Kabar Labuan Bajo

Senin, 21 September 2026

Stok Beras Bulog Alor 1.500 Ton dan Ujian Akses Gerakan Pangan Murah

Bulog memastikan stok beras sekitar 1.500 ton di Gudang Kalabahi dan menyalurkannya melalui Gerakan Pangan Murah di Alor.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan Bajo — Perum Bulog memastikan stok beras di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, dalam kondisi aman dengan ketersediaan sekitar 1.500 ton di Gudang Bulog Kalabahi pada Minggu, 9 Agustus 2026. Stok tersebut digunakan untuk memperkuat penyaluran beras melalui berbagai saluran, termasuk Gerakan Pangan Murah, guna menjaga pasokan dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat Alor.

Menurut laporan lembaga penyiaran publik, kegiatan GPM pada 9 Agustus 2026 digelar di GBI Filadelfia Mali dan Gereja Ebenhaeser Hula, Alor. Dalam kegiatan itu, Bulog bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait untuk menghadirkan beras dengan harga terjangkau bagi warga.

Kepala Divisi Penjualan Pasar Pemerintah Perum Bulog, Fauzan Dipo Pribadi, menyatakan stok sekitar 1.500 ton di Alor menjadi modal untuk terus menggerakkan penyaluran beras kepada masyarakat, bukan sekadar menyimpan di gudang. Ia menekankan pentingnya koordinasi agar GPM dapat dilaksanakan secara masif dan menjangkau kelompok yang membutuhkan.

Stok Aman, Akses Masih Perlu Diawasi

Informasi stok 1.500 ton memberi gambaran ketersediaan beras di tingkat gudang Kalabahi. Namun, ketersediaan di gudang tidak otomatis berarti seluruh desa, pulau, dan rumah tangga rentan telah terlayani.

Penyaluran melalui GPM di dua rumah ibadah di wilayah Mali dan Hula menunjukkan upaya mendekatkan pangan ke warga, tetapi belum menjawab pertanyaan tentang jangkauan layanan ke wilayah lain di Alor yang berkarakter kepulauan. Tanpa data rinci tentang lokasi, volume, dan profil penerima, sulit menilai apakah GPM telah menyentuh desa dan pulau yang lebih jauh dari pusat kegiatan.

Catatan Badan Pangan Nasional menunjukkan bahwa selama Maret–Juli 2026 penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Kabupaten Alor mencapai lebih dari 764 ton melalui berbagai saluran, termasuk Rumah Pangan Kita, pengecer di pasar rakyat, dan GPM. Angka ini menegaskan bahwa stok di gudang memang digerakkan, tetapi tetap menyisakan pertanyaan mengenai pemerataan akses antarwilayah dalam satu kabupaten.

Distribusi Mengikuti Geografi Kepulauan

Kondisi NTT yang didominasi wilayah kepulauan membuat distribusi beras bergantung pada koordinasi antara Bulog, pemerintah daerah, dan lembaga pangan nasional. Untuk Alor, titik layanan yang mudah dijangkau perlu dipahami secara konkret: siapa yang dapat datang, dari wilayah mana, pada waktu apa, dan dengan ongkos berapa.

Dalam praktiknya, GPM di Alor tidak hanya berlangsung di Mali dan Hula. Pada pertengahan September 2026, Bulog Kalabahi bersama Dinas Pangan dan mitra lokal kembali menggelar GPM di Desa Alor Kecil dengan menurunkan beras SPHP khusus untuk masyarakat desa tersebut. Kegiatan lanjutan ini menunjukkan upaya memperluas titik layanan, sekaligus menggarisbawahi pentingnya jadwal dan lokasi yang konsisten agar warga dapat merencanakan belanja pangan.

Keberhasilan distribusi beras murah di wilayah kepulauan ditentukan oleh seberapa cepat stok digerakkan keluar gudang, seberapa luas sebaran titik layanan, dan seberapa besar bagian dari rumah tangga berpendapatan rendah yang benar-benar dapat membeli beras tersebut. Tanpa transparansi mengenai jadwal, lokasi, dan kelompok sasaran, klaim bahwa pangan telah “didekatkan” kepada masyarakat tetap sulit diuji oleh publik.

Deflasi NTT dan Kerentanan Pangan

Badan Pusat Statistik Provinsi NTT mencatat deflasi sebesar 0,40 persen pada Agustus 2026, dengan penurunan indeks harga terutama pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 1,13 persen dan memberi andil minus 0,43 persen terhadap deflasi provinsi. Secara tahunan, inflasi NTT pada Agustus 2026 tercatat 2,59 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih memberi andil positif terhadap inflasi.

Di tingkat nasional, BPS melaporkan inflasi tahunan Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang terbesar melalui kenaikan harga sejumlah komoditas termasuk beras. Data ini menunjukkan bahwa meski NTT sempat mengalami deflasi, pangan tetap menjadi kelompok pengeluaran yang sensitif terhadap dinamika pasokan dan distribusi.

Angka inflasi provinsi dan nasional tidak serta-merta menggambarkan kondisi harga dan daya beli di setiap wilayah Alor. Evaluasi atas operasi GPM dan penyaluran beras Bulog di Alor idealnya menggunakan indikator yang lebih dekat dengan warga: perubahan harga di titik penjualan, ongkos menuju lokasi, kesinambungan pasokan, serta keterjangkauan bagi rumah tangga berpendapatan rendah di pulau-pulau yang tersebar.

Stok 1.500 ton di gudang Kalabahi adalah modal penting untuk menjaga stabilitas pasokan. Namun, ujian utama bagi GPM di Alor adalah sejauh mana stok tersebut bergerak melintasi geografi kepulauan dan benar-benar hadir di meja makan keluarga yang paling rentan.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.