Kabar Labuan Bajo

Sabtu, 3 Oktober 2026

Mengapa Kekeringan Flores Penting bagi Ngada, Ende, dan Sikka

Data iklim Nusa Tenggara Timur mencatat titik di Ngada, Ende, dan Sikka mengalami Hari Tanpa Hujan lebih dari 130 hari. Curah hujan rendah diprakirakan berlanjut pada awal Oktober 2026.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Permukaan tanah cokelat yang kering dan retak-retak dari jarak dekat.
Ilustrasi: Permukaan tanah cokelat yang kering dan retak-retak dari jarak dekat. · Foto: Alfo Medeiros / Pexels

Flores — Kekeringan meteorologis masih menjadi risiko nyata bagi wilayah Ngada, Ende, dan Sikka pada awal Oktober 2026. Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Dasarian III September 2026 mencatat sejumlah titik di tiga kabupaten itu mengalami lebih dari 130 hari tanpa hujan.

Data resmi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang merangkum Informasi Iklim Dasarian provinsi, menyebut titik terdampak antara lain Waepana di Kabupaten Ngada, Detusoko di Kabupaten Ende, serta sekitar Stasiun Meteorologi Maumere dan Waigete di Kabupaten Sikka. Laporan tersebut diperbarui 30 September 2026.

Mengapa kekeringan ini penting bagi pembaca Flores

Hari tanpa hujan yang panjang dapat mempersempit ketersediaan air untuk rumah tangga dan pertanian. Bagi warga di Labuan Bajo dan wilayah Flores lain, informasi ini penting untuk membaca risiko pasokan air, merencanakan kebutuhan kebun, serta menilai kondisi wilayah yang sedang menghadapi pemulihan pascagempa. Dampaknya tidak seragam, karena kondisi setiap desa bergantung pada sumber air dan hasil pengukuran setempat.

Kategori ekstrem panjang dalam laporan provinsi berarti HTH lebih dari 60 hari. Namun, beberapa titik di Ngada, Ende, dan Sikka telah melampaui 130 hari. RRI juga melaporkan bahwa analisis curah hujan pada Dasarian III September 2026 secara umum menunjukkan angka sangat rendah di seluruh Nusa Tenggara Timur.

Memasuki awal Oktober 2026, kondisi kering diperkirakan masih berlanjut. Prediksi curah hujan probabilistik Dasarian I Oktober 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur berpeluang mengalami curah hujan kategori rendah, yaitu 0–50 milimeter per dasarian, dengan peluang kejadian 91–100 persen.

Angka tersebut merupakan prakiraan wilayah, bukan jaminan bahwa setiap desa sama sekali tidak menerima hujan. Karena itu, pemantauan pembaruan cuaca dan kondisi sumber air tetap diperlukan, terutama bagi pertanian dan layanan air bersih di titik yang telah mencatat HTH lebih dari 130 hari.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Analisis

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.