Tanah Werang Temukan Sumber Air Setelah Delapan Kali Pengeboran
Warga Desa Tanah Werang di Flores Timur menemukan sumber air tanah pada pengeboran kedelapan setelah tujuh upaya sebelumnya gagal.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Flores Timur — Masyarakat Desa Tanah Werang, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, menemukan sumber air tanah pada titik pengeboran kedelapan pada 28 Agustus 2026 setelah melalui upaya panjang mencari air bersih selama puluhan tahun.
Menurut laporan RRI.co.id, pengeboran dilakukan sebanyak delapan kali. Tujuh titik pertama belum menghasilkan sumber air yang diharapkan, sebelum pengeboran kedelapan menemukan sumber air yang kini mengalir dan mulai dimanfaatkan warga.
Sebelum penemuan ini, warga Tanah Werang mengandalkan pembelian air bersih. RRI.co.id mencatat sekitar 668 jiwa atau 180 rumah tangga menjadi penerima manfaat awal sumber air tersebut. Warga membeli air dengan harga sekitar Rp35 ribu per drum, dengan total pengeluaran diperkirakan sekitar Rp6,3 juta per hari atau lebih dari Rp2,2 miliar per tahun.
Beban pengeluaran itu menjadikan penemuan sumber air sebagai perubahan penting bagi kehidupan sehari-hari warga. Namun, pemanfaatan sumber air belum otomatis menjamin layanan permanen karena masih dibutuhkan jaringan distribusi dan fasilitas pendukung.
Perjuangan panjang mencari air
RRI.co.id menggambarkan perjuangan warga Tanah Werang untuk mendapatkan air bersih berlangsung sejak beberapa dekade lalu. Pada 1975 hingga 1998, masyarakat bergotong royong menggali sumur secara manual untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Upaya mencari sumber air tanah dalam kembali dilakukan sejak 2017 dan berlanjut hingga 2026. Rentang waktu itu menunjukkan bahwa persoalan air di Tanah Werang menjadi agenda bersama warga dan pemerintah desa lintas periode.
Bupati Flores Timur Doni Dihen dalam sebuah kegiatan peresmian di Tanah Werang menyebut perjuangan masyarakat mencari air sebagai “emas”, merujuk pada nilai penting sumber air bagi warga. Menurutnya, penemuan sumber air menjadi momentum untuk merayakan ketekunan masyarakat dan pemerintah desa yang tidak menyerah meski berkali-kali gagal.
Delapan pengeboran dan anggaran miliaran
Menurut laporan RRI.co.id, pencarian air tanah dilakukan melalui rangkaian pengeboran yang menghabiskan anggaran lebih dari Rp2,8 miliar. Dana berasal dari kombinasi sumber pembiayaan, antara lain dana desa, swadaya masyarakat di dalam dan luar desa, dukungan pemerintah daerah, serta bantuan berbagai lembaga dan mitra.
Rangkaian pengeboran itu menunjukkan besarnya komitmen pendanaan yang dialokasikan untuk menjawab kebutuhan dasar air bersih di Tanah Werang. Meski tujuh pengeboran pertama belum berhasil, pemerintah desa dan masyarakat tetap melanjutkan upaya hingga akhirnya menemukan sumber air pada titik kedelapan.
Data utama dalam laporan RRI.co.id meliputi jumlah penerima manfaat awal sekitar 668 jiwa atau 180 rumah tangga, harga air sekitar Rp35 ribu per drum, pengeluaran kolektif sekitar Rp6,3 juta per hari, serta total anggaran pengeboran yang melampaui Rp2,8 miliar.
Infrastruktur air bersih masih dikembangkan
Setelah sumber air ditemukan, pemerintah daerah menyatakan akan melengkapi fasilitas pendukung agar air dapat dimanfaatkan secara optimal oleh warga Tanah Werang. Menurut RRI.co.id, fasilitas yang direncanakan mencakup instalasi pengaliran dan bak penampung untuk mendistribusikan air ke rumah-rumah.
Rincian teknis seperti kapasitas instalasi, panjang jaringan distribusi, dan jadwal pembangunan belum dijabarkan dalam laporan tersebut. Kejelasan mengenai aspek itu penting untuk memastikan layanan air dapat menjangkau seluruh rumah tangga penerima manfaat.
Pengelolaan instalasi akan menentukan bagaimana biaya operasi dan pemeliharaan ditanggung, serta bagaimana pembagian layanan dilakukan di tingkat desa. Hingga kini, laporan RRI.co.id belum memuat hasil pengujian kualitas air maupun angka debit sumber air secara terukur.
Penemuan sumber air tanah di Tanah Werang membuka peluang bagi pengurangan ketergantungan warga terhadap pembelian air dalam jangka panjang. Jika pembangunan fasilitas pendukung berjalan sesuai rencana dan pengelolaan layanan disepakati bersama, sumber tersebut berpotensi menjadi bagian dari layanan air bersih yang lebih mantap bagi masyarakat Tanah Werang.
Sumber
Berita berikutnya

Kemdiktisaintek Siapkan Pembebasan UKT untuk 5.000 Mahasiswa NTT
Kemdiktisaintek menyiapkan pembebasan UKT satu semester bagi 5.000 mahasiswa terdampak gempa di NTT. Pemerintah membuka kemungkinan memperpanjang bant…
Baca juga



