Perikanan Sikka Pulih Pascagempa, Tuna dan Cakalang Kembali Diekspor
Sekitar satu bulan pascagempa Flores 15 Agustus 2026, nelayan di Kabupaten Sikka kembali melaut dan hasil tangkapan tuna serta cakalang mulai lagi memasok pasar ekspor.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Kabupaten Sikka — Aktivitas penangkapan ikan laut di Kabupaten Sikka kembali meningkat sekitar satu bulan pascagempa Flores 15 Agustus 2026, dan hasil tangkapan tuna serta cakalang mulai lagi dipasarkan ke luar negeri.
Laporan 20 September 2026 menyebut nelayan Sikka sudah kembali melaut seperti sebelum gempa, setelah sempat menghentikan aktivitas karena guncangan dan peringatan tsunami di pesisir utara Flores.
Menurut pemberitaan media lokal, nelayan yang biasa beroperasi di perairan utara Sikka dan sekitarnya kembali mendaratkan tuna dan cakalang di pelabuhan setempat. Ikan-ikan tersebut dipasarkan melalui pedagang pengumpul dan perusahaan perikanan yang menyalurkan ke industri pengolahan serta pembeli di luar negeri.
Pascagempa 15 Agustus 2026, pelaku usaha perikanan di Sikka sempat melaporkan penurunan drastis aktivitas penangkapan dan distribusi ikan. Nelayan memilih tidak melaut karena khawatir terhadap potensi gempa susulan dan tsunami, sementara sebagian sarana dan prasarana di pelabuhan mengalami kerusakan.
Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 mengguncang wilayah Flores dengan pusat di lepas pantai Nagekeo. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat terjadi tsunami dengan ketinggian sekitar 0,19 meter di pesisir Sikka dan 0,38 meter di Pelabuhan Kewapante-Sikka.
Guncangan gempa dan gelombang tsunami turut berdampak pada fasilitas pelabuhan di Maumere. Laporan lembaga penanggulangan bencana dan media nasional menyebut ruang tunggu di pelabuhan setempat ambruk, mengakibatkan korban jiwa dan korban luka.
Seiring meredanya aktivitas gempa susulan dan berakhirnya peringatan dini tsunami, pemerintah daerah bersama instansi teknis mulai memfokuskan penanganan pada pemulihan ekonomi. Nelayan didorong untuk kembali melaut, sementara perusahaan perikanan berupaya memulihkan rantai pasok dan akses pasar.
Pada pertengahan September 2026, media lokal mencatat bahwa produksi tuna dan cakalang dari nelayan Sikka mulai stabil kembali. Komoditas ini kembali memenuhi kebutuhan pasar domestik dan sebagian dikirim ke luar negeri melalui jalur distribusi yang telah beroperasi lagi.
Pelaku usaha perikanan di Sikka menyatakan pemulihan sektor ini penting untuk menjaga pendapatan nelayan dan pekerja di pelabuhan, sekaligus mempertahankan kontribusi daerah terhadap ekspor hasil laut dari Nusa Tenggara Timur.
Pemerintah daerah masih memantau perkembangan pemulihan dan melakukan perbaikan fasilitas yang terdampak gempa di kawasan pelabuhan. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperkuat kembali aktivitas ekonomi kelautan Sikka dan meningkatkan ketahanan sektor perikanan terhadap bencana di masa mendatang.
Sumber
Baca berikutnya
Terbaru di Flores Raya
Gempa M5,1 Lamba Leda Dirasakan hingga Labuan Bajo, Tanpa Potensi Tsunami
Gempa bumi tektonik magnitudo 5,1 pada kedalaman 10 km mengguncang Lamba Leda, Manggarai Timur, Senin pagi 21 September 2026.
Berita utama hari ini

Baca juga



