Pelaku Wisata Labuan Bajo Dorong Mitigasi Gempa Diperkuat
Pelaku pariwisata Labuan Bajo mendorong penguatan mitigasi gempa dan tsunami, termasuk pelatihan dan prosedur keselamatan, setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 dan memicu peringatan dini tsunami.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Labuan Bajo — Pelaku pariwisata di Labuan Bajo meminta penguatan mitigasi gempa dan tsunami setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dan memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah.
Permintaan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi pemulihan pariwisata yang dipimpin Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Labuan Bajo pada Kamis, 28 Agustus 2026.
Menurut keterangan Kementerian Pariwisata yang dikutip berbagai media, pertemuan di Labuan Bajo membahas pemulihan aktivitas wisata sekaligus penguatan kesiapsiagaan bencana di destinasi tersebut.
Kementerian menekankan bahwa keselamatan masyarakat dan wisatawan menjadi dasar pengembangan pariwisata yang berkualitas, terutama di kawasan yang berisiko gempa bumi dan tsunami.
Fokus pada keselamatan wisata bahari
Wisata bahari menjadi salah satu kekuatan utama pariwisata Labuan Bajo.
Karena itu, menurut pemberitaan mengenai rapat koordinasi tersebut, kesiapan di kapal dan lokasi wisata bahari menjadi bagian penting dari pembahasan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku pariwisata.
Pembahasan mencakup perlunya peningkatan pelatihan bagi pelaku yang berhadapan langsung dengan wisatawan, seperti nakhoda, awak kapal, pemandu, dan operator wisata.
Kementerian Pariwisata menyebut penguatan kesiapsiagaan perlu dilakukan melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penerapan prosedur operasional standar secara konsisten, kepatuhan terhadap ketentuan keselamatan, serta kesiapan menghadapi kondisi darurat di darat dan laut.
Selain itu, pelaku usaha pariwisata menekankan pentingnya prosedur komunikasi yang jelas antara kapal, pelabuhan, pengelola destinasi, hotel, dan pemerintah ketika terjadi keadaan darurat.
Gempa M7,7 Flores dan dampaknya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB.
Analisis BMKG menunjukkan episenter gempa berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada kedalaman sekitar 15 kilometer.
BMKG menyebut gempa dangkal dengan mekanisme sesar naik itu memicu peringatan dini tsunami, yang kemudian diakhiri pada pagi hari yang sama setelah pemantauan lebih lanjut.
Dalam beberapa siaran pers setelah kejadian, BMKG dan lembaga terkait menjelaskan bahwa gempa dan tsunami berdampak pada sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur, termasuk kabupaten-kabupaten di Flores.
Data pemerintah pusat menunjukkan adanya korban jiwa, luka-luka, serta kerusakan bangunan dengan tingkat yang bervariasi di wilayah terdampak.
Aktivitas pariwisata dan kebutuhan mitigasi
Dalam kunjungan ke Labuan Bajo pada 28 Agustus 2026, Menteri Pariwisata menyatakan bahwa aktivitas pariwisata, termasuk pelayaran wisata dan kunjungan ke Taman Nasional Komodo, telah kembali berjalan dengan prinsip kehati-hatian.
Pemerintah menekankan perlunya pemulihan pariwisata yang sejalan dengan penguatan mitigasi bencana.
Langkah yang disoroti antara lain peningkatan kapasitas pelaku pariwisata, penerapan standar operasional keselamatan, serta koordinasi antar-pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah.
Pelaku wisata di Labuan Bajo juga menilai informasi kepada wisatawan mengenai langkah yang harus dilakukan ketika terjadi gempa atau ancaman tsunami, pihak yang memberi instruksi, dan lokasi evakuasi yang dituju, merupakan bagian penting dari upaya mitigasi.
Sumber
- BMKG – Dinamika Gempa Flores M7,7: Sebaran dan Klaster Gempa Susulan di Zona Flores Back-Arc Thrust
- RRI – Gempa Magnitudo 7,7 Flores dan Tragedi 1992, Apa Hubungannya
- Detik – Menpar Widiyanti Bahas Pemulihan Pariwisata Pascagempa di Labuan Bajo
- Media Indonesia – Menteri Pariwisata Dorong Pemulihan Pariwisata Labuan Bajo Pascagempa
Berita berikutnya

IN Ditangkap, Buronan Kasus Perburuan Rusa Bersenjata di TN Komodo
IN (33), warga Desa Sumi, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, ditangkap tim gabungan sebagai buronan kasus dugaan perburuan rusa menggunakan senjata api…
Baca juga




