Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Abu Anak Krakatau Belum Mengarah ke Labuan Bajo, BMKG Pantau Dampak

BMKG menyatakan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau pada awal September 2026 masih terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia dan belum mengarah ke Labuan Bajo.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Labuan Bajo — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 terkonsentrasi di wilayah Jawa dan Sumatera bagian selatan serta Samudra Hindia, dan belum terpantau mengarah ke wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk Labuan Bajo.

Menurut BMKG, citra satelit dan data pemantauan menunjukkan abu vulkanik terbagi dalam dua klaster sebaran dengan arah dominan ke timur laut–selatan dan barat daya–barat laut dari lokasi Anak Krakatau. Klaster pertama dari permukaan hingga sekitar 15.000–20.000 kaki bergerak ke arah timur laut–selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya. Klaster kedua, dari permukaan hingga sekitar 50.000 kaki, teridentifikasi bergerak ke arah barat daya–barat laut, meliputi wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, hingga Samudra Hindia di sebelah barat daerah tersebut.

Dalam penjelasan yang dirangkum dari berbagai rilis, BMKG menyebut wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur belum terdampak langsung oleh abu vulkanik pada periode pemantauan tersebut. Posisi sebaran abu yang masih berada di sekitar Selat Sunda, Jawa bagian barat, dan pesisir Sumatera bagian selatan dinilai membuat kawasan Nusa Tenggara Timur, termasuk Labuan Bajo, berada di luar area utama paparan abu vulkanik.

Kondisi cuaca Labuan Bajo dan potensi dampak tidak langsung

BMKG melalui prakiraan cuaca sepekan untuk periode 8–14 September 2026 menyebutkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur, berada dalam kondisi cuaca yang bervariasi, namun tanpa indikasi langsung terdampak sebaran abu Anak Krakatau. Dalam dokumen tersebut, BMKG menekankan bahwa abu vulkanik dan asap masih terpantau terutama di sekitar kawasan barat Indonesia.

Cuaca yang relatif kondusif di Labuan Bajo tidak otomatis menjamin seluruh penerbangan menuju atau dari Bandara Komodo berjalan normal. Penutupan sementara sejumlah bandara di wilayah terdampak abu vulkanik di Jawa dan Sumatera menyebabkan gangguan rotasi pesawat dan penyesuaian jadwal di berbagai rute penerbangan.

Kementerian Perhubungan dan BMKG melaporkan penutupan sementara serta pembatasan operasional di beberapa bandara besar, termasuk Soekarno-Hatta di Tangerang dan bandara lain di Banten dan Lampung, sebagai tindak lanjut hasil paper test yang menunjukkan adanya sebaran abu vulkanik di area bandara. Kebijakan tersebut berimbas pada pembatalan, penundaan, dan pengalihan penerbangan dengan total ratusan jadwal dan puluhan ribu penumpang terdampak.

Dalam situasi seperti ini, gangguan penerbangan menuju Labuan Bajo lebih mungkin terjadi sebagai dampak berantai dari penutupan atau pembatasan operasional di bandara asal pesawat, bukan karena kondisi cuaca lokal. Calon penumpang diimbau untuk memantau informasi resmi dari maskapai, pengelola bandara, dan otoritas penerbangan terkait status penerbangan, meskipun cuaca di Labuan Bajo tetap terlihat cerah berawan atau tidak menunjukkan gangguan signifikan.

Arah angin dan pergerakan abu vulkanik

BMKG menjelaskan bahwa pergerakan abu vulkanik Anak Krakatau sangat dipengaruhi oleh pola angin pada berbagai lapisan atmosfer. Pada rentang ketinggian hingga sekitar 7.000 kaki, BMKG mendapati abu bergerak ke arah selatan–barat daya dengan kecepatan sekitar 5–10 knot, mencakup sebagian Banten bagian barat laut dan Samudra Hindia barat laut Banten. Di lapisan yang lebih tinggi, hingga sekitar 50.000 kaki, abu terpantau menjauhi daratan Indonesia dan bergerak lebih jauh ke Samudra Hindia.

Pola angin tersebut membuat abu vulkanik cenderung menyebar di sekitar Selat Sunda, pesisir selatan Sumatera, dan perairan barat Jawa, bukan ke arah timur yang mengarah ke Nusa Tenggara. BMKG menekankan perlunya pemantauan berkelanjutan karena arah dan kecepatan angin di atmosfer dapat berubah seiring waktu, sehingga analisis citra satelit dan data observasi terus diperbarui untuk mendukung keselamatan penerbangan.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.