Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

BNPB: Pengungsi Gempa NTT Turun, Layanan Kesehatan Diperkuat

BNPB mencatat jumlah pengungsi gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur turun dari lebih dari 150 ribu menjadi 46.461 jiwa per 15 September 2026.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Labuan Bajo — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jumlah warga yang masih mengungsi akibat gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur turun menjadi 46.461 jiwa per 15 September 2026. Data itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers pada Selasa, 15 September 2026.

Menurut pemaparan BNPB, angka tersebut menurun tajam dibandingkan masa awal penanganan ketika jumlah pengungsi sempat melampaui 150 ribu jiwa. Berton menyebut penurunan ini terjadi seiring menguatnya penanganan darurat dan mulai berjalannya pemulihan di wilayah terdampak.

BNPB menjelaskan bahwa banyak warga meninggalkan lokasi pengungsian setelah situasi dinilai lebih aman dan sebagian rumah telah diperbaiki atau dapat ditempati kembali. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah tetap diminta memastikan kebutuhan dasar warga yang masih bertahan di posko terpenuhi.

Pendataan rumah rusak dan korban jiwa

BNPB masih melakukan verifikasi dan validasi terhadap kerusakan infrastruktur, terutama rumah penduduk di wilayah terdampak gempa. Berdasarkan data yang dipaparkan, total rumah rusak yang sedang divalidasi mencapai 103.427 unit dengan klasifikasi rusak berat, sedang, dan ringan.

Berton menyebut tim BNPB bersama pemerintah daerah terus memutakhirkan data kerusakan untuk memastikan penyaluran bantuan perbaikan rumah berjalan tepat sasaran. Pendataan dilakukan berjenjang di lapangan sebelum dikompilasi di tingkat provinsi dan pusat.

BNPB juga merinci korban jiwa akibat gempa dan dampaknya. Sebanyak 48 orang meninggal dunia akibat terdampak langsung gempa. Selain itu, 94 orang meninggal saat berada di lokasi pengungsian karena faktor tidak langsung, antara lain penyakit bawaan dan kondisi kesehatan yang memburuk setelah gempa.

Dalam pemaparan tersebut, BNPB mencatat total 142 korban meninggal dan 1.603 orang mengalami luka-luka. Data ini menjadi rujukan pemerintah dalam menyusun kebijakan lanjutan penanganan penyintas dan pemulihan layanan dasar di NTT.

Layanan kesehatan di Manggarai Barat

Di Kabupaten Manggarai Barat, layanan kesehatan pascagempa tetap berjalan melalui klinik keliling yang menyasar puskesmas terdampak. Dinas Kesehatan Manggarai Barat bekerja sama dengan Pusat Krisis Kementerian Kesehatan mengerahkan tim relawan kesehatan batch kedua sejak 9 September hingga 19 September 2026.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat, pelayanan mobile clinic melibatkan 19 relawan kesehatan dari Pusat Krisis Kementerian Kesehatan. Mereka terdiri atas dokter umum, dokter spesialis anak, penyakit dalam, kebidanan dan kandungan, psikolog, perawat, apoteker, dan tenaga kesehatan lain.

Para relawan dibagi dalam dua tim dan ditempatkan di sejumlah puskesmas yang terdampak gempa di Manggarai Barat. Pelayanan ditujukan untuk memperkuat layanan kesehatan primer bagi warga terdampak, termasuk pemeriksaan kesehatan, penanganan keluhan medis, dan dukungan psikososial.

Pelayanan mobile clinic dijadwalkan berlangsung hingga 19 September 2026. Pemerintah daerah menyebut kehadiran tim dokter spesialis dan tenaga kesehatan tambahan membantu menjaga kesinambungan layanan kesehatan di tingkat puskesmas, sementara fasilitas kesehatan dan masyarakat masih dalam proses pemulihan pascagempa.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.