Kabar Labuan Bajo

Selasa, 22 September 2026

Seberapa Parah Kemiskinan Manggarai Barat dan Apa Peran Pariwisata Labuan Bajo?

Kemiskinan di Manggarai Barat, termasuk Labuan Bajo, menurun pelan tetapi jumlah penduduk miskin masih sekitar 50 ribu orang.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Deretan perahu nelayan tradisional bersandar di perairan tenang di bawah awan putih besar.
Ilustrasi: Deretan perahu nelayan tradisional bersandar di perairan tenang di bawah awan putih besar. · Foto: arif wijaya / Pexels

Kemiskinan di Kabupaten Manggarai Barat, termasuk Labuan Bajo, menurun pelan tapi jumlah penduduk miskin masih bertambah. Menurut BPS Manggarai Barat, 2024 persentase penduduk miskin mencapai 16,74 persen atau sekitar 50,68 ribu jiwa, dengan garis kemiskinan Rp 458.834 per kapita per bulan (BPS Manggarai Barat, 2024; laporan Bappeda Manggarai Barat, 2024).

Seberapa besar kemiskinan di Manggarai Barat sekarang?

Badan Pusat Statistik (BPS) Manggarai Barat mencatat jumlah penduduk miskin pada 2024 sekitar 50.680–50,68 ribu orang, atau 16,74 persen dari penduduk kabupaten (BPS Manggarai Barat, 2024; Patrolipost, 2025). Secara persentase turun dari 16,82 persen pada 2023 dan 17,15 persen pada 2022, namun secara jumlah orang miskin relatif stagnan dan sedikit bertambah (laporan Bappeda Manggarai Barat, 2024).

Apa yang dimaksud garis kemiskinan di Manggarai Barat?

Menurut BPS Manggarai Barat, garis kemiskinan 2024 ditetapkan sebesar Rp 458.834 per kapita per bulan (BPS Manggarai Barat, 2024; Patrolipost, 2025). Rumah tangga dengan pengeluaran per orang per bulan di bawah angka ini dikategorikan miskin. Dengan asumsi empat anggota keluarga, dibutuhkan sekitar Rp 1,8 juta per bulan agar satu keluarga keluar dari status miskin menurut garis kemiskinan 2024 (Patrolipost, 2025).

Bagaimana tren kemiskinan Manggarai Barat dalam beberapa tahun?

Laporan kajian Regional Diagnostic Bappeda Manggarai Barat menyebut proporsi penduduk miskin turun dari 17,15 persen pada 2022 menjadi 16,82 persen pada 2023 dan 16,74 persen pada 2024 (Bappeda Manggarai Barat, 2024). Namun jumlah penduduk miskin dalam ribu orang relatif stagnan di sekitar 49,95 ribu pada 2022–2023 dan naik menjadi 50,68 ribu pada 2024 (Bappeda Manggarai Barat, 2024). BPS mencatat indeks kedalaman kemiskinan (P1) juga turun dari 4,44 pada 2022 menjadi 3,59 pada 2023 dan 3,41 pada 2024 (Patrolipost, 2025).

Bagaimana kaitan pariwisata Labuan Bajo dengan kemiskinan?

Kajian akademik tentang pariwisata Labuan Bajo menunjukkan peningkatan kunjungan wisatawan berdampak positif terhadap perkembangan usaha hotel, restoran, kafe, dan tempat hiburan, serta penyerapan tenaga kerja lokal (Gulawentah Jurnal Studi Sosial, 2020). Studi itu menyimpulkan sektor pariwisata memberi andil besar pada peningkatan ekonomi masyarakat Manggarai Barat, khususnya di Labuan Bajo, melalui perluasan usaha jasa dan lapangan kerja (Gulawentah Jurnal Studi Sosial, 2020).

Laporan media lokal menyebut pada 2024 total wisatawan ke Labuan Bajo sekitar 411.349 orang dan pada 2025 mencapai sekitar 500 ribu orang, dengan kontribusi ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) Manggarai Barat sekitar Rp 2,33 miliar pada 2025 menurut Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat (Labuan Bajo Today, 2026). Angka ini menunjukkan pariwisata menjadi salah satu sumber penerimaan daerah, meski belum menghapus kemiskinan sepenuhnya.

Apakah pertumbuhan ekonomi Manggarai Barat mengurangi kemiskinan?

Publikasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) BPS Manggarai Barat 2019–2023 menunjukkan nilai PDRB atas dasar harga berlaku terus meningkat, mencerminkan pertumbuhan aktivitas ekonomi di berbagai lapangan usaha, termasuk jasa dan pariwisata (BPS Manggarai Barat, 2024). Laporan analisis ekonomi daerah menyebut pertumbuhan ekonomi Manggarai Barat meningkat dalam lima tahun terakhir dan disertai penurunan persentase penduduk miskin (Patrolipost, 2025).

Namun Bappeda Manggarai Barat mencatat bahwa meski persentase kemiskinan menurun, jumlah penduduk miskin tetap sekitar 50 ribu orang dan kelompok miskin ekstrem masih sekitar 2,93 persen dari penduduk, sehingga manfaat pertumbuhan belum menjangkau semua rumah tangga (Bappeda Manggarai Barat, 2024; Patrolipost, 2025).

Faktor apa yang dijelaskan pemerintah daerah terkait kemiskinan?

Laporan diagnostik Bappeda Manggarai Barat menilai penurunan proporsi penduduk miskin berkaitan dengan peningkatan pendapatan masyarakat dan efektivitas sebagian program perlindungan sosial daerah, tetapi juga menyoroti ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan masih tingginya angka kemiskinan absolut (Bappeda Manggarai Barat, 2024). Media lokal mengutip DPRD Manggarai Barat yang menyinggung ketimpangan ekonomi dan pengangguran di tengah tren penurunan persentase kemiskinan (Detik Bali Nusra, 2025).

Dalam laporan yang sama, disebut bahwa garis kemiskinan yang relatif tinggi dibanding pendapatan sebagian besar rumah tangga membuat sebagian warga tetap rentan jatuh kembali ke kemiskinan bila terjadi guncangan seperti bencana, sakit, atau kehilangan pekerjaan (Patrolipost, 2025). Hal ini relevan bagi Labuan Bajo dan wilayah lain di Manggarai Barat yang bergantung pada pariwisata dan sektor informal.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Data Mabar

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.