Berapa Banyak Rumah Tangga di Manggarai Barat yang Sudah Berlistrik?
Akses listrik rumah tangga di Manggarai Barat berubah cepat beberapa tahun terakhir dan angkanya berbeda antara statistik BPS dan laporan dinas.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Rumah tangga berlistrik di Manggarai Barat sudah mayoritas, tetapi belum menyeluruh dan angkanya berbeda antara data nasional dan laporan daerah. Menurut Kementerian PUPR melalui laman perkim.id, 2025, persentase rumah tangga berstatus "layak huni" di Manggarai Barat mencapai 85,18 persen, sedangkan laporan Dinas Perumahan Manggarai Barat, 2023, menyebut baru 40,58 persen rumah tangga yang sudah teraliri listrik dengan target 45,45 persen.
Berapa persen rumah tangga Manggarai Barat yang sudah memiliki listrik?
Laporan kinerja Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Manggarai Barat, 2023, mencatat indikator "persentase rumah tangga yang teraliri listrik" sebesar 40,58 persen dari total 98.932 rumah tangga. Dalam laporan itu dijelaskan jumlah rumah tangga yang teraliri listrik 40.152 rumah tangga pada 2023, sehingga target 45,45 persen belum tercapai menurut dokumen Dinas Perumahan Manggarai Barat, 2023.
Di tingkat provinsi, Kementerian PUPR lewat profil perumahan Nusa Tenggara Timur di perkim.id, 2025, menampilkan data ringkas Manggarai Barat dengan angka 85,18 pada kolom persentase rumah tangga layak huni. Angka ini menggambarkan proporsi rumah tangga yang memenuhi kriteria kelayakan perumahan menurut Kementerian PUPR, 2025, bukan hanya soal sambungan listrik.
Bagaimana perubahan akses listrik rumah tangga Manggarai Barat dari waktu ke waktu?
Dokumen perencanaan daerah tingkat provinsi Nusa Tenggara Timur, 2024, menampilkan deret waktu persentase rumah tangga Manggarai Barat menurut sumber penerangan 2020–2022. Menurut RKPD NTT, 2024, persentase rumah tangga Manggarai Barat yang menggunakan listrik PLN dengan meteran tercatat 49,44 persen pada 2020, meningkat menjadi 67,94 persen pada 2021, dan 82,10 persen pada 2022.
Masih dalam tabel yang sama, rumah tangga yang menggunakan listrik non-PLN sebagai sumber penerangan turun dari 25,64 persen pada 2020 menjadi 20,41 persen pada 2021 dan 14,24 persen pada 2022 menurut RKPD NTT, 2024. Sementara rumah tangga yang bukan menggunakan listrik sebagai sumber penerangan menurun dari 10,08 persen pada 2020 menjadi 3,67 persen pada 2022 menurut dokumen tersebut.
Mengapa angka persentase rumah tangga berlistrik bisa berbeda antar dokumen?
Angka 40,58 persen dalam LKPJ Dinas Perumahan Manggarai Barat, 2023, berdasar perhitungan internal dinas dari jumlah rumah tangga yang teraliri listrik dibagi total rumah tangga yang menjadi sasaran program pada tahun itu. Dokumen tersebut menjelaskan capaian 40,58 persen sebagai realisasi indikator kinerja yang belum mencapai target 45,45 persen menurut Dinas Perumahan Manggarai Barat, 2023.
Sementara itu, data deret waktu 49,44–82,10 persen listrik PLN yang tercantum dalam RKPD NTT, 2024, merujuk kompilasi statistik resmi dari Badan Pusat Statistik. Dokumen RKPD NTT, 2024, menggunakan kategori sumber penerangan rumah tangga yang mencakup listrik PLN, listrik non PLN, dan bukan listrik, sehingga cakupan wilayah dan definisi rumah tangga mengikuti survei BPS, bukan hanya penerima program Dinas Perumahan Manggarai Barat.
Apa kaitan akses listrik dengan status rumah layak huni di Manggarai Barat?
Profil perumahan Nusa Tenggara Timur di perkim.id, 2025, menyajikan indikator rumah layak huni untuk setiap kabupaten, termasuk Manggarai Barat. Menurut Kementerian PUPR, 2025, angka 85,18 untuk Manggarai Barat merepresentasikan persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria kelayakan fisik dan utilitas dasar, seperti struktur bangunan, luas minimum, dan akses layanan dasar termasuk listrik, air, dan sanitasi.
Dalam profil tersebut, persentase rumah tidak layak huni Manggarai Barat ditunjukkan melalui kolom lain dengan angka 5,39 dan 9,43 yang bersama-sama menjumlah menjadi 100 menurut Kementerian PUPR, 2025. Artinya, sekitar sepersepuluh rumah tangga Manggarai Barat masih dikategorikan belum layak huni pada 2025, meski indikator itu tidak memisahkan secara eksplisit komponen listrik dari komponen kelayakan lain.
Bagaimana posisi Manggarai Barat dibanding kabupaten lain di NTT soal akses penerangan?
RKPD NTT, 2024, memuat perbandingan persentase rumah tangga menurut sumber penerangan untuk semua kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada 2020–2022. Dalam tabel itu, Manggarai Barat pada 2022 memiliki 82,10 persen rumah tangga dengan listrik PLN sebagai sumber penerangan, berada di kelompok kabupaten dengan dominasi listrik PLN menurut RKPD NTT, 2024.
Dokumen yang sama menunjukkan masih adanya rumah tangga Manggarai Barat yang mengandalkan sumber penerangan bukan listrik sebesar 3,67 persen pada 2022. Angka ini lebih rendah dibanding beberapa kabupaten lain di NTT yang masih memiliki proporsi rumah tangga tanpa listrik lebih besar menurut RKPD NTT, 2024, tetapi tetap berarti ada warga Manggarai Barat yang belum menikmati penerangan listrik.
Apa arahan kebijakan daerah untuk meningkatkan rumah tangga berlistrik?
Laporan kinerja Dinas Perumahan Manggarai Barat, 2023, menempatkan peningkatan persentase rumah tangga teraliri listrik sebagai salah satu sasaran utama. Dokumen itu menyebut capaian 40,58 persen sebagai dasar evaluasi dan mendorong perluasan jaringan listrik rumah tangga agar target program dapat tercapai menurut Dinas Perumahan Manggarai Barat, 2023.
Di tingkat perencanaan menengah, dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Manggarai Barat 2025–2029 yang disusun Bappeda Manggarai Barat, 2025, mengaitkan akses layanan dasar, termasuk listrik, dengan penguatan kawasan wisata dan pemukiman. Dalam kajian diagnostik regional yang dirujuk RPJMD, Bappeda Manggarai Barat, 2025, menyoroti pentingnya peningkatan infrastruktur layanan dasar agar perkembangan Labuan Bajo dan kecamatan lain tidak meninggalkan rumah tangga yang belum menikmati listrik.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Data Mabar
Seberapa Parah Kemiskinan Manggarai Barat dan Apa Peran Pariwisata Labuan Bajo?
Kemiskinan di Manggarai Barat, termasuk Labuan Bajo, menurun pelan tetapi jumlah penduduk miskin masih sekitar 50 ribu orang.
Terbaru di Data Mabar
Berita utama hari ini

Baca juga



