Wae Rebo Kembali Dibuka Terbatas Usai Gempa 7,7, Jalur Trekking Dipantau
Desa wisata Wae Rebo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, kembali menerima kunjungan wisatawan dengan skema percobaan secara terbatas dan bertahap setelah ditutup akibat gempa bumi M 7,7 yang memicu potensi longsor di jalur…
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Desa wisata Wae Rebo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, kembali menerima kunjungan wisatawan secara terbatas setelah penutupan akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Menurut laporan detikBali, Ketua Lembaga Pelestari Budaya Wae Rebo, Mikael Tonso, menyatakan pembukaan kembali dilakukan sebagai percobaan dengan skema kunjungan terbatas dan bertahap demi keselamatan pengunjung dan masyarakat.
Media lokal Pos Kupang menulis bahwa Dewan Pengurus dan manajemen operasional Lembaga Pelestari Budaya Wae Rebo memutuskan percobaan pembukaan kembali kegiatan kunjungan wisata secara terbatas dan bertahap setelah pemantauan kondisi pascagempa bumi di jalur trekking dan kawasan desa adat.
Pembatasan kunjungan dan keselamatan
DetikBali melaporkan Wae Rebo sebelumnya ditutup sejak 15 Agustus 2026 atau hampir dua pekan karena potensi longsor di jalur trekking setelah gempa M 7,7 yang berpusat di Nagekeo, NTT.
Dalam keterangannya, Mikael Tonso menjelaskan bahwa selama masa percobaan pembukaan, kondisi jalur trekking, lingkungan, dan situasi alam akan terus dipantau. Ia menegaskan bahwa pertimbangan utama adalah keselamatan pengunjung dan warga desa.
Pos Kupang menambahkan, jika kondisi di lapangan kembali dinilai tidak aman, kegiatan kunjungan dapat dihentikan dan kawasan Wae Rebo bisa ditutup kembali sewaktu-waktu.
Pemantauan jalur trekking
Penutupan sementara Wae Rebo diumumkan melalui akun resmi pengelola dan diberitakan sejumlah media nasional pada pertengahan Agustus 2026, dengan alasan potensi longsor di satu-satunya jalur pendakian menuju desa adat.
Menurut pemberitaan tersebut, pengelola menyampaikan bahwa kawasan ditutup untuk kunjungan demi keselamatan semua pihak dan jalur pendakian belum dapat dipastikan aman.
Setelah dilakukan pemantauan pascagempa, pengelola memulai uji coba pembukaan dengan tetap menempatkan aspek keselamatan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Selama masa uji coba, wisatawan diminta mengikuti arahan pemandu dan pengelola, serta menyesuaikan rencana perjalanan dengan informasi terbaru mengenai kondisi jalur.
Skema pembukaan kembali
DetikBali menyebutkan bahwa kunjungan ke Wae Rebo dibuka kembali dengan pola terbatas dan bertahap, bukan langsung normal seperti sebelum gempa.
Pos Kupang menulis, keputusan penerimaan tamu diambil setelah pemantauan menunjukkan jalur trekking dapat digunakan dengan kewaspadaan tambahan, sementara lingkungan sekitar tetap dipantau.
Sebuah laman informasi perjalanan internasional yang merangkum status destinasi pascagempa mencatat Wae Rebo sebagai desa yang dibuka kembali dalam status "uji coba", dengan jalur trekking di bawah pengawasan dan kemungkinan perubahan status sewaktu-waktu.
Wisatawan disarankan memastikan kembali jadwal kunjungan, ketersediaan pemandu, dan ketentuan keselamatan kepada pengelola sebelum berangkat.
Profil singkat Wae Rebo
Wae Rebo dikenal sebagai desa adat pegunungan di Kabupaten Manggarai yang menjadi salah satu destinasi unggulan Nusa Tenggara Timur.
Desa ini terkenal dengan rumah adat Mbaru Niang berbentuk kerucut dan lanskap perbukitan yang sering disebut sebagai "desa di atas awan".
Pengalaman berkunjung ke Wae Rebo umumnya meliputi trekking menuju desa, bermalam di rumah adat, dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Sumber
Berita berikutnya

BPOLBF Imbau Wisatawan Cek Destinasi Pascagempa Flores
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mengimbau wisatawan yang akan berkunjung ke Flores untuk memeriksa status destinasi, akses, dan ak…
Baca juga



