Yulianus Weng mengajak sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, perikanan, dan pemberdayaan perempuan untuk memperkuat kerja sama. Pemerintah daerah juga disebut membutuhkan dukungan dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, dan organisasi keagamaan agar intervensi gizi dan kesehatan bisa menjangkau keluarga berisiko lebih luas.

Fokus pada kelompok rentan

Pemberitaan mengenai acara tersebut menegaskan bahwa anggaran penanganan stunting di Manggarai Barat diharapkan digunakan tepat sasaran, dengan fokus pada kelompok rentan seperti balita yang telah teridentifikasi stunting, ibu hamil, balita secara umum, dan remaja putri.

Selain layanan kesehatan dan intervensi gizi, pemerintah daerah mendorong penguatan edukasi tentang gizi anak, pola asuh, pola makan, serta sanitasi dan akses air bersih. Upaya pencegahan dini dinilai penting agar keluarga memahami cara memenuhi kebutuhan gizi dan kesehatan anak.

Yulianus Weng menyebut bahwa tahun 2025 perlu menjadi momentum kebangkitan untuk menurunkan prevalensi stunting di Manggarai Barat. Seruan tersebut disampaikan dalam konteks evaluasi data 2024 dan menjadi dorongan agar seluruh pihak meningkatkan komitmen terhadap penanganan stunting dan pembangunan sumber daya manusia di wilayah ini.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.