Status Darurat Berakhir, EMT Muhammadiyah Layani 2.222 Pasien
Status tanggap darurat pascagempa di Manggarai Barat berakhir pada 28 Agustus 2026 setelah berjalan 14 hari.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Status tanggap darurat bencana pascagempa di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, berakhir setelah berlangsung 14 hari, sejak 15 hingga 28 Agustus 2026. Selama periode layanan 17–28 Agustus 2026, Rumah Sakit Lapangan Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah mencatat telah menangani 2.222 pasien penyintas gempa.
Informasi mengenai layanan EMT Muhammadiyah itu berasal dari laporan pelayanan kesehatan yang diterima Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu). Menurut Muhammadiyah, tim medis melanjutkan pelayanan kesehatan melalui Program Indonesia Siaga selama masa penugasan sekitar 30 hari di wilayah terdampak gempa bumi Flores.
Penetapan dan masa berlaku status tanggap darurat di Manggarai Barat disampaikan Lazismu dan jaringan kemanusiaan kesehatan. Mereka menjelaskan bahwa Bupati Manggarai Barat menetapkan keadaan darurat bencana melalui Surat Keputusan Nomor 229/KEP/HK/2026 untuk jangka waktu 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026.
Data penyintas dan pengungsi
Data pengungsi dan penyintas gempa NTT yang digunakan EMT Muhammadiyah dan Lazismu merujuk pada pembaruan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 31 Agustus 2026. Menurut laporan media yang mengutip paparan BNPB, jumlah pengungsi di tujuh kabupaten terdampak mencapai 183.673 jiwa per 31 Agustus 2026.
Rincian itu menunjukkan sebaran pengungsi terbesar di Pulau Flores. Kabupaten Nagekeo dan Manggarai masing-masing menampung lebih dari 50 ribu jiwa, sementara Manggarai Timur sekitar 30 ribu jiwa. Adapun Manggarai Barat tercatat memiliki 27.564 pengungsi, diikuti Ngada 19.394 jiwa, Sikka 5.658 jiwa, serta wilayah lain di NTT sekitar 4.317 jiwa.
BNPB menyampaikan bahwa angka pengungsi 183.673 jiwa pada 31 Agustus mengalami penurunan signifikan menjadi 72.864 jiwa per 7 September 2026 seiring dimulainya tahap transisi pemulihan. Namun, puluhan ribu warga masih tinggal di hunian sementara menunggu perbaikan rumah dan pemulihan layanan dasar.
Layanan kesehatan EMT Muhammadiyah
EMT Muhammadiyah mengoperasikan rumah sakit lapangan bertipe EMT Fixed dan EMT Mobile dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memperkuat layanan kesehatan esensial di kawasan terdampak gempa. Menurut laporan Muhammadiyah, dalam periode 17–28 Agustus 2026 rumah sakit lapangan di Dampek dan sekitarnya telah memberikan layanan kepada 2.222 pasien.
Dari jumlah itu, 1.328 pasien adalah perempuan dan 894 laki-laki. Kelompok usia pasien terdiri atas 54 bayi, 128 balita, 178 anak, 78 remaja, 1.317 orang dewasa, dan 467 lansia. Ada 13 ibu hamil yang mendapatkan layanan kesehatan di rumah sakit lapangan tersebut.
Diagnosis terbanyak yang ditangani tim medis dalam periode itu meliputi infeksi saluran pernapasan, nyeri otot dan pegal-pegal, hipertensi, gangguan nyeri di sekitar perut, serta sakit kepala dan nyeri leher. Laporan Lazismu menegaskan bahwa dukungan layanan kesehatan dan dukungan psikososial masih dibutuhkan karena banyak penyintas mengalami tekanan mental pascabencana.
Dari tanggap darurat ke pemulihan
Berakhirnya masa tanggap darurat bencana di Manggarai Barat pada 28 Agustus 2026 menandai peralihan penanganan dari fase kedaruratan menuju pemulihan. Pada saat status darurat provinsi dan kabupaten berakhir, pemerintah daerah dan pemerintah provinsi mulai mengarahkan kebijakan ke penataan hunian sementara, pemulihan layanan pendidikan, serta perbaikan fasilitas kesehatan dan infrastruktur terdampak.
Pemerintah Provinsi NTT menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari, sejak 15 hingga 28 Agustus 2026, sebagaimana diatur dalam Keputusan Gubernur NTT Nomor 305/KEP/HK/2026. Setelah masa itu, fokus penanganan bergeser ke rehabilitasi dan rekonstruksi sambil tetap menjaga layanan kesehatan bagi penyintas di pengungsian.
EMT Muhammadiyah dan jejaring relawan kesehatan menyatakan akan tetap memberikan layanan di rumah sakit lapangan dan pos-pos kesehatan setidaknya sampai 30 hari pertama respons gempa, sembari menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah dan kebutuhan di lapangan.
Sumber
Berita berikutnya

Setahun Kodim 1630 Manggarai Barat, Pemkab Soroti Kontribusi
Kodim 1630/Manggarai Barat memperingati HUT pertama pada 19 September 2026.
Baca juga



