Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Kajian 2025 Soroti Tekanan Layanan Dasar Manggarai Barat

Kajian Regional Diagnostic 2025 menilai pertumbuhan pariwisata dan penduduk menambah tekanan terhadap air minum, sanitasi, persampahan, dan konektivitas wilayah di Manggarai Barat, sementara ketimpangan pembangunan antarwilayah dan risiko…

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Labuan Bajo — Kajian Regional Diagnostic Tahun 2025 menilai pertumbuhan penduduk dan wisatawan meningkatkan tekanan terhadap infrastruktur layanan dasar di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, terutama air minum, sanitasi, persampahan, dan konektivitas wilayah.

Kajian tersebut disusun PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) bersama International Center for Applied Finance and Economics (InterCAFE) IPB University. Dokumen menempatkan Manggarai Barat sebagai wilayah strategis karena Labuan Bajo dan Kepulauan Komodo berstatus destinasi pariwisata super prioritas nasional.

Laporan menyebut status super prioritas membuka peluang bagi pariwisata, konektivitas, dan percepatan pembangunan infrastruktur dasar. Namun peningkatan aktivitas wisata juga menambah kebutuhan air minum, sanitasi, persampahan, jalan, dan layanan dasar lain, sehingga kapasitas infrastruktur dinilai belum sepenuhnya mengimbangi laju pertumbuhan.

Tekanan Layanan Dasar dan Pendekatan Kajian

Menurut laporan, perlu percepatan pembangunan infrastruktur layanan dasar dan konektivitas wilayah untuk mengejar kebutuhan yang meningkat di kawasan Labuan Bajo dan sekitarnya. Rekomendasi utama kajian mencakup percepatan infrastruktur layanan dasar, penguatan konektivitas antarwilayah, serta pengembangan ekonomi lokal di luar sektor pariwisata.

Kajian menggunakan pendekatan metode campuran dengan tiga tahapan: analisis dokumen dan statistik, wawancara mendalam, serta diskusi kelompok terarah (FGD) untuk validasi lapangan. Proses validasi melibatkan perwakilan pemerintah daerah, DPRD, akademisi, asosiasi, tenaga ahli regional, dan Kementerian Keuangan.

Pemerintah daerah sebelumnya juga menyoroti persoalan air bersih dan persampahan sebagai bagian dari pekerjaan rumah pengembangan pariwisata Labuan Bajo. Wakil Bupati Manggarai Barat pernah menyebut infrastruktur, air minum bersih, dan listrik sebagai prioritas pembenahan fasilitas penunjang destinasi wisata. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Manggarai Barat menegaskan pembangunan tempat pembuangan akhir baru dan penataan wilayah layanan truk sampah untuk mengurangi beban persampahan di Labuan Bajo.

Pertumbuhan Wisata, Ketimpangan Wilayah, dan Risiko Lingkungan

Laporan Regional Diagnostic mencatat tantangan geografis berupa wilayah berbukit dan permukiman yang tersebar, serta ketimpangan pembangunan antara Labuan Bajo dan Kepulauan Komodo dengan desa-desa terpencil. Akses antarwilayah dinilai belum merata, sehingga pembangunan jaringan air minum, sanitasi, fasilitas kesehatan, dan sistem persampahan memerlukan investasi lebih besar pada konektivitas dan jangkauan layanan.

Dokumen juga menggarisbawahi risiko bencana seperti longsor, banjir bandang, dan degradasi lingkungan yang dapat memengaruhi keberlanjutan infrastruktur dan layanan dasar. Dalam konteks pariwisata super prioritas, pengelolaan sampah dan pengurangan plastik sekali pakai menjadi salah satu isu kebijakan lokal.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, misalnya, menyiapkan larangan penggunaan air minum dalam kemasan plastik sekali pakai di Labuan Bajo untuk hotel, restoran, kapal wisata, warung, dan kantor pemerintahan. Kebijakan ini bertujuan menekan volume sampah plastik dan mendukung pariwisata berkelanjutan di destinasi super prioritas tersebut.

Struktur Ekonomi dan Ketergantungan Pariwisata

Dari sisi ekonomi, dokumen kajian menyebut sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap PDRB Manggarai Barat, dengan kontribusi yang cenderung menurun dalam lima tahun terakhir seiring menguatnya sektor-sektor yang terkait pariwisata.

Ringkasan eksekutif kajian hortikultura yang merujuk data BPS 2019–2023 menunjukkan rata-rata kontribusi lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan terhadap PDRB Manggarai Barat sekitar 40,67 persen dan menurun tiap tahun. Dokumen perencanaan daerah lain juga menyatakan kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai kontributor utama PDRB Manggarai, baik dari sisi nilai maupun persentase.

Kajian Regional Diagnostic menilai ketergantungan yang meningkat terhadap pariwisata membawa kerentanan ketika terjadi pandemi atau krisis global. Pada saat yang sama, kapasitas fiskal daerah masih bergantung pada transfer ke daerah, sehingga pemerintah perlu menentukan prioritas pembangunan layanan dasar dan konektivitas untuk mengurangi kesenjangan wilayah serta memperkuat daya tahan ekonomi lokal.

Sumber

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.