Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

BMKG: 212 Kecamatan di NTT Terancam Kekeringan pada 1–10 September

BMKG memperingatkan 212 kecamatan di Nusa Tenggara Timur berpotensi mengalami kekeringan pada 1–10 September 2026. Sebanyak 66 kecamatan berada dalam status awas, dan wilayah terdampak tersebar di 22 kabupaten dan kota.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 2 menit baca

Labuan Bajo — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan 212 kecamatan di Nusa Tenggara Timur berpotensi mengalami kekeringan meteorologis pada 1–10 September 2026. Sebanyak 66 kecamatan masuk kategori awas, sementara 121 kecamatan berstatus siaga dan 25 kecamatan waspada.

Peringatan itu disampaikan dalam analisis BMKG untuk dasarian I September 2026 dan dikutip Media Indonesia pada 2 September 2026. Laporan itu menyebut ancaman kekeringan tersebar di 22 kabupaten dan kota di NTT, termasuk Alor, Belu, Ende, Flores Timur, Kupang, Malaka, dan Lembata.

BMKG juga mencatat pengaruh iklim yang memperkuat kondisi kering. Menurut Kepala Balai Besar BMKG Wilayah III Cahyo Nugroho, indeks El Nino Southern Oscillation berada pada angka plus 2,99 atau kategori sangat kuat, sedangkan Indian Ocean Dipole tercatat plus 0,394 dan berada pada kategori netral.

Dalam analisis atmosfer BMKG untuk dasarian III Agustus 2026, peringatan dini kekeringan meteorologis untuk dasarian I September 2026 memang mencantumkan kategori waspada, siaga, dan awas di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara. BMKG juga memprediksi curah hujan pada periode itu umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah di banyak daerah.

Respons air tidak boleh bersifat darurat semata

Peringatan dini ini menegaskan bahwa kekeringan tidak bisa dibaca hanya sebagai persoalan cuaca. Pemerintah daerah perlu menjadikannya dasar untuk memastikan pasokan air bersih bagi rumah tangga, layanan kesehatan, sekolah, dan sektor pertanian.

Karena itu, distribusi air perlu disusun berdasarkan data yang terbuka dan mudah diperiksa publik. Prioritas mesti diberikan kepada wilayah dengan risiko tertinggi, termasuk kecamatan yang masuk status awas, serta kelompok warga yang paling sulit menjangkau sumber air.

Di wilayah kepulauan seperti Flores, kebutuhan itu menjadi lebih rumit karena jarak antardesa, akses transportasi, dan kapasitas tampungan air tidak seragam. Kebijakan yang hanya mengandalkan pengiriman air darurat berisiko tidak menjangkau semua wilayah yang terdampak.

Langkah jangka panjang tetap diperlukan. Penguatan embung, tampungan air, penghijauan, dan penghematan air perlu disiapkan sejak musim hujan agar tekanan pada musim kemarau tidak terus berulang setiap tahun.

BMKG dalam prakiraan cuaca sepekan untuk awal September 2026 juga menyebut peluang hujan ringan masih muncul di sejumlah titik di NTT, termasuk Kota Kupang, Timor Tengah Utara, dan Rote Ndao. Peluang itu bisa dimanfaatkan untuk menambah cadangan air, bukan untuk menunda distribusi kepada warga yang sudah kekurangan.

Dengan puncak kemarau yang masih berlangsung di banyak wilayah Indonesia, ancaman kekeringan di NTT harus diperlakukan sebagai persoalan layanan dasar yang membutuhkan koordinasi cepat, data yang terbuka, dan respons yang terukur.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.