Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

2.469 Kasus ISPA Dominasi Layanan Kesehatan Pascagempa Manggarai Barat

Sebanyak 2.469 warga Manggarai Barat tercatat mengalami ISPA dalam layanan kesehatan pascagempa Flores pada 15 Agustus 2026. ISPA menjadi diagnosis terbanyak dalam pencatatan pasien di 26 puskesmas hingga 4 September 2026.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: A building destroyed in East Manggarai Regencies after the Flores earthquake in August 15, 2026.
Foto arsip: A building destroyed in East Manggarai Regencies after the Flores earthquake in August 15, 2026. · Foto: National Agency for Disaster Countermeasure / Wikimedia Commons, Public domain

Labuan Bajo — Sebanyak 2.469 warga Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, tercatat mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam layanan kesehatan pascagempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Data itu merupakan akumulasi kunjungan pasien di 26 puskesmas selama tiga pekan hingga Jumat, 4 September 2026, menurut Dinas Kesehatan Manggarai Barat.

Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat Theresia P. Asmon menyatakan ISPA menjadi diagnosis terbanyak dalam penanganan pasien pascagempa di daerah itu. Ia menyebut terdapat 2.469 kasus ISPA atau sekitar 19 persen dari total 12.967 kunjungan pasien yang tercatat pada fasilitas kesehatan di wilayah tersebut.

Menurut Theresia, kasus ISPA ditemukan pada berbagai kelompok usia. Kelompok balita dan anak menjadi kelompok dengan keluhan pernapasan paling dominan, sementara pada usia lanjut penyakit tidak menular seperti hipertensi menonjol dalam pencatatan layanan kesehatan pascagempa.

Sepuluh diagnosis terbanyak pascagempa

ISPA menempati urutan pertama dari sepuluh diagnosis terbanyak yang tercatat di fasilitas pelayanan kesehatan Manggarai Barat setelah gempa. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Manggarai Barat yang diberitakan detikBali, daftar sepuluh besar masalah kesehatan itu adalah sebagai berikut:

  • ISPA: 2.469 kasus atau 19 persen.
  • Hipertensi: 1.930 kasus atau 14,9 persen.
  • Myalgia atau nyeri otot: 1.309 kasus atau 10,1 persen.
  • Nyeri punggung bawah: 986 kasus atau 7,6 persen.
  • Dispepsia atau gangguan lambung: 614 kasus atau 4,7 persen.
  • Kehamilan: 517 kasus atau 4 persen.
  • Pilek: 412 kasus.
  • Diare: 250 kasus atau 1,9 persen.
  • Diabetes melitus: 225 kasus atau 1,7 persen.
  • Gastritis: 194 kasus atau 1,5 persen.

Angka dalam daftar tersebut merefleksikan diagnosis yang ditegakkan tenaga kesehatan dalam kunjungan layanan, bukan jumlah orang yang hanya mengalami satu jenis penyakit.

Dampak kesehatan di Flores dan respons Kementerian Kesehatan

Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa ISPA merupakan keluhan medis terbanyak di wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur. Juru bicara Kementerian Kesehatan Widyawati menyampaikan dalam konferensi pers bahwa hingga 10 September 2026 terdapat 25.017 kasus ISPA yang tercatat di tujuh kabupaten di Pulau Flores, yakni Manggarai, Sikka, Nagekeo, Ende, Ngada, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.

Pada periode 15 Agustus hingga 9 September 2026, Kementerian Kesehatan juga melaporkan 1.573 kasus dermatitis dan 1.512 kasus diare di wilayah terdampak. Data tersebut merupakan rekapitulasi lintas kabupaten dengan rentang waktu berbeda dari pencatatan khusus Manggarai Barat yang berakhir pada 4 September 2026.

Dalam respons pascagempa, Kementerian Kesehatan menyatakan telah mengerahkan 868 relawan kesehatan ke Nusa Tenggara Timur. Relawan itu mencakup tenaga dokter, perawat, bidan, tenaga farmasi, psikolog, dan tenaga kesehatan lain yang ditempatkan di sejumlah kabupaten terdampak untuk memperkuat layanan di puskesmas maupun klinik keliling.

Dukungan logistik kesehatan yang dikirimkan ke wilayah terdampak antara lain tenda rumah sakit lapangan, peralatan emergensi, oxygen concentrator, masker, sarung tangan medis, serta paket makanan pendamping ASI bagi balita. Kementerian Kesehatan juga menyebut pemantauan sanitasi dan pelayanan medis dasar di posko pengungsian sebagai bagian dari upaya mencegah penularan penyakit, khususnya ISPA dan diare.

Konteks gempa dan situasi pengungsi

Gempa utama bermagnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 dan mengguncang sejumlah kabupaten di Flores. Dalam informasi resmi Kementerian Kesehatan, gempa tersebut berdampak pada lebih dari satu juta jiwa di beberapa kabupaten dan menyebabkan kerusakan fasilitas kesehatan.

Berdasarkan pembaruan data Pusat Krisis Kesehatan, korban meninggal akibat gempa NTT dilaporkan mencapai sekitar 135 orang. Selain itu, tercatat ratusan korban luka berat dan luka ringan, serta puluhan ribu warga yang mengungsi di berbagai kabupaten terdampak.

Pencatatan masalah kesehatan pascagempa di Manggarai Barat dilakukan melalui 26 puskesmas sampai 4 September 2026, sekaligus menjadi bagian dari gambaran lebih luas mengenai dampak kesehatan bencana di Flores barat.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.