Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Kajian 2015–2025 Soroti Ketimpangan Air di Pulau Wisata NTT

Kajian sistematis edisi Desember 2025 di PREPOTIF menelaah 15 artikel tentang akses air bersih dan sanitasi di pulau-pulau wisata Nusa Tenggara Timur, termasuk Labuan Bajo.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 5 menit baca

Labuan Bajo — Tekanan terhadap layanan air bersih dan sanitasi di Labuan Bajo dan pulau-pulau wisata di Nusa Tenggara Timur kembali disorot dalam kajian sistematis yang terbit pada edisi Desember 2025 PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Kajian berjudul Akses Air Bersih dan Sanitasi di Pulau-Pulau Wisata Lahan Kering Kepulauan Nusa Tenggara Timur: A Systematic Literature Review itu meninjau hasil penelitian periode 2015–2025 mengenai ketersediaan air bersih, sanitasi, dan tata kelola air di pulau-pulau wisata NTT yang mengalami tekanan akibat pertumbuhan pariwisata dan perubahan iklim.

Menurut artikel tersebut, ketimpangan akses air bersih dan sanitasi antara masyarakat lokal dan sektor pariwisata masih tinggi, terutama di Labuan Bajo, Sumba, dan Alor. Permintaan air di lokasi-lokasi itu meningkat seiring ekspansi infrastruktur pariwisata dan menjadikan tekanan terhadap sumber daya air sebagai isu kesehatan masyarakat dan tata kelola.

Temuan kajian dan batas datanya

Penulis mengumpulkan 356 artikel dari sejumlah basis data ilmiah, antara lain SINTA, DOAJ, Scopus, Garuda, Google Scholar, Neliti, dan PubMed, lalu menyaringnya menjadi 15 artikel inti untuk dianalisis lebih lanjut.

Artikel yang ditelaah mencakup topik ketersediaan air bersih, sanitasi, tata kelola air, serta respons terhadap tekanan pariwisata dan perubahan iklim di wilayah kepulauan lahan kering NTT. Studi teknis air tanah dan sanitasi lebih banyak muncul pada 2015–2018, sedangkan periode 2019–2025 menyoroti aspek tata kelola, inklusivitas, dan ketahanan iklim.

Menurut kajian PREPOTIF, tantangan utama meliputi keterbatasan sumber daya air alami, lemahnya tata kelola lintas sektor, rendahnya adopsi teknologi adaptif seperti penampungan air hujan dan desalinasi skala kecil, serta terbatasnya kapasitas institusional di tingkat daerah. Artikel juga mengidentifikasi inisiatif WASH berbasis masyarakat, kerja sama multipihak, dan model tata kelola yang lebih inklusif, namun dinilai masih memerlukan dukungan kebijakan dan pembiayaan yang lebih kuat.

Secara geografis, NTT digambarkan menghadapi musim kemarau panjang, curah hujan relatif rendah, dan tingkat evaporasi tinggi. Karakter geologi batu kapur membuat air hujan cepat meresap dengan daya simpan terbatas, sehingga memperbesar tantangan pemenuhan air bersih di pulau-pulau wisata.

Angka penting dalam kajian:

  • 356 artikel dikumpulkan dalam tahap awal kajian.
  • 15 artikel dipilih sebagai sumber data inti.
  • Rentang penelitian yang ditinjau adalah 2015–2025.

Gambaran layanan dari penelitian di Labuan Bajo

Kajian PREPOTIF merujuk sejumlah penelitian lapangan di Labuan Bajo dan destinasi lain. Salah satu rujukan utama adalah studi tentang Inclusive WASH dan pariwisata di Labuan Bajo yang menggunakan metode wawancara dan diskusi kelompok dengan pemerintah, pelaku wisata, dan masyarakat.

Penelitian itu menggambarkan Labuan Bajo sebagai kawasan semi-kering dengan pasokan air perpipaan dari perusahaan daerah yang bersumber dari mata air dan hanya mengalir sekitar dua kali dalam sepekan. Dengan populasi lebih dari 25 ribu jiwa, kebutuhan air harian Labuan Bajo diperkirakan sekitar 2,5 juta liter per hari, dan pada 2019 pasokan tercatat defisit sekitar 10 liter per detik.

Menurut laporan yang sama, masyarakat memanfaatkan berbagai sumber air, termasuk jaringan perpipaan, sumur dangkal dan sumur bor, serta pasokan air melalui tangki. Untuk air minum, sebagian besar penduduk membeli air dalam galon isi ulang dari penjual lokal atau merebus air sebelum dikonsumsi.

Studi tersebut mencatat kesenjangan layanan antara sektor komersial dan rumah tangga. Sekitar 30 persen kebutuhan air Labuan Bajo berasal dari sektor komersial, sementara masyarakat menerima pasokan lebih sedikit dari utilitas air. Hotel disebut lebih mampu mengatasi pola pasokan tidak menentu karena memiliki tangki penyimpanan berkapasitas besar, fasilitas yang tidak banyak dimiliki rumah tangga.

Sanitasi, kapal wisata, dan tata kelola

Catatan praktisi International WaterCentre yang terbit pada Juli 2021 menyoroti pentingnya layanan air, sanitasi, dan higiene (WASH) yang inklusif untuk mendukung pariwisata di Labuan Bajo, termasuk di hotel, permukiman, dan kapal wisata.

Dokumen itu merekomendasikan penguatan Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), pengelolaan lumpur tinja yang aman, serta penyediaan fasilitas WASH yang dapat diakses dan inklusif bagi berbagai kelompok, termasuk penyandang disabilitas. Catatan tersebut juga menekankan perlunya pelatihan WASH di tempat kerja bagi hotel dan kapal pesiar kecil yang bepergian ke pulau-pulau kecil untuk meningkatkan kualitas layanan dan pengelolaan limbah.

Studi kasus Inclusive WASH di Labuan Bajo menyebut adanya kekhawatiran pemangku kepentingan mengenai pembuangan limbah dari kapal wisata dan keterbatasan fasilitas sanitasi di ruang publik. Pengelolaan air limbah, drainase, dan sampah direkomendasikan sebagai bagian dari upaya menjadikan Labuan Bajo destinasi yang bersih dan aman.

Konteks pariwisata dan rekomendasi kebijakan

Penelitian tentang Inclusive WASH dan pariwisata mencatat bahwa Labuan Bajo telah ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata "super-premium" di Indonesia. Pertumbuhan kunjungan dan pengembangan fasilitas wisata meningkatkan kebutuhan integrasi layanan WASH bagi masyarakat, pekerja, dan wisatawan.

Kajian sistematis PREPOTIF merekomendasikan integrasi ketahanan iklim, WASH yang inklusif, dan tata kelola air pariwisata dalam kebijakan pembangunan pulau-pulau wisata NTT. Catatan praktisi International WaterCentre menegaskan perlunya penegakan regulasi pengelolaan air limbah dan sampah, serta kampanye cuci tangan yang sesuai konteks dan budaya untuk menguatkan praktik higiene.

Sampai terbitnya kajian dan dokumen-dokumen tersebut, isu utama yang muncul bukan hanya ketersediaan air, tetapi juga pemerataan akses dan kualitas layanan antara sektor pariwisata dan masyarakat lokal di Labuan Bajo dan pulau-pulau wisata NTT.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.