661 Ruang Kelas Rusak di Manggarai Barat, KBM Tetap Berjalan Terbatas
Sebanyak 661 ruang kelas di Manggarai Barat dilaporkan rusak akibat gempa. Dinas Pendidikan NTT menyebut sekolah tetap berjalan dengan pembelajaran terbatas dan dukungan tenda darurat.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Labuan Bajo — Kegiatan belajar mengajar di sekolah terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Barat tetap berlangsung secara terbatas, meski 661 ruang kelas dilaporkan rusak. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nusa Tenggara Timur, Ambrosius Kodo, menyampaikan data itu dalam pemberitaan yang terbit pada 11 September 2026.
Dalam laporan tersebut, data kerusakan mencakup 91 ruang kelas rusak total, 172 rusak berat, 256 rusak sedang, dan 142 rusak ringan. Ambrosius juga mengatakan pembelajaran diatur terbatas agar sekolah tetap berjalan tanpa memusatkan banyak siswa di satu tempat.
Ia menyebut pembatasan itu diterapkan pada jumlah kelas, jumlah siswa, dan durasi jam pelajaran. Untuk jenjang tertentu, siswa kelas 12 menjadi salah satu prioritas agar tetap memperoleh layanan belajar di tengah kondisi pascabencana.
Ambrosius menambahkan, kehadiran siswa di sekolah tidak semata untuk mengejar materi pelajaran. Menurut dia, aktivitas belajar bersama guru dan teman sebaya juga menjadi bagian dari pemulihan psikososial setelah gempa yang mengguncang Flores bagian barat.
Di pemberitaan lain yang terbit pada 15 September 2026, Ambrosius menjelaskan bahwa setelah dua pekan pertama masa tanggap darurat, pemerintah mulai menerapkan pembelajaran terbatas di wilayah terdampak gempa Flores. Ia menyebut pembelajaran tatap muka diprioritaskan bagi siswa kelas 3, sementara siswa kelas 10 dan 12 diarahkan belajar daring bila memungkinkan.
Untuk sekolah yang ruang belajarnya belum aman dipakai, pembelajaran dilakukan di sekitar sekolah dengan tenda darurat. Ambrosius juga menegaskan kegiatan belajar tidak boleh berlangsung di ruang kelas yang belum dipastikan aman.
Data kerusakan yang dipublikasikan itu menunjukkan total 661 ruang kelas di Manggarai Barat terdampak. Angka tersebut menggambarkan beban pemulihan pendidikan yang masih ditangani di kabupaten itu, terutama pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Pada laporan 14 September 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah disebut telah menyiapkan bantuan tenda kelas darurat untuk sekolah terdampak di Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, pada 15 September 2026, Kepala Pelaksana BPBD Manggarai Barat Oktavianus Andi Bona mengatakan terpal dan tenda untuk sekolah disalurkan melalui Dinas Pendidikan dan dapat dikoordinasikan oleh pihak sekolah sesuai kebutuhan.
Sumber
Berita berikutnya
Kemenkes Catat 25.017 Kasus ISPA Pascagempa NTT di Flores
Kementerian Kesehatan mencatat 25.017 kasus ISPA sebagai keluhan kesehatan tertinggi di wilayah terdampak gempa dan tsunami NTT hingga 10 September 20…

