Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Inflasi NTT 2,59 Persen, Harga Agustus Justru Turun

BPS mencatat Nusa Tenggara Timur mengalami inflasi tahunan 2,59 persen dan deflasi bulanan 0,40 persen pada Agustus 2026. Kedua indikator itu memakai pembanding waktu berbeda sehingga menggambarkan dua sisi pergerakan harga.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan Bajo — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat inflasi tahunan sebesar 2,59 persen pada Agustus 2026, sementara pada bulan yang sama terjadi deflasi bulanan 0,40 persen di wilayah tersebut.

Dua angka itu menggambarkan perubahan harga dengan pembanding berbeda. Inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) membandingkan tingkat harga Agustus 2026 dengan Agustus 2025, sedangkan inflasi atau deflasi bulanan month to month (m-to-m) membandingkan Agustus dengan bulan sebelumnya, yaitu Juli 2026.

Dengan demikian, inflasi 2,59 persen menunjukkan bahwa tingkat harga konsumen di NTT pada Agustus 2026 masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya. Adapun deflasi 0,40 persen berarti rata-rata harga pada Agustus turun dibandingkan Juli 2026.

Membaca dua indikator harga

Menurut Kepala BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur Matamira B. Kale, inflasi tahunan Agustus 2026 mencapai 2,59 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,74. Secara tahun kalender, yakni akumulasi perubahan harga dari Januari hingga Agustus 2026, inflasi NTT tercatat 1,65 persen.

Matamira menjelaskan, inflasi tahunan terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan yang memberikan andil terbesar, yaitu 0,72 persen, diikuti pelumas atau oli mesin dengan andil 0,17 persen. Komoditas lain yang disebut memberi sumbangan inflasi tahunan adalah angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, dan sejumlah jenis ikan.

Secara kelompok pengeluaran, BPS menyebut kenaikan harga terjadi pada 10 dari 11 kelompok. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 13,93 persen secara tahunan, diikuti kelompok transportasi 3,97 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 2,33 persen, serta kesehatan 2,04 persen.

BPS juga melaporkan inflasi berbeda antar daerah di NTT. Inflasi tertinggi tercatat di Waingapu sebesar 4,04 persen, sedangkan inflasi terendah berada di Timor Tengah Selatan sebesar 1,53 persen.

Pangan menekan harga bulanan

Berbeda dari gambaran tahunan, deflasi bulanan di NTT terutama dipengaruhi penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini turun 1,13 persen dan memberikan andil deflasi 0,43 persen. Kelompok transportasi juga turun 0,46 persen dengan andil deflasi 0,06 persen.

Penurunan pada dua kelompok tersebut lebih besar daripada kenaikan harga pada sejumlah komoditas lain sehingga secara keseluruhan NTT mencatat deflasi bulanan 0,40 persen pada Agustus 2026.

Komoditas dengan andil terbesar terhadap deflasi bulanan adalah daging ayam ras dengan kontribusi minus 0,16 persen, diikuti bawang merah minus 0,14 persen, angkutan udara minus 0,11 persen, tomat minus 0,08 persen, dan cabai rawit minus 0,06 persen.

BPS mengaitkan turunnya harga bawang merah, tomat, dan cabai rawit dengan produksi yang cukup melimpah, sedangkan penurunan harga daging ayam ras terjadi karena stok di pedagang dinilai banyak. Untuk angkutan udara, penurunan indeks harga dikaitkan dengan turunnya harga avtur pada awal Agustus serta berkurangnya permintaan setelah masa liburan sekolah.

Deflasi bulanan tidak berarti semua harga turun. BPS mencatat sejumlah komoditas yang menahan laju deflasi, antara lain ikan tembang dengan andil 0,06 persen, ikan kembung 0,04 persen, pelumas atau oli mesin 0,04 persen, telepon seluler 0,04 persen, dan ikan tongkol 0,03 persen.

Dampak gempa dan cakupan pengukuran

Deflasi 0,40 persen di NTT terjadi meskipun wilayah Flores diguncang gempa bumi bermagnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, inflasi dan deflasi provinsi merupakan gambaran agregat dari sejumlah wilayah di NTT. Gangguan distribusi pasokan di sebagian wilayah Flores bisa terkompensasi oleh stabilitas atau penurunan harga di daerah lain sehingga secara rata-rata NTT tetap mencatat deflasi 0,40 persen.

Pemerintah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan percepatan distribusi bantuan logistik pascagempa melalui kombinasi jalur udara, laut, dan darat, dengan Labuan Bajo dan Maumere menjadi titik distribusi utama untuk menjangkau Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Sikka, Ende, dan Nagekeo. Perbaikan akses dan distribusi ini membantu menjaga pasokan barang, termasuk kebutuhan pokok, ke berbagai wilayah di NTT.

Konteks indikator inflasi

Inflasi tahunan, deflasi bulanan, dan inflasi tahun kalender menjawab pertanyaan berbeda tentang pergerakan harga. Inflasi tahunan berguna untuk melihat tekanan harga dalam rentang satu tahun, deflasi atau inflasi bulanan menunjukkan perubahan terbaru dari bulan sebelumnya, sedangkan inflasi tahun kalender menggambarkan akumulasi perubahan sejak awal tahun berjalan.

Karena komoditas pendorongnya berbeda, satu kelompok pengeluaran dapat mendorong inflasi tahunan tetapi tidak menentukan hasil bulanan. Dalam kasus NTT, emas perhiasan menjadi pendorong terbesar inflasi secara tahunan, sedangkan pangan dan angkutan udara justru menekan harga dalam perbandingan bulanan.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.