Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Kemiskinan NTT Turun ke 17,52 Persen, Desa Masih Menanggung Beban

Persentase kemiskinan Nusa Tenggara Timur turun dari 18,60 persen pada Maret 2025 menjadi 17,52 persen pada Maret 2026 menurut rangkuman Bank Indonesia dan rilis BPS.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Labuan Bajo — Persentase penduduk miskin di Nusa Tenggara Timur pada Maret 2026 tercatat 17,52 persen, turun dari 18,60 persen pada Maret 2025 menurut rangkuman Bank Indonesia dan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT.

Penurunan 1,08 poin persentase dalam satu tahun ini menunjukkan perbaikan kesejahteraan, tetapi belum serta-merta menggambarkan pemerataan hasil kebijakan di seluruh wilayah provinsi.

Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur Agustus 2026 menyebut tren peningkatan kesejahteraan tercermin dari penurunan persentase kemiskinan, sejalan dengan perbaikan Indeks Pembangunan Manusia dan Nilai Tukar Petani.

Pada saat yang sama, laporan itu mencatat rasio Gini Maret 2026 sedikit meningkat dibanding September 2025, sehingga persoalan ketimpangan tetap relevan ketika membaca angka kemiskinan.

Angka penting

  • Kemiskinan NTT, Maret 2026: 17,52 persen.
  • Kemiskinan NTT, Maret 2025: 18,60 persen.
  • Pertumbuhan ekonomi NTT, triwulan II 2026: sekitar 5 persen secara tahunan.
  • Inflasi NTT, triwulan II 2026: sekitar 3,5 persen secara tahunan.

Pertumbuhan ekonomi dan tekanan harga

Perekonomian NTT pada triwulan II 2026 masih tumbuh positif. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ditopang antara lain oleh akselerasi konstruksi serta perdagangan besar dan eceran.

Pertumbuhan makro perlu diterjemahkan menjadi pendapatan yang lebih stabil, akses pangan terjangkau, dan layanan dasar yang lebih baik bagi rumah tangga berpendapatan rendah.

Tantangannya meningkat ketika inflasi pada periode yang sama berada di kisaran 3,5 persen, dengan tekanan utama dari kelompok makanan dan minuman yang sangat mempengaruhi rumah tangga miskin.

Desa menanggung beban lebih berat

Rilis BPS NTT yang dikutip sejumlah media lokal mencatat jumlah penduduk miskin di NTT pada Maret 2026 sekitar 1,04 juta jiwa atau 17,52 persen dari total penduduk.

Jika dibandingkan September 2025, persentase kemiskinan naik tipis 0,02 poin persentase, sementara jumlah penduduk miskin bertambah sekitar 5,95 ribu orang, terutama di wilayah perdesaan.

Media lokal yang mengutip perincian BPS menyebut persentase penduduk miskin perdesaan pada Maret 2026 mencapai sekitar 21,6 persen, jauh di atas perkotaan yang sekitar 6,7 persen.

Kesenjangan desa-kota ini menegaskan bahwa rata-rata provinsi dapat menyamarkan perbedaan pengalaman kemiskinan antara kawasan perkotaan, desa, dan wilayah kepulauan yang menghadapi biaya distribusi dan hambatan layanan lebih besar.

Ukuran keberhasilan berikutnya

Pemerintah daerah perlu memastikan penurunan tingkat kemiskinan diikuti oleh perbaikan kualitas pekerjaan dan daya beli rumah tangga.

Data kemiskinan sebaiknya dibaca bersama perkembangan harga pangan, kesempatan kerja, pendapatan petani, serta akses pendidikan, kesehatan, air bersih, dan transportasi, terutama di desa dan pulau-pulau yang sulit dijangkau.

Rilis BPS menunjukkan rata-rata rumah tangga miskin di NTT memiliki lebih dari lima anggota rumah tangga, sehingga kebutuhan minimum per rumah tangga miskin per bulan jauh melampaui garis kemiskinan per kapita.

Dalam konteks ini, angka 17,52 persen patut dibaca sebagai capaian sekaligus peringatan. Penurunan tahunan menunjukkan kebijakan memberi hasil, tetapi ketimpangan desa-kota dan tekanan harga pangan menandakan bahwa pekerjaan pengentasan kemiskinan belum selesai.

Konteks kebijakan

Bank Indonesia menempatkan penurunan kemiskinan sebagai bagian dari dinamika perekonomian NTT yang didorong sektor konstruksi dan perdagangan.

Sementara itu, BPS melalui rilis resmi yang dikutip berbagai media menegaskan bahwa tantangan terbesar berada di perdesaan, tempat konsentrasi penduduk miskin dan keterbatasan akses layanan dasar.

Ke depan, ukuran keberhasilan kebijakan tidak hanya berhenti pada turunnya persentase kemiskinan, tetapi juga pada berkurangnya kesenjangan desa-kota dan membaiknya kualitas hidup rumah tangga miskin di seluruh NTT.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.