Kabar Labuan Bajo

Selasa, 22 September 2026

Parapuar Kembangkan Wisata Konservasi Hutan Berpanorama Labuan Bajo

Kawasan Parapuar di Hutan Nggorang Bowosie Labuan Bajo dikembangkan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores sebagai destinasi wisata baru yang memadukan konservasi hutan dengan panorama kota dan teluk.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Parapuar — Kawasan Parapuar di Hutan Nggorang Bowosie tengah dikembangkan sebagai destinasi wisata yang memadukan konservasi hutan dengan panorama kota dan teluk Labuan Bajo. Pengembangan ini dilakukan oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores dan diposisikan sebagai ruang rekreasi alam terbuka yang berbasis keberlanjutan.

Menurut penjelasan RRI dalam layanan berita berbahasa Inggris, Parapuar digambarkan sebagai destinasi yang mengombinasikan pelestarian hutan dengan pemandangan Labuan Bajo dari ketinggian. Kawasan ini berada di atas kota, sehingga pengunjung dapat menikmati pandangan luas 360 derajat yang mencakup permukiman, deretan pulau, bukit, serta perairan di sekitar Labuan Bajo.

Dalam informasi resmi Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, Parapuar disebut sebagai destinasi wisata baru yang dikembangkan di Hutan Produksi Nggorang Bowosie. Pemilihan nama Parapuar diambil dari bahasa Manggarai, dari kata “para” yang berarti pintu dan “puar” yang berarti hutan. Nama ini dimaksudkan untuk menekankan fungsi kawasan sebagai gerbang menuju hutan dengan prinsip pengelolaan yang menjaga keaslian bentang alam.

BPOLBF menyebut konsep Harmoni dengan Alam 3ECNC (Ethno, Eco, Edu, Culture & Nature Conservation) sebagai pendekatan pembangunan di Parapuar. Konsep ini mengaitkan unsur budaya lokal, pendidikan lingkungan, dan konservasi alam dalam satu paket pengelolaan destinasi. Dalam praktiknya, pengembangan kawasan diarahkan untuk mempertahankan karakter hutan produksi sekaligus membuka akses wisata yang terkontrol.

Otorita pariwisata Labuan Bajo Flores menyatakan bahwa Parapuar menawarkan sejumlah daya tarik alam. Dari titik-titik pandang di dalam kawasan, pengunjung dapat melihat kota Labuan Bajo, jajaran pulau di sekitarnya, bukit-bukit, dan garis pantai dalam satu lanskap. Lokasi ini juga disebut sebagai salah satu titik terbaik untuk menikmati matahari terbit dan matahari terbenam di atas Teluk Labuan Bajo.

Selain panorama, kawasan Parapuar diketahui memiliki gua dan mata air alami yang menjadi bagian dari daya tarik wisata. RRI melaporkan bahwa unsur-unsur alam ini diikutsertakan dalam narasi pengembangan destinasi yang menekankan konservasi, sehingga wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga mengenali fungsi ekologis kawasan.

BPOLBF menyebut saat ini sudah ada dua titik yang dibuka untuk publik, yaitu Natas Parapuar dan Taman Parapuar. Natas Parapuar berada di ketinggian sekitar 238 meter di atas permukaan laut, sementara Taman Parapuar di sekitar 184 meter di atas permukaan laut. Kedua titik ini dikembangkan sebagai area rekreasi luar ruang dan titik pandang utama di dalam kawasan.

Dalam beberapa pernyataan sebelumnya, BPOLBF menegaskan bahwa pengembangan Parapuar akan mengikuti prinsip keberlanjutan, termasuk pembatasan pemanfaatan lahan dan penerapan pengelolaan pengunjung. Otorita ini menekankan pentingnya menjaga penutupan vegetasi hutan dan menggunakan skema penanaman kembali untuk mengimbangi pembangunan fasilitas wisata.

Sejumlah laporan pemantau independen tetap menyoroti bahwa klaim ramah lingkungan di Parapuar perlu diawasi. Mereka menilai bahwa rencana pembangunan fasilitas dan perubahan tata guna lahan di Hutan Nggorang Bowosie harus dikaji dampaknya terhadap ekosistem dan akses masyarakat lokal. Perdebatan mengenai sejauh mana pengembangan Parapuar benar-benar berbasis konservasi menunjukkan bahwa proses pengawasan publik masih berjalan.

Dengan posisi di atas kota dan di dalam kawasan hutan produksi, Parapuar berpotensi menjadi salah satu titik utama wisata darat di Labuan Bajo. Keberhasilan konsep konservasi hutan yang dipadukan dengan panorama akan bergantung pada konsistensi penerapan prinsip keberlanjutan serta keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Pariwisata & TN Komodo

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.