Kemenkes Catat 25.017 Kasus ISPA Pascagempa NTT di Flores
Kementerian Kesehatan mencatat 25.017 kasus ISPA sebagai keluhan kesehatan tertinggi di wilayah terdampak gempa dan tsunami NTT hingga 10 September 2026.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Labuan Bajo — Kementerian Kesehatan mencatat 25.017 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak gempa bumi Nusa Tenggara Timur hingga Kamis, 10 September 2026, menjadikannya keluhan kesehatan terbanyak di kalangan penyintas gempa di Pulau Flores menurut Juru Bicara Kemenkes, Widyawati.
Kasus ISPA tersebut tersebar di tujuh kabupaten di Flores, yakni Manggarai, Sikka, Nagekeo, Ende, Ngada, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.
Dominasi ISPA dan sebaran kasus penyakit
Menurut pemaparan Widyawati dalam konferensi pers penanganan kesehatan pascagempa NTT di Graha BNPB Jakarta, ISPA menjadi penyakit dengan laporan tertinggi dibanding jenis penyakit lain yang tercatat pada periode 15 Agustus hingga 9 September 2026.
Selain ISPA, data Kemenkes yang dikutip sejumlah media mencatat 1.573 kasus dermatitis dan 1.512 kasus diare di wilayah terdampak.
Widyawati menjelaskan bahwa catatan tersebut merupakan rekapitulasi kumulatif dari laporan layanan kesehatan di tujuh kabupaten terdampak gempa di Pulau Flores.
Kondisi pengungsian dan layanan kesehatan
Dalam pemaparan yang sama, Kemenkes menyampaikan bahwa 55.811 warga masih mengungsi di wilayah terdampak gempa.
Kemenkes juga melaporkan korban meninggal dunia akibat gempa bumi dan tsunami di NTT mencapai 135 orang, dengan 215 orang luka berat dan 1.552 orang mengalami luka ringan yang menjalani rawat jalan.
Untuk memperkuat layanan kesehatan, Kemenkes menyatakan telah memobilisasi 868 relawan kesehatan ke wilayah terdampak gempa. Menurut Widyawati, relawan tersebut diberangkatkan dalam dua tahap: 206 orang pada 24 Agustus 2026 dan 160 orang pada 7 September 2026, yang berasal dari Kemenkes dan didukung organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah.
Dukungan logistik kesehatan
Sejumlah media yang mengutip penjelasan Kemenkes memberitakan bahwa pemerintah mengirim berbagai dukungan logistik kesehatan ke wilayah terdampak gempa, mulai dari fasilitas pelayanan hingga alat pelindung diri dan kebutuhan ibu dan anak.
Menurut laporan tersebut, tiga penyakit dengan jumlah kasus tertinggi pascagempa NTT adalah ISPA, dermatitis, dan diare. Kemenkes menekankan pentingnya penguatan sanitasi dan layanan medis dasar di posko pengungsian untuk menekan risiko penularan penyakit.
ISPA sebagai keluhan dominan di pengungsian juga tercermin dari laporan dinas kesehatan di tingkat kabupaten. Di Manggarai Barat, misalnya, dinas kesehatan setempat mencatat ISPA sebagai diagnosis terbanyak dengan 2.469 kasus, atau sekitar 19 persen dari total keluhan kesehatan pengungsi gempa hingga awal September 2026.
Koordinasi penanganan pascagempa
Data Kemenkes mengenai kasus penyakit dan kondisi pengungsian dihimpun dalam klaster kesehatan yang berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dalam penanganan darurat gempa magnitudo 7,7 dan tsunami yang mengguncang Flores dan sekitarnya pada 15 Agustus 2026.
BMKG mencatat gempa utama bermagnitudo 7,7 tersebut memicu tsunami di sejumlah lokasi dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan bangunan di berbagai kabupaten di Flores, termasuk Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Sikka.
Hingga pertengahan September 2026, laporan situasi dari lembaga kemanusiaan dan pemerintah menunjukkan pemantauan kesehatan penyintas gempa masih berlanjut, dengan ISPA tetap menjadi salah satu fokus utama layanan di pengungsian.
Sumber
Berita berikutnya
Sat Polairud Polres Mabar Kirim Bantuan Tahap Ketiga ke Pulau Longos
Sat Polairud Polres Manggarai Barat menyalurkan logistik tanggap darurat tahap ketiga ke Pulau Longos, Desa Pontianak, melalui jalur laut untuk menjag…

