Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Gempa Flores 7,7: Koperasi Jaga Layanan dari Lokasi Darurat

KSP Kopdit Pintu Air di Flores memindahkan layanan ke lokasi darurat di halaman kantor untuk tetap melayani anggota setelah gempa 7,7 di Flores.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Ambulyx bima schmickae, male, upperside.
Foto arsip: Ambulyx bima schmickae, male, upperside. · Foto: The Trustees of the Natural History Museum, London / Wikimedia Commons, CC BY 3.0

Labuan Bajo — Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, mengganggu kegiatan ekonomi masyarakat termasuk operasional koperasi simpan pinjam di daerah terdampak.

Menurut laporan lembaga kemanusiaan dan kebencanaan internasional, gempa berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman sekitar 10–15 kilometer, dipicu mekanisme sesar naik Flores Back-Arc Thrust. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan tsunami yang kemudian dicabut beberapa jam setelah kejadian.

Data awal dari jaringan lembaga kemanusiaan yang merujuk laporan BNPB dan pemerintah daerah menyebutkan puluhan korban meninggal dan ratusan luka-luka, dengan ribuan rumah rusak dan ribuan warga mengungsi ke tenda darurat karena bangunan dinilai tidak aman di tengah gempa susulan.

Koperasi tetap buka dari lokasi darurat

Dalam laporan analisis yang dimuat media gerakan koperasi internasional, KSP Kopdit Pintu Air di Flores disebut tetap membuka layanan bagi anggota setelah gempa. Koperasi kredit yang melayani petani dan nelayan itu masih menyediakan tabungan, pinjaman, dan layanan anggota lain untuk menjaga akses keuangan komunitas.

Namun, sebagai langkah pencegahan, pelayanan dipindahkan dari gedung kantor ke lokasi darurat di halaman masing-masing cabang. Menurut laporan tersebut, keputusan ini diambil karena gempa susulan masih sering terjadi sehingga bangunan tertutup dianggap berisiko bagi staf dan anggota.

Pengaturan layanan di ruang terbuka memungkinkan staf tetap melayani anggota sambil mengutamakan keselamatan, di tengah infrastruktur yang rusak dan akses jalan yang belum sepenuhnya pulih.

Media koperasi lain mencatat kasus Flores sebagai contoh peran penting koperasi kredit di tengah bencana, karena dapat menyalurkan bantuan keuangan cepat, melindungi uang masyarakat, dan mendukung proses pemulihan ekonomi lokal.

Komida hadapi keterbatasan staf

Koperasi Mitra Dhuafa (Komida), yang juga bermitra dengan lembaga pendukung keuangan mikro, menghadapi kendala berbeda. Dari sembilan cabang dan 90 staf di Nusa Tenggara Timur, sebanyak 22 orang dilaporkan belum dapat kembali bekerja hingga 19 Agustus 2026 karena situasi bencana dan gempa susulan yang masih sering terjadi.

Menurut laporan tersebut, keterbatasan staf membuat pemulihan layanan keuangan berjalan lebih lambat, terutama di wilayah yang aksesnya bergantung pada kunjungan rutin petugas ke komunitas. Kondisi ini menambah tantangan bagi anggota yang bergantung pada koperasi untuk simpanan dan pembiayaan usaha kecil.

Direktur eksekutif Micra Indonesia, Alfi Syahrin, dalam kutipan di laporan yang sama, menyatakan bahwa prioritas lembaganya dan mitra koperasi bukan hanya memulihkan operasional, tetapi juga memastikan keselamatan staf dan anggota serta mengumpulkan informasi yang dapat dipercaya mengenai dampak ekonomi gempa di Flores.

Gempa susulan dan tekanan bagi anggota

BMKG mencatat aktivitas gempa susulan yang tinggi setelah guncangan utama di Flores. Hingga 19 Agustus 2026, lembaga tersebut melaporkan 3.055 gempa susulan dengan magnitudo antara 1,1 hingga 6,2, dengan puluhan di antaranya dirasakan masyarakat.

Frekuensi gempa susulan yang tinggi membuat banyak warga memilih bertahan di luar rumah atau di tenda darurat di halaman gereja, sekolah, dan lapangan, sambil menunggu kepastian keamanan bangunan. Dalam situasi ini, koperasi menjadi salah satu saluran keuangan terdekat karena berhubungan langsung dengan anggota dan komunitas setempat.

Laporan media koperasi internasional menekankan bahwa koperasi kredit dapat membantu menyediakan pinjaman darurat, menjaga keamanan simpanan lokal, dan mendukung pembangunan kembali usaha anggota. Namun, ketika pendapatan petani, nelayan, dan pelaku usaha terganggu, kemampuan anggota membayar pinjaman berpotensi menurun sehingga risiko pembiayaan bagi koperasi meningkat.

Micra Indonesia menyebut koordinasi dengan mitra koperasi di NTT penting untuk memantau kondisi anggota, kebutuhan masyarakat terdampak, dan dampak lanjutan gempa terhadap mata pencaharian serta layanan keuangan. Pemantauan ini diharap menjadi dasar penyesuaian kebijakan layanan, termasuk dukungan terhadap anggota yang paling rentan.

Konteks regional

Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan sabuk seismik Alpide, dengan aktivitas kegempaan yang tinggi setiap tahun. BMKG mencatat ribuan gempa bumi terjadi di wilayah Indonesia, meski sebagian besar tidak dirasakan masyarakat. Gempa Flores 2026 dan rangkaian gempa susulan menunjukkan bagaimana guncangan tektonik dapat dengan cepat mengganggu kehidupan ekonomi lokal dan mendorong lembaga keuangan komunitas seperti koperasi ke garis depan upaya pemulihan.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.