Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Asita NTT: Pariwisata Labuan Bajo Normal Sebulan Pascagempa

Sekitar satu bulan setelah gempa 15 Agustus 2026, Asita NTT dan BPOLBF melaporkan aktivitas pariwisata Labuan Bajo kembali normal.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Labuan Bajo — Aktivitas pariwisata di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dilaporkan kembali normal sekitar satu bulan setelah gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Menurut Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) NTT dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), reservasi wisata kembali masuk dan destinasi utama telah dibuka kembali.

Ketua Asita NTT Oyan Kristian menyatakan agen perjalanan yang tergabung dalam asosiasi kembali menerima pesanan dan melayani wisatawan yang datang maupun berangkat dari Labuan Bajo setelah sempat terjadi penundaan pascagempa. Dalam wawancara yang dikutip Bisnis.com, ia menjelaskan bahwa destinasi wisata di sekitar Labuan Bajo telah kembali dibuka, reservasi mulai masuk, dan wisatawan sudah kembali datang dan pergi.

Bisnis.com mencatat, dalam periode segera setelah gempa, anggota Asita NTT menerima 44 pembatalan dan perubahan rencana perjalanan. Menurut Oyan, sebagian wisatawan memilih menunda perjalanan karena khawatir terhadap situasi kebencanaan di NTT. Agen perjalanan menawarkan penjadwalan ulang tanpa biaya tambahan dan pengembalian dana penuh bagi wisatawan yang membatalkan rencana perjalanan.

Destinasi dan pelayaran kembali dibuka

Tayangan berita Metro TV pada awal September 2026 menyebut sejumlah destinasi wisata di Labuan Bajo telah kembali dibuka dan mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Destinasi yang disebut antara lain Taman Nasional Komodo, Puncak Waringin, dan Pulau Kelor. Dalam laporan lain, Metro TV menampilkan aktivitas pelayaran wisata di Pelabuhan Labuan Bajo yang kembali normal, dengan kapal-kapal membawa wisatawan ke Pulau Komodo, Pulau Padar, dan lokasi wisata lain di Manggarai Barat.

BPOLBF, sebagaimana diberitakan Metro TV, memastikan aktivitas pariwisata di Labuan Bajo telah berjalan seperti sebelum gempa. Lembaga tersebut menyatakan bahwa pelayaran wisata, kunjungan ke destinasi unggulan, dan operasional Bandara Komodo telah kembali normal. Reporter Metro TV dalam program berita menyebut pariwisata di Labuan Bajo “sudah kembali normal seperti sedia kala”.

Oyan Kristian menilai Pulau Flores tetap aman dikunjungi wisatawan. Ia menekankan perlunya pemerintah dan otoritas terkait menyampaikan informasi yang jelas mengenai kondisi keamanan destinasi agar calon wisatawan mendapatkan kepastian sebelum melakukan perjalanan.

Dampak gempa dan data korban

Pemulihan sektor pariwisata berlangsung bersamaan dengan penanganan dampak gempa di wilayah terdampak NTT. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui konferensi pers yang dikutip sejumlah media nasional melaporkan bahwa hingga 15 September 2026, sekitar satu bulan setelah gempa, total korban meninggal dunia mencapai 142 orang.

Data BNPB yang diberitakan antara lain oleh Carapandang dan beberapa media daring menjelaskan 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sementara 94 orang meninggal di lokasi pengungsian karena dampak tidak langsung bencana. Laporan yang sama menyebut 46.461 jiwa masih bertahan di pengungsian pada pertengahan September 2026, turun dari lebih 150 ribu orang pada masa awal bencana.

Beberapa laporan televisi termasuk Metro TV juga menyoroti fasilitas publik di Manggarai Barat yang masih terdampak. RSUD Komodo disebut berangsur pulih, sementara sejumlah sekolah di kabupaten itu dilaporkan mengalami kerusakan dan membutuhkan pemulihan, di tengah upaya pemerintah daerah dan pusat memperbaiki sarana pendidikan.

Labuan Bajo tetap menjadi pintu masuk utama wisatawan ke Flores bagian barat. Dari kota ini, wisatawan melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Komodo, desa wisata seperti Wae Rebo, serta destinasi bahari dan budaya lain di Manggarai Barat. Di kawasan pesisir selatan, pemerintah juga mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Golo Mori sebagai bagian dari pengembangan pariwisata terpadu di NTT.

Satu bulan setelah gempa, pernyataan Asita NTT dan BPOLBF menunjukkan bahwa pemulihan aktivitas wisata di Labuan Bajo berjalan cepat. Namun, di wilayah terdampak lebih luas, proses rehabilitasi dan rekonstruksi bagi warga yang masih mengungsi dan infrastruktur yang rusak terus berlangsung.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.